Masih Ingat Yuni Calon TKW Dipenjara 6 Bulan padahal Tidak Bersalah? Begini Video Nasibnya

sumber photo:tribunjateng

Yuni Rahayu atau Yunny Rahayu adalah satu diantara beberapa korban salah tangkap di Kota Semarang. Bahkan Yuni sudah menjalani penjara selama 6 bulan sebagaimana vonis hakim.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Namun kemudian MA memutuskan bahwa Yuni Rahayu tidak bersalah. Yuni Rahayu sudah selesai menjalani pidana penjara pada 6 Desember 2014 di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita, Bulu, Semarang.

Atas kepastian hukum kasasi ini, Yuni Rahayu sangat berterima kasih kepada LBH Mawar Saron yang telah membantu pihaknya dalam perkara ini. Bahkan LBH Mawar Saron mengurus proses ganti rugi kepada negara.

Korban salah tangkap juga dialami oleh Sri Mulyati warga Kota Semarang. Dia kini sudah kecapekan mengurus dana ganti rugi terkait hal itu. Hingga kini, ia masih berharap uang ganti rugi dari negara yang dituntutnya cair. Namun, tidak ada kepastian.

"Kadang aku juga dah capek dengan semua ini, yang tidak ada kepastiannya," kata wanita 42 tahun itu pada Tribun Jateng, Senin (1/5/2017).

Ia mengakui masih terus berharap dan ingin Tuhan mendengar doa orang sepertinya. Ia merasa dipermainkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Sri tidak habis pikir kenapa orang yang tidak mampu seperti dirinya justru dipersulit. Berbagai upaya sudah dilakukannya, tapi hasilnya nihil hingga sekarang. "Ganti ruginya tidak cair-cair," keluhnya.

Sri didampingi advokat LBH Mawar Saron mengajukan permohonan ganti rugi pada 14 Januari 2013 sebesar Rp 5 juta. Permohonan ganti rugi sudah dikabulkan. Namun proses belum selesai sampai sekarang, antarinstitusi di pemerintahan saling lempar tanggungjawab.

Sebelumnya Sri Mulyati mengaku anaknya putus sekolah sejak ia dipenjara selama 13 bulan.

"Yang putus sekolah ada tiga. Setelah saya masuk penjara, enggak ada yang kerja. Anak-anak cari kerja sendiri buat makan," kata Sri, beberapa waktu lalu.

Sri mengaku dari empat anaknya, hanya anak perempuan paling kecil yang bersekolah. Sebelum kasus salah tangkap, Sri berperan sebagai kepala rumah tangga. Sri bekerja seorang diri demi menghidupi keluarganya. "Suami sakit gula dan komplikasi," ungkapnya.

Sri mengalami kasus salah tangkap ini pada 8 Juni 2011 di Semarang. Saat itu, Sri yang menjadi kasir di salah satu tempat karaoke, ditangkap polisi dengan tuduhan memperkerjakan anak di bawah umur. Polisi bukannya menahan pemilik karaoke itu, melainkan Sri yang bergaji Rp 750 ribu per bulan malah dipenjara.

Advokat Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mawar Saron, Edo Bagus, bercerita rata-rata para korban salah tangkap seperti Sri Mulyati dan Yunny Rahayu mengalami kerugian materiil dan imateriil yang tidak sedikit. "Hal yang pasti, kondisi keluarga jelas terganggu. Seluruh keluarga korban salah tangkap jadi tidak stabil," katanya.



Sumber:tribunnews
Powered by Blogger.