Para Gay Di Taiwan Yang Siap Menikah Dapat Meningkatkan Laba Bisnis Jasa Pernikahan Yang Hancur


Berjejeran butik pengantin, penjahit, dan studio pernikahan, bentangan pendek dari jalan raya Zhongshan yang terbuat dari batu kapur pohon anggur adalah pusat bisnis jasa pernikahan di Taiwan yang dulu terkenal. Tapi daerah itu sekarang menjadi bayangan dirinya yang dulu.

Waktu masih terkenal ada lebih dari seratus toko di sini," kata Cheng. "Sekarang jumlahnya jauh lebih sedikit mungkin baru empat puluh," kata Sunny Cheng, yang pernah bekerja di studio butik Cinderella x Hera selama 22 tahun.

Sejak memuncak pada tahun 2000, ketika 182.000 orang telah memiliki pasangan, jumlah perkawinan di Taiwan telah turun sebesar 20%. Menurut data pemerintah penyebabnya adalah  karena tingkat kelahiran ultra rendah  dan dikombinasikan dengan orang muda di Taiwan yang memilih untuk menikah di kemudian hari. Namun keputusan pengadilan bersejarah minggu lalu itu  berarti  bahwa Taiwan menjadi negara pertama di Asia yang melegalkan pernikahan sesama jenis dan  menyerahkan takdir hidupnya  ke bisnis  jasa  pernikahan.

Sementara kesetaraan perkawinan bisa memakan waktu hingga dua tahun untuk diabadikan menjadi undang-undang. Keputusan tersebut selanjutnya membuat kredibilitas bahwa Taiwan sebagai negara paling ramah LGBT di Asia. Penyedia layanan pernikahan seperti fotografer, hotel, dan perajin perhiasan, yang telah mendapatkan manfaat dari semakin banyaknya pernikahan seks sesama jenis yang diadakan dalam beberapa tahun terakhir. Mengharapkan dorongan lebih jauh untuk bisnis mereka. Baik dari pasangan sesama jenis  dari domestik maupun dari Negara Asia lainnya.



Yang Jing-wei, seorang fotografer yang mengkhususkan diri dalam memotret pasangan mengatakan bahwa bisnisnya telah berkembang pesat akhir-akhir ini. Dibantu oleh 20% pelanggannya yang memiliki hubungan sesama jenis. Dan percaya bahwa permintaan akan "pasti meningkat." Yang sering melakukan perjalanan ke San Francisco dengan pasangan gay dari Taiwan dan Hong Kong, tujuannya mengambil foto untuk album pernikahan mereka yang harganya minimal $ 2.000.

Selandia Baru saat ini merupakan satu-satunya negara di kawasan Asia Pasifik yang mengakui perkawinan sesama jenis. Dan negara tersebut telah melihat lonjakan tajam pasangan seks sesama jenis yang akan menikah di sana, terutama dari China.

Lin Chi-xuan, yang mengelola bisnis fotografi dengan pacarnya yaitu fotografer Austin Huang mengatakan bahwa banyak pasangan seks sesama pasangan di Taiwan yang telah menikah di negara lain dan cenderung memiliki pernikahan kedua yang lebih besar di Taiwan.

Ketika mereka pergi ke AS atau Eropa, mereka membawa teman dekat mereka," kata Lin. "Tapi kalau mereka punya pernikahan di Taiwan  akan ada kerabat, atasan, dan rekan kerja."


Bahkan pemanggang roti dan pemanggang kopi berharap bisa melihat bisnis yang lebih baik di ekonomi pelangi Taiwan. Willie Tsai dan Luke Kuo, yang telah bersama selama tujuh tahun itu mendirikan kopi roastery dan bakery Look Luke, yang beroperasi di luar rumah mereka pada tahun 2014. Pasangan ini telah mempunyai  pelanggan kecil tapi setia, yang tumbuh pesat secara signifikan. Saat Kampanye atau Pawai untuk kesetaraan perkawinan di Taipei pada bulan Desember itu  mereka membagikan lebih dari 600 cangkir kopi manual yang disaring secara manual.

Pasangan tersebut berencana membuka kafe pertama mereka pada bulan November, dan mengharapkan untuk menjual banyak kue pengantin untuk pelanggan mereka.  Yang mereka gambarkan sebagai "70% wanita, 30% gay."

Sumber potensi terbesar bisnis baru adalah China. Para gay dan lesbian  di China telah menunjukkan ketertarikannya pada pernikahan di luar negeri. Dan saat mengunjungi Taiwan di dekatnya, paling tidak karena banyak orang telah lama melihat ke Selat Taiwan sebagai sumber inspirasi. Homoseksualitas tidak ilegal di China, namun masih membawa sisa stigma sosial yang menyebabkan penyakit tersebut secara resmi dianggap sebagai penyakit jiwa sampai tahun 2001. Dan kelompok LGBT belum kebal dari tindakan keras politik dan sosial yang semakin meningkat di China dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu korporasi China telah menerima lebih banyak orang LGBT.  Mengingat insentif finansial  belanja LGBT di China bernilai sekitar $ 280 miliar sampai $ 300 miliar. Menurut perusahaan hubungan masyarakat Weber Shandwick. Bahkan gagasan tentang pernikahan sesama jenis mendapatkan daya tarik di sana. Pada tahun 2015 internet raksasa “Alibaba” mengadakan kontes yang dipublikasikan secara luas untuk pasangan LGBT, di mana 10 pasangan yang menang menerima kunjungan ke Los Angeles untuk menikah.
Untuk saat ini tidak ada indikasi bahwa negara-negara lain di Asia akan mengikuti Taiwan dalam mengenali pernikahan sesama jenis.

Warga Beijing Ling Jueding, 36, pendiri aplikasi hubungan gay Zank, menikahi rekannya empat tahun secara seremonial pada bulan Juni 2015. Dia mengadakan perjamuan kawin di ibukota China dengan lebih dari 300 tamu yang hadir. Dia percaya bahwa persamaan perkawinan di China juga hanya masalah waktu.  "Mungkin dalam 20 tahun atau mungkin 10 tahun”. Tapi yang secara hukum menikahi pasangannya di Taiwan dengan teman dan sanak keluarganya hadir sebagai "pengganti yang baik," untuk saat ini.

sumber: diterjemahkan oleh holiday dari QuartzMedia


No comments

Powered by Blogger.