Baku Tembak Gangster India di Pengadilan, 3 Tewas

Foto ilustrasi penembakan. (iStockphoto/FluxFactory)


Tiga orang tewas akibat insiden baku tembak di ruang sidang New Delhi, Jumat (24/9). Pelaku dan korban dikabarkan bagian dari dua kelompok gangster di India.
Menurut keterangan polisi, insiden ini terjadi ketika tersangka kasus, yang mana adalah pemimpin geng, muncul di pengadilan. Tak lama setelah itu, dua pria yang menyamar menggunakan pakaian seperti pengacara menembak kepala geng itu.

Komisaris Polisi New Delhi Rakesh Asthana mengatakan, kedua penembak diduga merupakan anggota geng saingan si kepala gangster. Polisi juga membalas tembakan ini dan menewaskan kedua penyerang, dikutip Reuters.


Insiden ini membuat banyak orang panik dan berlarian untuk mencari perlindungan kala penembakan.

Menanggapi peristiwa ini, salah satu pejabat Pengadilan Rohini Arun Kumar berpendapat, pengacar yang masuk ke ruang sidang harus diberikan kartu identitas khusus. Tujuannya, agar risiko peniruan identitas semakin berkurang.

Presiden Asosiasi Pengacara New Delhi Sanjeev Nasiar mengatakan, pihaknya akan meninjau langkah keamanan yang sesuai untuk pengacara yang datang ke pengadilan. Tak hanya itu, pengacara juga tak akan bekerja pada Sabtu.

India merupakan salah satu negara di Asia. Total populasi negara ini mencapai 1,38 miliar orang, bersumber dari World Bank.

Selain masalah gangster, negara ini memiliki beberapa masalah lingkungan. Beberapa diantaranya adalah pengendalian pencemaran udara, konservasi energi, pengelolaan limbah padat, konservasi minyak dan gas bumi, dan konservasi hutan, dilansir laman resmi pemerintah India.

Tak hanya itu, India memiliki konflik wilayah dengan China, yakni di Ladakh. India juga masuk dalam Quadrilateral Security Dialogue (Quad), yang mana adalah kelompok kemitraan strategis antara AS, India, Jepang, dan Australia yang terjalin sejak 2007.


Sumber : cnnindonesia.com

Hasil Kualifikasi Piala Asia Wanita: Indonesia 1-0 Singapura

Timnas putri Indonesia merayakan gol ke gawang Singapura. (dok.pssi)

Timnas sepak bola putri Indonesia menang 1-0 atas Singapura dalam kualifikasi Piala Asia 2022 yang berlangsung di Stadion Republican Central, Dushanbe, Tajikistan, Jumat (24/9) malam waktu Indonesia.
Tim Garuda Pertiwi memimpin 1-0 pada menit ketiga melalui gol yang tercipta dari penyerang Baiq Aimatun Shalihah.

Timnas Indonesia bermain dengan tempo rendah. Bermain sabar dari belakang membangun serangan. Sementara Singapura berupaya bermain cepat.


Tiap kali memegang bola, anak asuh Rudy Eka Priyambada memainkan bola ke sisi kanan atau kiri sebelum melepas umpan ke lini tengah atau langsung mengirim umpan panjang.

Ketiadaan pemain Singapura yang melakukan pressing cukup membuat pemain Indonesia nyaman memainkan bola.

Namun di sisi lain pemain-pemain Singapura juga tampak berbahaya ketika menguasai bola dan berupaya memanfaatkan bola-bola terobosan. Beruntung bagi Timnas Indonesia karena umpan-umpan skuad Lioness tidak akurat dan kecepatan pemain Singapura masih dapat diimbangi.

Pada babak kedua Singapura mencoba melakukan pressing dan bermain lebih berani sehingga Indonesia tidak begitu mendominasi seperti pada babak pertama. Sebuah peluang sempat didapat Singapura dari tendangan bebas di sisi kiri pertahanan Indonesia.

Ade Mustikiana dan kawan-kawan mampu mengatasi keadaan dan kembali bermain menyerang. Sebuah peluang diperoleh Safira Ika Putri yang bermula dari tendangan bebas. Tendangan Safira dari luar kotak penalti masih bisa ditepis kiper Singapura.

