Terancam Diperkosa, TKI Patah Tulang Rusuk Saat Loncat Dari Lantai Dua

Ibu Muliati saat mengadukan nasib anaknya yang menjadi KI di Arab Saudi

Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri sangat rentan menjadi korban kekerasan. Tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikis hingga kekerasan seksual. Cerita pilu tidak berkesudahan itu kali ini menimpa Muliati binti Dahri Siatih, buruh migran perempuan asal Desa Dasan Baru, Kecamatan Kediri Lombok Barat. 



Ibu satu anak itu berusaha lari dari upaya perkosaan dan loncat dari lantai dua rumah majikannya di Riyadh, Arab Saudi. Akibatnya, rusuk kanan Muliatu patah. Sehingga saat ini korban tengah dalam perawatan.

Mengetahui kejadian yang menimpa Muliati, suaminya Mawardi dan ibu kandungnya Rohani mengadukan masalah itu ke Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran (PBHBM) di Mataram. 

Pihak keluarga minta bantuan agar Muliati segera dipulangkan ke NTB. ”Saya tidak bisa tidur nyenyak, bahkan untuk makan pun saya tidak sanggup karena memikirkan anak saya di negeri seberang,” kata Rohani seperti ditulis Lombok Post (Jawa Pos Group), Selasa (25/4).

Sambil meneteskan air matanya, Rohani  bercerita bahwa anaknya merupakan sosok wanita yang lemah lembut. Bahkan selama menjadi TKW di negeri orang, ia selalu dikirimkan uang untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. ”Anak saya selalu rajin mengirimi kabar dan uang untuk kehidupan sehari-hari kami,” katanya.

Sementara itu, suami korban, Mawardi mengaku sangat marah dengan kejadian yang dialami istrinya yang biasa ia panggil dengan nama Melati itu. Apalagi mendengar kronologis kejadian itu dari teman kerja istrinya di Riyadh. 

”Karena tindakan tidak terpujinya itu istri saya mengalami patah di salah satu tulang rusuknya,” katanya.

Sementara itu, Koordinator PBHBM M Saleh yang menerima pengaduan menjelaskan, pihaknya akan segera menindaklanjuti kasus tersebut. Berdasarkan informasi yang diterima, Muliati binti Dahri Siatih bekerja di Riyadh Arab Saudi tiga bulan satu minggu. 

Sistem kerjanya setiap tiga bulan ganti majikan. Tiga bulan pertama ia dipekerjakan pada satu majikan yang ia tidak tahu siapa nama dan di mana alamatnya. Hal yang sama ketika kembali dipekerjakan pada majikan kedua. Di majikan kedua, Muliati bekerja selama satu minggu dan masalahpun mulai banyak alami.

Anak majikan bersama dua temannya berusaha memperkosa korban. Itu dilakukan saat kedua orang tua majikan tidak di rumah. Muliati dipanggil oleh anak majikan yang sebelumnya juga sudah memanggil dua teman prianya. 

Tiga pria itu membawa Muliati ke salah satu kamar rumah. Di sana mereka berusaha memperkosa korban, tapi Muliati berusaha melawannya, dan selanjutnya bisa lari dan lompat dari rumah lantai dua ke lantai satu.

Ketika terjatuh ke lantai satu, ia rasakan dada terasa sesak dan kaki kesakitan. Tetapi ia masih berusaha berdiri dan bisa lari minta pertolongan. Selanjutnya ia bisa ditolong oleh warga dan polisi setempat. Muliati selanjutnya dibawa ke Kantor Mahara Agency tempat penyaluran TKI, dan Agency selanjutnya membawanya ke Rumah Sakit. Muliati tidak tahu apa nama rumah sakitnya, karena saat diantar ke rumah sakit ia dalam keadaan pingsan.

Untuk itu, pihak keluarga meminta bantuan Bupati Lombok Barat dan Gubernur NTB membantu secepatnya pemulangan Muliati ke Lombok. Pemerintah kabupaten atau provinsi melakukan perawatan lanjutan. Serta meminta pemerintah menghukum para pelaku yang telah membuat Muliati sengsara. 




Sumber : Jawa Pos
Powered by Blogger.