Logo MMM
SURABAYA,(22/8) - Para member arisan Mavrodi Mondial Moneybox  atau Manusia Membantu Manusia (MMM) di Jawa Timur mulai resah. Pasalnya, mereka yang mestinya sudah bisa menikmati hasil sejak Juli lalu, ternyata sampai kemarin tidak kunjung mendapat kiriman uang yang dijanjikan. Para member itu pun ramai-ramai mengungkapkan keresahan di jejaring sosial.

Walhasil, situs komunitas MMM dibanjiri curhat, grundelan, dan amarah para member.

Di Facebook berakun MMM Surabaya misalnya, seorang member bernama Agung Ndoenk memposting curhatannya “blm mrasakan apa2 udh kyk gni,,,udh nggu gh 2mggu (belum merasakan apa-apa sudah kayak gini...udah nunggu hingga dua minggu).”

Member lain, Agus Surya Atmaja yang memposting  “Saya sudah GH 3 hari tapi tidak ada muncul yang akan bantu saya. Apa sistemnya sudah mandeg?
(Hampir semua seperti itu sejak 3 hari lalu. Apa tidak ada yang PH? Apa ini tanda2 mandeg nya MMM ?)"

Istilah GH (Get Help) dalam MMM bermakna minta bantuan. Tepatnya minta kiriman uang.
Sirkulasi Dana Yang di dapatkan di MMM
MMM melalui sistemnya menjanjikan uang berlipat ganda akan masuk secara otomatis ke rekening member, setelah yang bersangkutan mengirim uang pada member lain yang diperintah sistem. Istilahnya  provide help (menyediakan bantuan).

Alur melipat gandakan uang ala sistem MMM itu kongkretnya begini. Seorang member diminta mengirimkan uang ke rekening member lain yang ditunjuk sistem. Perintah mengirim lewat akun internet atau SMS hanphone.

Setelah perintah mengisi rekening orang dilaksanakan,  member dipersilakan mengajukan permintaan kiriman balik dengan nilai 130 persen dari nilai yang pernah ia kirim pada member lain. Jika ia mengirim Rp 10 juta, berarti ia akan mendapat kiriman balik Rp 13 juta. Inilah iming-iming keuntungan yang membuat banyak orang kesengsem.

Setelah prosedur mengirim bantuan dan meminta bantuan dilakukan, member tinggal menunggu realisasi. MMM menjanjikan uang berlipat ganda akan masuk secara otomatis ke rekening. Member tidak perlu kerja apa-apa. Mesin yang akan bekerja mencarikan penyumbang dari member-member lain. Lalu sampai kapan penyumbang ditemukan?  hanya mesin MMM yang tahu. Member hanya bisa menunggu.

Nah resah menunggu inilah yang kini menyelimuti para member. Utamanya para member yang belum pernah mendapatkan keuntungan.

Sumber :tribunnews.com


Blogger Tricks
Konvoi pembawa jenazah korban MH17 di Belanda
Jakarta,(22/8)-- Jenazah 20 korban pesawat MH17 yang jatuh di Ukraina pada bulan Juli lalu dijadwalkan tiba di Kuala Lumpur  seiring dengan digelarnya hari berkabung nasional di Malaysia.

Sebuah pesawat carter yang memuat jenazah berangkat dari Amsterdam dan direncanakan mendarat di Kuala Lumpur Jumat sekitar pukul 10:00 waktu setempat. Bendera nasional Malaysia akan dikibarkan setengah tiang di seluruh negara tersebut dan satu menit mengheningkan cipta akan digelar.


Penerbangan MH17 diyakini jatuh karena rudah yang ditembak oleh pemberontak pro-Rusia. Namun para pemberontak membantah klaim tersebut. Di bandara Kuala Lumpur, pesawat dari Belanda tersebut rencananya akan disambut oleh pejabat senior pemerintah Malaysia.

Peti jenazah kemudian akan dimasukkan ke dalam mobil jenazah oleh personil militer sebelum diserahkan kepada keluarga korban untuk dimakamkan. Ini adalah kali pertama Malaysia mengadakan hari berkabung nasional untuk korban sipil. Sebelumnya berkabung nasional hanya diadakan untuk keluarga kerajaan dan kepala pemerintahan.

