ilustrasi TKI
Seorang Tenaga Kerja Indonesia Umi Kholifah mengadu ke Kementerian Tenaga Kerja Singapura karena majikannya tidak membayar gaji selama tiga tahun. Umi meminta bantuan kepada Kementerian Tenaga Kerja agar majikannya, Razalee Rasdi mau membayar gajinya itu.
Pengadilan negeri Singapura sudah menghukum Rasdi denda sebesar 21.000 dolar Singapura dan penjara selama 105 hari.  Dia didakwa melakukan delapan pelanggaran. Bukan itu saja, pengadilan juga melarang Rasdi untuk mempekerjakan pekerja rumah tangga asing.
Jumlah denda yang diterima Rasdi antara lain 12.000 dolar Singapura karena tidak membayar gaji, 1.000 dolar Amerika karena gagal memberikan gaji secara layak dan 8.000 dolar Amerika karena mempekerjakan tenaga kerja ilegal.
Umi mengadukan kasusnya itu kepada Kementerian Tenaga Kerja Singapura, 11 Juni lalu. Jumlah gaji Umi yang belum dibayar majikannya sebsar 7.450 dolar Amerika. Berdasarkan hasil investigasi, Rasdi tidak membayar gaji Umi sejak Februari 2010 hingga Mei tahun lalu.
Rasdi juga tetap mempekerjakan Umi meski izin kerjanya sudah habis. Kini, Umi bekerja untuk majikan lain dan Rasdi sudah membayar tunggakan gajinya itu. Rasdi bukan satu-satunya majikan di Singapura yang tidak membayar gaji pekerja rumah tangga.
Di sepanjang tahun ini, ada tiga majikan yang melakukan hal itu. Pada 2013 dan 2012, ada 17 majikan yang dijatuhi hukuman karena menolak membayar gaji pekerja rumah tangga dan didenda sebesar 7.000 dolar Singapura. (AsiaOne)

Sumber :suara.com
Blogger Tricks


Hanya dalam waktu sepekan, tiga pesawat komersial berjatuhan, pada tanggal 17 Juli Malaysia Airlines  MH17 jatuh karena ditembak di langit Ukraina, lima hari kemudian 23 Juli pesawat ATR 72-500 (GE222) milik TransAsia Airways jatuh setelah gagal landing dekat bandara Magong, Taiwan. Sehari kemudian 24 Juli kemarin pesawat MD83 (AH5017) milik Air Algerie jatuh di gurun Sahara.

Jika seluruh penumpang AH5017 ditemukan tewas, maka jumlah korban dari kecelakaan pesawat beruntun dalam sepekan ini berjumlah 465 orang.

Pesawat Air Algerie yang membawa 116 orang yang hilang di atas Gurun Sahara pada Kamis pagi dilaporkan jatuh di sebelah utara Mali.

3 pesawat yang jatuh:
 MAS MH17 Malaysia Ditembak Rudal, 280 Penumpang dan 15 Kru Tewas 



 TransAsia Airways dihempaskan badai Matmo



Pesawat Air Algerie 'jatuh' di Gurun Sahara

Reruntuhan pesawat ATR 70 TransAsia Airways GE222
yang jatuh di pulau Penghu, Taiwan, (24/07.
Penghu - Satu orang tenaga kerja Indonesia mengalami luka-luka akibat peristiwa jatuhnya pesawat TransAsia di Penghu, sebuah pulau di wilayah barat Taiwan, kemarin.

“Kami mendapat informasi dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, bahwa di dalam pesawat itu tidak ada warga negara Indonesia, tetapi ada warga negara kita yang bekerja di apartemen yang tertabrak,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Michael Tene, Kamis, (24/07).

Tim satgas KDEI kini sedang menuju rumah sakit tempat TKW tersebut dirawat untuk mengecek kondisinya. “Kami menghormati keluarga dengan tidak menyebut namanya kepada media. Namun tim satgas KDEI kini sedang meluncur ke sana untuk mengetahui kondisi yang bersangkutan,” kata Tene, sambil menambahkan bahwa TKW tersebut berjenis kelamin perempuan.