Zahra Musdalifah memiliki peluang emas pada menit ke-64 untuk menggandakan keunggulan, setelah terjadi kesalahan koordinasi di lini belakang Singapura. Skor tak berubah karena Zahra gagal mengarahkan bola ke gawang.

Peluang lain didapat Firanda pada menit ke-89. Lagi-lagi kesalahan koordinasi Singapura gagal dimanfaatkan. Sepakan Firanda masih bisa diamankan kiper lawan.

Setelah kemenangan 1-0, Indonesia akan kembali bertemu dengan Singapura pada laga yang akan berlangsung pada 27 September mendatang.

Indonesia hanya akan menghadapi Singapura dalam kualifikasi kali ini karena Korea Utara dan Irak mundur dari kompetisi.

Susunan pemain inti Timnas Indonesia:

Fani Supriyanto; Safira Ika Putri, Vivi Oktavia Riski, Ade Mustikiana, Tia Darti, Helsya Maeisyaroh, Viny Silfianus, Nurhayati Ngatiman, Sabrina Mutiara Wibowo, Baiq Amiatun Shaliha, Zahra Musdalifah


Sumber : cnnindonesia.com

Nasib Shang-Chi Mendulang Cuan dari Asia kala China Cuek

Perilisan Shang-Chi sebenarnya peluang emas menambang cuan dari Asia, bila tidak dalam kondisi pandemi dan China yang makin cuek dengan 'produk asing'. (dok. Jasin Boland/Marvel Studios/Walt Disney Studios Motion Pictures)

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings resmi rilis di benua Asia, pasar film terbesar di luar Amerika Utara. Sebuah peluang emas untuk menambang cuan, seandainya tidak dalam kondisi pandemi yang membuat Marvel dan Disney harap-harap cemas.
Asia sudah lama menjadi target Marvel mendulang cuan. Hal ini didasarkan fakta sebanyak 9 dari 20 pasar internasional terbesar di luar Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada) adalah negara-negara Asia, menurut laporan 2019 dari Motion Picture Association.

Sembilan negara tersebut tentu saja China, Jepang, Korea Selatan yang menempati posisi secara berurutan satu hingga tiga teratas daftar itu. Kemudian ada India, Taiwan, Indonesia, Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Hong Kong.


Kesembilan 'naga' ini pada 2019 --atau ketika pra-Covid-- menghasilkan box office gabungan sebesar US$16,6 miliar, dengan 56 persennya datang dari China. Bandingkan dengan delapan negara Eropa lainnya di daftar tersebut yang hanya mampu menghasilkan angka kolektif US$7,4 miliar.

Jejak Marvel mendekati China dan Asia juga sudah terlihat sejak sedekade lalu, atau lebih tepatnya kala Disney mulai mengatur distribusi penjualan film-film Marvel pada 2012. Marvel Entertainment diketahui dibeli Disney pada 2009.

Sejak era Avengers (2012), pasar Asia kerap didekati Marvel-Disney dengan berbagai cara, mulai dari jumpa media, jumpa penggemar, tur, berbagai gimmick marketing salah satunya video greeting di internet dan layar bioskop, hingga premier.

Masih segar dalam ingatan ketika Marvel-Disney memutuskan menayangkan film pamungkas tiga fase awal Marvel Cinematic Universe, Avengers: Endgame (2019), di China dua hari lebih awal dari Amerika Serikat.

Selain menghindari pembajakan film yang marak di pasar Asia, teknik ini jelas membuat penonton Asia merasa "terpilih" menjadi orang pertama yang tahu akhir dari Avengers, yang kemudian berpengaruh pada penjualan tiket.

Endgame pun meraih box office pembukaan US$175,9 juta di China, separuh dari pembukaan di Amerika Utara. Secara total, menurut Box Office Mojo, China menyumbang US$629,1 juta untuk Endgame. Sedangkan pasar domestik menyumbang US$858,3 juta.

Raihan menggiurkan itu kemudian coba kembali dilakukan Marvel-Disney untuk film awal Phase 4 MCU, Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings.