Dalam penerbangan tersebut 43 orang adalah warga negara Malaysia. Sejauh ini 28 korban Malaysia telah diidentifikasi di Belanda yang memimpin penyelidikan internasional atas tragedi di Ukraina timur tersebut.

Tapi penyelidikan terhambat karena pertempuran antara pasukan pemerintah Ukraina dan pemberontak pro-Rusia di dekat lokasi kecelakaan. Seluruh 298 penumpang dan awak dalam penerbangan Malaysia Airlines Boeing 777 tersebut tewas tanggal 17 Juli lalu. Lebih dari 200 peti jenazah sejauh ini telah dibawa ke Belanda dari Ukraina. (SAS/bbc/WDA)

Sumber :rri.co.id
Orang tua dan kakak serta adik Rihanatun
Dok:
krjogja.com
Magelang, (22/08) – Hilangnya Rihanatun (29) warga Kembang, Desa Jambewangi, Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang, setelah bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia delapan tahun lalu, mengusik kalangan anggota DPRD Kabupaten Magelang.Mereka berharap, Pemkab Magelang serius menangani permasalahan tersebut. Dengan begitu, kedepan tidak terulang kembali.

"Kasus hilangnya TKI dan TKW ini, sudah berulang kali terjadi. Tidak hanya di Kabupaten Magelang tapi juga sejumlah daerah lainnya. Karena itu, jangan dijadikan hal biasa, karena ini menyangkut nasib seseorang. Jadi pemerintah harus serius. Pemda saya minta bisa melacak lewat fungsi-fungsi di pemerintah pusat," kata Soeharno, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Magelang.

Soeharno meminta kepada Pemkab Magelang, untuk segera bertindak. Paling tidak, pemda yang sudah berkoordinasi untuk minta pertanggung jawaban dari pihak PJ TKI . Sehingga kedepan, para PJTKI ini tidak sekedar mengirimkan calon tenaga kerja tapijuga ikut memantau di negara yang dituju.  Baik dari sisi TKI nya sendiri maupun secara kesejahteraan TKI.

"Kami berharap, PJTKI tidak hanya sekedar menampung dan mengirim tenaga kerja saja, tapi harus memantaunya. Karena itu, kinerja PJTKI itu harus dievaluasi. Pemda sendiri juga harus mawas diri sebagai penanggung jawab kehidupan masyarakat," pintanya.

Sementara Kaswul Anwar, Adik dari Rihanatun mengaku, sebelum hilang kontak kakaknya sempat menghubungi keluarga melalui telepon dan surat pada 2006 lalu. Namun demikian komunikasi itu, melalui HP milik salah satu mantan perangkat desa. Hingga kini, pihak keluarga juga belum menerima satu kalipun kiriman uang dari Rihanatun. (Bag)

Sumber : krjogja.com

Baca Terkait:
Surat Terakhir TKW Rihanatun Sebelum Menghilang di Malaysia 8 Tahun Silam
Ilustrasi
Jakarta, (22/8)--Pengaduan penyelesaian kasus TKI harus menyertakan juga data dan kronologis kejadian kasusnya. Hal ini dikatakan Kasubdit Pendaftaran dan Informasi Pengaduan BNP2TKI, Ade Kusnadi, menanggapi pengaduan permasalahan TKI yang masuk melalui Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID).

"Kalau melihat ini, data yang diperoleh dari pengaduan melalui PPID kurang lengkap. Sehingga kita sangat sulit untuk menindaklanjutinya. Tapi kita tetap berterimakasih dan memberi apresiasi kepada PPID yang menindaklanjuti langsung ke sumbernya," jelas Ade.

Ade menjelaskan, jika ada masyarakat yang ingin mengadu dan minta penyelesaian kasus TKI harus dilengkapi dengan data nama TKI-nya, foto copy paspornya, nama PPTKIS-nya, tahun berangkatnya, dan KTKLN-nya. Kalau data itu tidak bisa dipenuhi oleh yang bersangkutan atau si pengadu, minimal ada foto copy paspornya atau ada KTKLN-nya.

"Biar bagaimanapun, sesulit apapun, kita tetap akan berusaha melayani sebaik mungkin dan secepat mungkin untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi setiap TKI," tegasnya.

Menyinggung pelayanan pengaduan, khususnya penanganan penyelesaian kasus TKI, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) selalu mendorong upaya penyelesaiannya di daerah domisili TKI. TKI bisa langsung ke Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) atau ke Dinas Tenaga Kerja setempat.

