Tiga TKW Asal Sumbawa Pulang dengan Gangguan Jiwa

sumber photo:suarantb
Tiga Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Sumbawa dilaporkan mengalami gangguan jiwa setelah bekerja di luar negeri. Mereka yakni Rabaiyah (41) warga Dusun Selang, Desa Kerekeh, Kecamatan Unter Iwes, Diana Lestari (21) warga Desa Sepakat dan Rina Yuliana warga Desa Jompong (24) Kecamatan Plampang. Hal ini dilaporkan pihak keluarga ke Disnakertrans Sumbawa, Kamis, 18 Mei 2017.


Suami Rabaiyah, M. Dahlan (43) kepada wartawan menyampaikan istrinya bekerja di Timur Tengah hampir delapan tahun. Awalnya Rabaiyah bekerja di Mekah selama setahun. Kemudian pindah ke Jeddah karena tidak terima dituduh mencuri cek oleh majikannya.

Dalam hal ini hampir tujuh tahun istrinya bekerja di sana. Selama itu, istrinya jarang berkomunikasi dengannya, karena lebih sering berkomunikasi dengan keluarganya. Tepatnya Agustus 2016 lalu, istrinya tiba-tiba pulang.

Saat istrinya pulang, ia menduga kondisi kejiwaannya terganggu. Karena meskipun kadang-kadang bicaranya lancar, tetapi kadang kala berbicara ngelantur.

Semakin hari, kejiwaan istrinya semakin terganggu. Ia pun tidak mengetahui penyebabnya. Karena saat itu istrinya pulang tanpa diantar pihak berwajib.  Dengan biaya pemulangan sekitar Rp 5 juta. Makanya ia mendatangi Disnakertrans guna melaporkan hal tersebut sekaligus meminta bantuan. Salah satunya untuk pemulihan istrinya.

Hal senada juga disampaikan Andi, keluarga dari Diana Lestari TKW lainnya yang juga mengalami gangguan jiwa. Diceritakannya, Diana bekerja di Oman selama dua tahun, berangkat melalui PT Duta Tangguh Selaras pada akhir 2014 lalu.

Diana dipulangkan pada awal Mei lalu. Namun pihaknya tidak mengetahui apa alasan pemulangannya. Pihaknya tiba-tiba dihubungi oleh pihak BP3TKI Mataram untuk menjemput Diana di Mataram.

Dari keterangan pihak BP3TKI, kondisi kejiwaan Diana sempat diperiksa di Rumah Sakit Jiwa di Mataram. Hasilnya tidak ada tanda-tanda kekerasan dan lainnya. Hanya saja pihak BP3TKI tidak bisa menunjukkan keterangan secara tulisan, tetapi secara lisan.

“Saat kami menjemput kondisi kejiwaan Diana sudah terganggu. Jika diajak berbicara dia merespon. Tapi kalau menyinggung Timur Tengah dia diam dan bicaranya ngelantur,” terangnya.

Sedangkan Nurbani Sahputra, perwakilan keluarga Rina juga menyampaikan hal yang sama. Rina juga mengalami gangguan jiwa setelah pulang dari Hongkong pada April lalu. Rina berangkat ke Hongkong melalui PT Sodo Sakti Jaya yang berkantor di Malang. Rina bekerja di Hongkong hampir setahun.

Kesehariannya, mengurus hewan peliharaan majikannya. Namun karena salah satu hewan peliharaan majikannya mati, Rina langsung diusir. Saat hendak keluar dari gerbang, Rina kembali dipanggil. majikannya mengajak dia kembali dan diberikan makanan.

Setelah itu, ia tidak sadarkan diri dan begitu sadar sudah berada di Rumah Sakit Jiwa. Beruntung Rina menghubungi rekan-rekannya. Rekannyalah yang meyakinkan bahwa Rina tidak gila. Akhirnya Rina bisa dikeluarkan dan gajinya bisa diperjuangkan.

Rina kemudian pulang dan mendarat di Jakarta. Ia meminta kakaknya untuk menjemputnya di Jakarta. Nampaknya Rina sudah dijemput pihak perusahaan dan dibawakan ke sebuah rumah di Malang. Rina kemudian menghubungi kakaknya untuk menjemputnya. Akhirnya Rina dijemput dan berhasil pulang ke rumahnya.

“Gajinya memang lancar. Tapi saat dipulangkan kejiwaannya terganggu. Kondisi kejiwaan Rina sekarang sudah cukup membaik karena sudah dibawa ke rumah sakit. Kami berharap pemerintah dapat membantu terhadap pemulihan Rina dan lainnya,” kata Nurbani.

Kabid Penta Kerja Disnakertrans Sumbawa, Khaeril Anwar mengakui belum mendapatkan informasi mengenai hal ini sebelumnya. Biasanya hal semacam ini tetap ada informasi ke pihaknya. Meskipun demikian, pihaknya tetap menerima laporan dari pihak keluarga. Mengenai pemulihan kejiwaan tiga TKW akan dikoordinasikan ke BP3TKI. Disamping itu pihaknya juga akan meminta pertanggungjawaban pihak perusahaan.


Sumber:suarantb
Powered by Blogger.