Penggemar Film Avengers di Bioskop CGV Grand Indonesia, Jakarta, Rabu, 24 April 2019 pagi. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Nasib Menggantung di Asia
Apalagi kisah film ini disebut Hollywood "Asia banget", meski faktanya lebih banyak berhubungan dengan China juga Mandarin dibanding budaya negara Asia lainnya. Bukan hanya dari cerita, mulai dari sutradara hingga pemain, didominasi orang berdarah Asia. Perlakuan ini sama kala Marvel-Disney memutuskan menggarap Black Panther.

Tapi saat itulah pandemi menyerang, dan dari China pula. Shang-Chi berkali-kali terpaksa menunda produksi dan penayangan.

Premier pun 'hanya' dilakukan di Los Angeles, lebih tepatnya di TCL Chinese Theater yang berarsitektur oriental. Seolah sebagai simbol identitas budaya yang diusung film ini, karena premier di China mustahil dilakukan di tengah pandemi.

Namun bukan cuma pandemi yang jadi halangan Shang-Chi. Adalah kebijakan China untuk cuek dalam mengizinkan penayangan film tersebut di negara dengan pasar box office terbesar di dunia itu.

Aksi China itu sebenarnya wajar. 

Perilisan Shang-Chi sebenarnya peluang emas menambang cuan dari Asia, bila tidak dalam kondisi pandemi dan China yang makin cuek dengan 'produk asing'. (Arsip Marvel Studios)

Sudah sejak lama China mengeluhkan merasa 'dijajah' oleh Hollywood. Mereka pun menerapkan sederet peraturan untuk melindungi perfilman lokal, dan mencegah uang penonton China lari ke AS.
Sederet peraturan tersebut mulai dari sensor hingga pembatasan jumlah film asing yang bisa tayang di China dalam setahun. Hal ini amat mungkin dilakukan mengingat pemerintah China mengendalikan segala aspek kehidupan masyarakatnya, apalagi cuma sekadar izin tayang film.

Shang-Chi pun apes. Momen perilisannya bertepatan dengan situasi politik internal China yang penuh sentimen terhadap produk asing, atau apapun yang dianggap Partai Komunis China tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya juga nasionalisme mereka.

Alhasil, Shang-Chi pun digantung di China. Padahal di sejumlah negara Asia lainnya, film ini mulai menguasai box office setempat. Seperti pada data Box Office Mojo pada 17-19 September, Shang-Chi berkuasa di Korea Selatan, Hong Kong, dan Singapura.

Namun dari tiga lokasi tersebut pun perolehan box office tidak optimal. Hanya Korea Selatan dan Hong Kong yang tembus angka satu juta dolar. Padahal pada kondisi normal, angka box office untuk film Marvel minimal belasan juta dolar di Korea.

Nasib Shang-Chi di Indonesia
Sementara itu, pasar film Asia besar lainnya juga masih tersendat-sendat akibat pandemi. Misalnya Indonesia yang baru boleh membuka bioskop pada 13 September 2021.

Di Indonesia, Shang-Chi mesti berhadapan dengan sederet film blockbuster lainnya dan memperebutkan penonton bioskop yang datang tak sampai 10 persen dari kuota kursi kala pandemi.


Meski tipis, Shang-Chi masih punya harapan. Data Box Office Mojo pada 17-19 September 2021 menunjukkan Black Widow menjadi film yang menguasai box office Indonesia pada akhir pekan pertama pembukaan bioskop, walau hanya senilai US$201 ribu.

Peluang Shang-Chi pun sejatinya masih lebar di bioskop Indonesia mengingat A Quiet Place Part II pernah mencetak angka box office US$1,9 juta pada Mei lalu.

Kini nasib Shang-Chi hanya bisa bergantung pada kondisi pandemi di negara-negara Asia, dan tentu saja keinginan penonton melepas ketakutan mereka kembali ke bioskop di tengah pandemi.

Bila kondisi kasus harian bisa terjaga atau melandai, bukan mustahil penonton secara perlahan kembali ke bioskop. Namun bila terjadi sebaliknya, maka 'rem' pun mesti ditarik kembali.