Pesawat bermesin turboprop berkapasitas 70 kursi itu sedang membawa 54 penumpang dan empat awak saat jatuh di dekat landas pacu ketikan akan mendarat di Penghu. Sebanyak 48 penumpang tewas dan sepuluh lainnya luka-luka. Dua orang di antara jumlah korban berkewarganegaraan Prancis. Tim penyelidik sedang mencari penyebab jatuhnya pesawat. Dugaan awal, pesawat terempas terjangan topan Matmo yang baru saja melintasi pulau itu.

Namun otoritas penerbangan sipil Taiwan menyatakan cuaca layak untuk terbang.

“Ada sembilan penerbangan di rute yang sama antara pukul 14.00 dan 19.00 kemarin. Hanya TransAsia yang jatuh,” ujar Jean Shen, Direktur Badan Adminstrasi Penerbangan Sipil Taiwan.

 “Biro cuaca melaporkan kondisi cuaca baik untuk mendarat,” katanhya. Dua kotak hitam pesawat itu sudah ditemukan, dan pejabat komite keselamatan penerbangan mulai menyelidikinya. Pesawat lepas landas dari Kota Kaohsiung menuju Bandara Makong di Pulau Penghu sebelum jatuh saat akan mendarat. Pulau itu juga biasa disebut Pescadores.

Sumber :tempo.co
Pesawat Air Algerie
Pesawat Air Algerie yang membawa 116 orang yang hilang di atas Gurun Sahara pada Kamis pagi dilaporkan jatuh di sebelah utara Mali.

Berbagai laporan menyebutkan puing-puing pesawat sudah ditemukan namun belum dikukuhkan apakah memang berasal dari pesawat Air Algerie tersebut.

Sebelumnya Klik dua jet Prancis dikerahkan untuk mencari Klik pesawat yang hilang ketika sedang dalam perjalanan dari ibukota Burkina Faso, Ouagadougou, menuju ibu kota Aljazair, Aljir.

Seorang juru bicara militer Prancis, Letnan Kolonel Michel Sabatier mengatakan kepada BBC bahwa jangkauan pandang yang pendek dan badai pasir menghambat pencarian pesawat di kawasan gurun pasir yang luas.

Pihak berwenang Prancis mengatakan pesawat dengan nomor Klik penerbangan AH5017 menghilang dari radar ketika berada di atas kawasan Mali utara.

Saat itu sedang terjadi badai dan menara pengawas kehilangan kontak dengan pesawat.

Presiden Prancis, Francois Hollande, sudah berjanji untuk menggerahkan sumber daya militernya guna menemukan pesawat itu.

Sebanyak 51 penumpangnya adalah waga negara Prancis.
Otoritas penerbangan Prancis mengatakan pesawat dengan jenis McDonnell-Douglas MD-83 itu sudah diperiksa pekan ini dan berada dalam kondisi yang baik.

Belum diketahui penyebab jatuhnya pesawat Air Algerie ini, yang merupakan kabar buruk bagi industri penerbangan setelah Klik Malaysia Klik Airlines MH17 jatuh ditembak di Ukraina timur pekan lalu dan Klik pesawat TransAsia mengalami kecelakaan di Taiwan hari Rabu (23/07).

Maret lalu pesawat Klik Malaysia Airlines MH370 hilang dalam penerbangan dari Kuala Lumpur ke Beijing dan hingga sekarang belum ditemukan.

Sumber :bbc.co.uk
Ilustrasi
Nunukan, (24/7)--Tenaga kerja Indonesia yang dideportasi dari Malaysia dan mengalami gangguan jiwa mulai kembali marak di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Maraknya TKI dengan ganguan jiwa yang berkeliaran di Kota Nunukan disinyalir akibat gencarnya Pemerintah Malaysia melakukan deportasi TKI ilegal menjelang lebaran.

Selama tiga minggu terakhir, Pemerintah Malaysia telah mendeportasi 310 TKI illegal melalui pelabuhan Tunon Taka Nunukan.

Staf bagian Sosial Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial Edy Rahman mengatakan, sedikitnya lima TKI ilegal yang mengalami gangguan jiwa terlihat berkeliaran di kawasan Pelabuhan Nunukan.