Ditambahkan, banyak pengaduan masuk dari daerah dan selalu kita arahkan ke daerah domisili si pengadu.
"Kita, dalam hal ini Pusat atau BNP2TKI, selalu mendorong penyelesaian kasus TKI diselesaikan di daerah domisili TKI. Tidak perlu harus ke pusat," tegasnya. (pur/dwi)

Sumber : beritasatu.com
Ilustrasi Penganiyayaan
KUPANG, 22/08-Pengakuan Atrisma, korban penyekapan para TKW asal NTT di Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu sungguh memilukan. Atrisma Tob dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan kasus dengan terdakwa Rebeca Ledoh, di Pengadilan Negeri Klas II A Kupang, Kamis(21/8).

Saat Ketua Majelis Hakim, Parlas Nababan menanyakan hukuman yang diberikan, jika melakukan kesalahan, Atrisma mengatakan, dia dan rekan-rekannya akan ditonjok menggunakan bola besi di dahi. Tak hanya itu, gadis yang saat direkrut bekerja masih berumur 13 tahun itu mengaku, setiap orang yang berbuat kesalahan, porsi makannya akan dikurangi. Selama seminggu mereka hanya diberi makan empat sendok nasi dan satu gelas air.

 "Lebih baik dipukul daripada dikurangi porsi makannya. Soalnya kita makan tidak kenyang, apalagi kerjanya banyak," katanya.

Soal kronologis sehingga dirinya sampai bekerja di Medan, di hadapan Majelis Hakim, Parlas Nababan dan dua hakim anggota, Jamser Simanjuntak dan Ida Ayu, juga Jaksa Penuntut Umum (JPU), Lasmaria F. Siregar serta Ester selaku pengacara terdakwa dan terdakwa Rebeca Ledoh, Atrisma menerangkan, kejadian itu bermula ketika dia bertemu dengan John Anin (perekrut lapangan) saat bermain di rumah pamannya. John berhasil membujuk korban sehingga korban mau diberangkatkan ke Oesao, tanpa memberitahu ke orangtuanya. Selanjutnya, korban diantar ke perusahaan TKW milik Andy Killa. John kemudian mendapat bayaran sebesar Rp 1.300.000.

Korban kemudian diiming-iming bekerja di Jakarta dan Malaysia. Selama seminggu, korban berada di rumah Andy Killa, sembari menunggu pengurusan paspor. Sayangnya, korban tidak diberangkatkan karena umurnya masih 13 tahun.

Korban kemudian diantar ke rumah Rebeca. Sekali lagi korban diiming-iming dengan gaji Rp 750.000 per bulan, jika mau bekerja di perusahaan sarang burung walet milik Mohar di Medan. Sebelum diberangkatkan, Irwan anak Rebeca mengurus KTP korban yang mana umur korban dinaikan menjadi 22 tahun. Berbekal KTP palsu inilah, korban akhirnya diberangkatkan dengan mulus, menuju Medan bersama Novi korban lainnya.

Ironisnya, terdakwa Rebeca Ledoh masih tetap menyangkal, kalau dirinya tidak mengenal korban sama sekali. Jawabannya itu akhirnya mendapat respon dari pengunjung sidang. Pihak-pihak yang selama ini mendampingi korban, terlihat sangat emosional.

Selain Atrisma, Nyongky Tob saudara kandungnya juga dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan itu. Dalam kesaksiannya, Nyongky menjelaskan, keberangkatan adiknya ke Medan tidak diketahui sama sekali oleh keluarganya.

Titik terang kepergian korban baru diketahu keluarga dari informasi tetangga mereka, yang kebetulan berjumpa saat John Anin membawa korban ke Oesao. Nyongky kemudian mencari John Anin. Dirinya bahkan sempat berkelahi dengan John Anin, yang hanya diam ketika ditanya soal keberadaan saudarinya. Usai dijelaskan kalau korban diantarkan ke rumah Andy Killa, Nyongky kemudian bergegas ke rumah Andy. Sayangnya hingga kini, Andy tidak berhasil dia jumpai. Nyongky juga mengaku kalau kondisi adiknya sesudah pulang dari Medan, sangatlah memprihatinkan.

"Dia agak mengong-mengong. Tapi syukurlah karena sekarang dia sudah sehat," katanya menjawab pertanyaan majelis hakim.