Tapi bukan Disney namanya bila tak memperhitungkan segala kemungkinan di tengah situasi pelik seperti ini. CEO Disney Bob Chapek memastikan Shang-Chi akan rilis di layanan streaming Disney Hotstar pada November 2021.

Keputusan itu sejatinya masih menguntungkan Disney walau Shang-Chi tak bisa punya performa maksimal di bioskop. Disney masih amat mungkin meraup keuntungan dari pasar Asia melalui streaming, apalagi di Indonesia.

Hal itu didasarkan data kuartal satu 2021 dari JustWatch yang diterima CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu, Disney Hotstar masih menjadi layanan streaming asing terbesar di Indonesia dengan cakupan 22 persen, unggul satu persen dari Netflix.

Jadi, kalaupun China cuek dan penonton di Indonesia tak jua berani ke bioskop, Shang-Chi masih bisa mengeluarkan jurus andalannya melalui layanan streaming dalam mengeruk cuan dari penonton meski baru terlihat pada November nanti.


Sumber : cnnindonesia.com

Mengenal Cancel Culture, Ramai-Ramai Memboikot Orang Lain



Cancel culture kini semakin sering digaungkan terutama di media sosial. Kenali selengkapnya mengenai cancel culture.(Foto: iStockphoto/wildpixel)


Media sosial akhir-akhir ini ramai dengan istilah cancel culture. Cancel culture kerap digaungkan terhadap sejumlah tokoh publik maupun label atau produk tertentu. Misalnya yang terbaru, aktor Johnny Depp merasa menjadi korban cancel culture.
Sebelumnya, produser Harvey Weintein di-cancel publik buntut kasus pelecehan seksual yang dilakukannya. Penulis JK Rowling juga pernah di-cancel karena berkomentar terkait transphobia. Di Indonesia, atlet esports Listy Chan juga pernah tersandung cancel culture sehingga membuatnya kehilangan kontrak pekerjaan.

Cancel culture umumnya dilakukan untuk menghilangkan pengaruh seseorang karena perilaku, karya atau perkataannya yang dianggap tak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.


Biasanya, cancel culture diberikan kepada publik figur yang terlibat skandal, memiliki lirik lagu yang dianggap tak sesuai dengan budaya, dianggap menyakiti negaranya sendiri, mengeluarkan pernyataan kontroversial atau sekadar tak disukai masyarakat.

Apa itu cancel culture?
Psikolog sekaligus tenaga pendidik di Universitas Gadjah Mada, Koentjoro mengatakan cancel culture sama dengan boikot. Publik figur atau orang yang memiliki pengaruh bisa tiba-tiba di-cancel atau ditolak karena dianggap tak lagi sejalan dengan keinginan masyarakat. Cancel culture biasanya digaungkan melalui media sosial, twitter atau dengan mengajukan petisi.

"Contohnya banyak, mereka yang di-cancel ini ya karena tiba-tiba mengeluarkan pernyataan yang menyakiti masyarakat, melakukan kejahatan, atau ya hal-hal seperti itu," kata Koentjoro saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (23/9).

Melansir dari The Private Theraphy Clinic, cancel culture merupakan evolusi dari istilah boikot yang telah dikenal masyarakat sejak lama. Budaya cancel culture ini disebut muncul pertama kali pada 2017 lalu saat kasus pelecehan seksual Harvei Weinstein terungkap.

Mulanya cancel culture keluar ketika banyak pelaku pelecehan seksual dari kalangan publik figur diketahui masyarakat. Mereka yang terlibat skandal ini ramai-ramai ditolak masyarakat. Mereka dilarang untuk tampil lagi di hadapan publik, bahkan karya-karya lama mereka pun ditolak masyarakat.

Efek dari cancel culture dapat beragam. Misalnya, publik tak terima tokoh tersebut ada di televisi, pembatalan iklan, hingga pembatalan kontrak kerja.

Simak mengenai cancel culture yang dapat menjadi budaya toksik di halaman berikut.