“Yang baru saja di pelabuhan ada lima. Itu tahapnya masih ndak terlampau parah. Sementara yang lebih parah sudah berkeliaran di mana-mana itu lebih dari 10,“ ujar Edy Rahman, Rabu (23/7/2014).

Pemerintah Kabupaten Nunukan selama tahun 2014 tercatat telah melakukan upaya pengiriman 12 eks TKI dengan gangguan jiwa untuk dirawat di Rumah Sakit Jiwa Tarakan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi jumlah TKI bermasalah kejiwaan yang berkeliaran di Kota Nunukan.

Upaya pemulangan ke daerah asal TKI oleh Disnakertransos Nunukan sejak Januari hingga Juli 2014, tercatat sebanyak 12 TKI. Sementara, tiga eks TKI gila yang telah pulih dari perawatan RSJ Tarakan telah dikembalikan ke tempat asal mereka.

Akibat ketiadaan kapal laut menuju NTT dan NTB beberapa waktu lalu, membuat staf Disnakertransos terpaksa harus memulangkan tiga eks TKI dengan menggunakan pesawat. “Beberapa minggu kemarin tidak ada kapal Pelni masuk ke Nunukan. Satu-satunya jalan ya naik pesawat ke NTT dan NTB,” ujar Edy Rahman.

Tingginya angka deportasi TKI di Kabupaten Nunukan ternyata luput dari perhatian pemerintah pusat. Anggaran sosial yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan warga Nunukan terpaksa digunakan untuk kebutuhan eks TKI dengan masalah kejiwaan yang dideportasi Pemerintah Malaysia melalui Nunukan.

”Anggaran tahun ini Rp 750 juta, tapi ada dua program fisik, yaitu pembangunan pagar Rumah Perlindungan Trauma Center RPTC dan jalan ke RPTC. Kalau untuk orang gilanya kan ada perawatannya, ada pemulangannya, ada pengantarnya. Anggaran ini gak cukup. Di Sembakung saja ada laporan dari masyarakat ada enam orang gila. Ini warga Nunukan. Tapi kita belum bisa jemput karena anggaran tidak cukup. Padahal kebanyakan warga Nunukan yang terindikasi gila ini dari warga miskin,” papar Edy Rahman.

Sumber :kompas.com
Ilustrasi
Jakarta, (24/7) - Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menyesalkan banyaknya para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri terjerat permasah hukum terutama tindak pidana ringan (tipiring). Bahkan, Kepala BPN2TKI Gatot Abdullah Masyur menyebut jumlah TKI yang terjerat tipiring mencapai ribuan orang.

"Sebetulnya banyak, kalau tipiring pemalsuan SIM, paspor, ribuan itu tipiring,"kata dia di Serang, Banten.

Dia mengatakan, dengan melanggar peraturan tersebut membuat para TKI merugi. Pelanggaran seperti itu membuatnya langsung dikembalikan ke negara asal, padahal telah mengeluarkan biaya yang cukup banyak.

Selain itu, Gatot juga mengungkapkan masalah yang seringkali menjerat para TKI  karena tidak bisa menyesuaikan kondisi sosial dan kebudayaan di tempat mereka yang baru.

"Sebetulnya banyak, terutama Timur Tengah, dikenal benar TKI kita kurang mengetahui kebudayaaan setempat seperti Arab. Sihir, karena sihir tidak punya bukti dituduh terus ngaku," ungkapnya.

Karena tuduhan ini banyak TKI mendapat vonis mati. Namun sering juga mendapat keringanan dengan konversi hukum mati menjadi hukuman penjara.

"Artinya langsung divonis mati, tapi ada yang  dikonversi dengan 20 tahun dihukum oleh raja, tapi kan sebetulnya sepele," kata dia.

Oleh karenanya, pihaknya menekankan kepada para TKI menyerap sungguh-sungguh ilmu yang diberikan ketika  pelatihan sebelum pemberangkatan. Dengan begitu  mereka dapat terhindar dari perbuatan tindakan yang merugikan dirinya sendiri.

"Di Pembekelan Akhir Pemberangkapan (PAP) itu ada masalah hukum dan kebudayaan, bahasa, perjanjian kerja," tukas dia. (Amd/Gdn)

Sumber :liputan6.com