Sumber :timorexpress.com
Foto jenazah Murniatin
Dok :berita2.com
Setelah terlantar selama dua bulan lebih, jenazah Murniatin (37 tahun), yang meninggal di Taiwan karena tertabrak mobil pada 12 Juni lalu, akhirnya tiba di kampung halamannya, Dukuh Tambah, Desa Kedungbanteng, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada hari Rabu (20/8) kemarin.

"Jenazah tiba di Surabaya dari Taiwan pada hari Selasa pukul 23.00 Wib. Karena pesawat delay (keberangkatan ditunda). Tiba di rumah duka sekitar pukul 04.00 Wib dan langsung dimakamkan," tutur paman almarhumah Murniatin, Benny, kepada wartawan.

Menurutnya lagi, pemulangan jenazah keponakannya yang menjadi TKW di Taiwan tersebut, karena terdapat sejumlah prosedur yang sangat rumit dalam pengurusan dokumen. Terutama di Kepolisian Taiwan.

"Memang agak ribet. Tapi yang penting tadi kami lihat jenazah dalam keadaan utuh. Lalu kami tutup kembali dan segera kami kebumikan," tambah Benny.

Sementara itu suami Murniatin, Alfonso Caladido, mengatakan, pihak keluarga sudah merasa lega karena jasad istrinya sudah bisa dipulangkan.

"Kami sudah lega karena selama ini kami hanya bisa menunggu dan menunggu proses pemulangan. Sementara jasad terus diawetkan, kasihan jasad istri saya. Dan sekarang sudah bisa dimakamkan. Semoga istri saya tenang di sisiNya," ungkap
Alfonso.

Terkait masalah berbagai tanggungan dan prosedur pengurusan hingga berbagai klaim, tambah Alfonso, telah diserahkan kepada pihak PT Gunawan Sukses Abadi selaku perusahaan jasa pengiriman TKI yang memberangkatkan Murniatin.

"Semua biaya seperti pembayaran ambulans, pesawat, hingga pengawetan di rumah sakit di Taiwan, ditangani oleh PT Gunawan, Dinas Tenaga Kerja dan TETO (Taipei Economic dan trade Organizations/Kamar Dagang Taiwan)", papar Alfonso.

Atas kejadian ini, pihak keluarga Murniatin yang lain tidak akan menuntut kepada pihak PJTKI soal kematian Murniatin. Namun mereka akan melayangkan surat
keberatan atas perlakuan pihak majikan Murniatin, seorang warga Taiwan bernama Magchia Chen Mei Hwa di Township Nantou.

"Bukan kematiannya, tapi selama hidup. Jadi Murni ini kan pekerjaannya adalah penunggu ama (pengasuh manula), tapi ternyata dipekerjakan pula sebagai pegawai pabrik tahu milik majikan sekaligus menjual produknya di pasar. Waktu kecelakaan itu kan dia sedang jualan tahu. Kan itu di luar pekerjaannya sebagai peunggu ama," papar Benny.

Selain itu, pada pekerjaannya sebagai buruh pabrik tahu dan penjual tahu, Murniatin juga tidak dibayar. Hal ini pernah diceritakan almarhumah kepada keluarga sebelum terjadinya kecelakaan.

Untuk diketahui, Murniatin meninggal akibat tertabrak mobil pada pagi dini hari di sebuah jalan di Nantou, Taiwan. Saat itu ia sedang berjalan menyeberangi jalan menuju sebuah minimarket untuk membeli minuman di tengah kegiatannya menjual tahu buatan pabrik majikannya.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Ponorogo, Sumani, mengatakan, kelambatan pemulangan jenazah Murniatin bukan karena adanya kelalaian atau kelambanan pihak-pihak yang terkait.

"Ini kan karena adanya kasus kecelakaan lalu lintas. Sehingga ada penyelidikan polisi lalu lintas di sana. Menunggu proses itulah yang memakan waktu," jelas Sumani.

Sedangkan untuk harta benda Murniatin, telah dikirim beberapa waktu lalu sebelum jenazah tiba. Saat ini, pihak keluarga tinggal meninggu pencairan asuransi. Karena dokumen yang diperlukan sepertui surat kematian dari desa, baru terbit hari ini. (Rohman.S.Dibyo).

Sumber :berita2.com