Meski terlihat hanya me-cancel mereka yang terlibat masalah, budaya ini ternyata dinilai bisa jadi sangat beracun atau toksik.
Menurut Koentjoro, budaya ini dapat berkembang menjadi perilaku main hakim sendiri yang dilakukan orang dengan cara berkelompok di media sosial. Bullying di media sosial ini dapat merusak mental seseorang.

Koentjoro mengatakan orang yang di-cancel dapat merasa diri tidak berguna, down, bahkan paling fatal bisa bunuh diri.

"Bagaimana tidak, cancel culture ini biasanya diikuti dengan ujaran yang tidak baik di media sosial, menghina kepada pihak yang di-cancel. Bayangkan mental orang tersebut bagaimana setelah mendapat cacian dari banyak orang di media sosial," kata dia.

Tak hanya itu, cancel culture semakin terasa menyesakan karena jejak digital biasanya tak mudah dilupakan seseorang. Menurut Koentjoro, cancel culture dapat merusak kebebasan berbicara.

"Kritik memang bagus, tapi kalau sampai berakhir memboikot atau cancel cukture begini kan sama saja dengan mengekang kebebasan berbicara," kata dia.


Sumber : cnnindonesia.com

Serunya Ikutan Lomba Baca Cerita Horor Bersama Tim Para Emak


"Siapa yang suka baca cerita horor?" Mbak Muthia AlHasany melempar tanya pada kawan-kawan di Whatsapp grup yang saya ikuti, sekitar akhir bulan Agustus 2021.

 

 

Membalas sapaan beliau, saya klik ikon wanita mengangkat satu tangannya untuk membalasnya bersamaan sahutan, "Saya, mbak."

 

Eh, ada kawan lain yang menyahut, BunNaz -- panggilan kesayangan saya kepada Bunda Siti Nazarotin -- yang juga sesama Kompasianer. Anggota lain di grup ada yang berbalas dengan jawaban sama, ada yang gak suka baca karena cerita mistis dianggap ngeri.

 

 

 

Ada apa gerangan dengan pertanyaan Mbak Muth? Beliau menyambungnya dengan memberikan tautan dari Risalah Misteri, sebuah komunitas para penulis cerita horor/misteri yang mengadakan lomba untuk membacakan kisah-kisah yang pernah dimuat di laman mereka.

 

Wah, asyik nih! Saya dan BunNaz gercep aja dah menyambut tantangan tersebut. Bu Guru asal Blitar ini pun lantas membentuk grup WA guna menyusun tim kecil sebagai wadah komunikasi persiapan mengikuti lomba.

 

 

 

Awalnya saya mencari cerita misteri apa yang bakal kami bacakan. Ini bukan pertama kalinya saya berselancar di laman kisah misteri. Karena sesama Kompasianer pun ada yang mengunggah karya-karya fiksi maupun kisah nyata horornya di sana.

 

Tetiba mata saya tertuju pada judul "Tertawa Sebelum Mati" karya Mbak Lilik Fatimah Azzahra. Sekilas membacanya dari awal hingga akhir, terbersit untuk mengajukan cerita horor miliknya kepada tim.

 

Singkat cerita, kami pun setuju membacakan cerita ini. Meski kami sempat berganti formasi yang terdiri dari 5 orang, akhirnya kami mendapatkan anggota final yang bakal membersamai mengikuti lomba.

 

Sejak formasi peserta lengkap dan final, kami pun mulai berlatih bagaimana membacakan cerita horor yang notabene adalah hal baru bagi kami untuk membacakan, merekam dalam video dan bakal ditayangkan oleh penyelenggara di kanal youtube-nya.

 

 

BunNaz sebagai ketua tim, mengajak semua peserta berlatih. Beliau memberikan kesempatan kepada saya untuk memberikan contoh pembacaannya. Dari suara, intonasi, mimik dan suasana perekamannya. "Mbak Siska kan mantan penyiar radio, bagi pengalamannya ya, untuk kita membacakan cerita horor," demikian kurang lebih alasan yang beliau sampaikan.

 

Bu Guru berkacamata ini membagi tugas pembacaan naskah dari pembaca 1 sampai dengan pembaca 5. Kami bertanggung jawab berlatih suara dan intonasi sesuai paragraf masing-masing.

 

 

 

Awalnya, saya diminta membaca seluruh naskah, lalu dibagikan di grup. Ternyata responnya positif. Seluruh tim bersemangat mencoba melakukannya sesuai jenis suara dan intonasi masing-masing.

 

Mbak Ester -- panggilan sayang saya kepada Lesterina Purba -- bahkan dengan semangat memberikan hasil latihannya baik rekaman suara maupun videonya ke grup. BunNaz dan seluruh kawan memberikan masukan, kurasi suara dan mimik wajah, agar rekaman video beliau makin bagus hasilnya sesuai keinginan tim.

 

Semangatnya terlihat dari foto di atas. Sebagai emak seperti saya, bergelut dengan sekeranjang baju untuk setrikaan, tetap memberikan waktunya di jam Subuh untuk kesuksesan lomba untuk rekaman video. Heboh dan seru!

 

 

 

Beda mbak Ester, beda pula kehebohan Mbak Sri Rohmatiah, Kompasianer dari Madiun yang ikut dalam tim kami. Beliau wajahnya paling imut dengan suara yang lembut pula.

 

Berkali-kali latihan dilakukannya, baik di halaman rumah berlampu taman di malam hari -- berteman nyamuk dan bunyi serangga -- maupun di dalam kamarnya yang menampilkan cahaya malam dari kamar jendela.

Suaranya yang lembut dan manis membuat kita malah berasa dininabobokan. Tak segan BunNaz memacu semangatnya agar intonasi dan mimiknya dibuat lebih 'horor' agar dapat kesan mistisnya saat membacakan naskah.

 

Semangat Mbak Sri luar biasa, bolak-balik setor rekaman suara dan video, demi mendapatkan hasil terbaik, akhirnya bagian paragraf beliau dapat diesksekusi dengan baik.

 

 

 

Bagaimana pula dengan Mbak Heny Pristiwaningsih? Beliau pun tak kalah sigap berlatih untuk mendapatkan hasil terbaik.

 

Disela kesibukan membuat soal-soal untuk murid-muridnya, Mbak Heny mendukung tugas BunNaz dalam editing video agar bisa menjadi satu-kesatuan video utuh dengan alur bacaan cerita sesuai penugasan.

 

Kendala teknis sempat di alami, hape beliau nge-hang! Dan lagi-lagi, BunNaz gercep dah, mengambil alih teknis penyatuan video.

 

Maklum, kami melakukan perekaman dari kota masing-masing. Mengirimkan file video dengan berbagi media agar bisa segera disatukan menjadi satu video utuh. Lalu, dikirim ke e-mail panitia.

 

Alhamdulillaah, tepat tanggal 7 September 2021, video kami berhasil diunggah oleh kanal youtube Risalah Misteri.

 

Kami langsung bergerak mengajak seluruh anggota keluarga, tetangga, kawan, sahabat, anggota grup Whatsapp, temennya kawan, dan siapa saja yang kami kenal, untuk memnyempatkan diri menyaksikan penampilan kami dalam tayangan tersebut.

 

Usaha tak menghianati hasil, dalam waktu 3 hari sejak penayangan, video yang kami sertakan dalam lomba telah menembus 1.000 penonton.

 

 

Hari ini, Rabu, kami lagi deg-deg-an menunggu pengumuman pemenang. Kalah ataupun menang adalah hal biasa dalam sebuah perlombaan.

Ini pengalaman pertama saya dan kawan se-tim mengikuti lomba seperti ini, baca cerita horor pula. Sebab diantara kami pun harus berani menaklukkan kengerian dari naskah mistis.

Nah, bagi pembaca Kompasiana yang ingin menyaksikan penampilan kami, silakan mengikutinya melalui tayangan ini ya.

Ya, inilah penampilan SriNiZar SisTers, nama tim yang kami ambilkan dari singkatan nama-nama kami. Nama yang lahir di Senin Kliwon.

 

Kami memang para emak, namun bukan berarti tak bisa berkarya di keadaan yang kadang serba tak enak.

 

 

 

Sumber : Kompasiana.com