Usai Ujian, Siswa SD di Arab Saudi Hancurkan Buku Pelajaran


Anak SD Arab Saudi Merobek Buku Mereka Setelah Ujian
        Sejumlah siswa usia sekolah dasar di Tabuk, Saudi Arabia, mengakhiri ujian nasional mereka dengan menghancurkan buku-buku. Mereka begitu emosional, saat merobek-robek dan melemparkan buku-buku pelajaran itu ke jalan raya.


Diberitakan oleh Arab News, Selasa 16 Mei 2017, saat ini, banyak siswa sekolah dasar di Arab Saudi melampiaskan kekesalan dan emosi mereka dengan menghancurkan buku pelajaran setelah ujian selesai.
Tak hanya di Tabuk, aksi serupa juga terjadi di Jeddah, dan kota-kota besar lainnya. Tahun lalu di Jeddah, murid-murid yang selesai ujian tak hanya merobek dan menghancurkan buku pelajaran, tetapi juga melakukan aksi vandalisme dengan menghancurkan mobil guru mereka.  
Akibat insiden yang terjadi di Jeddah itu, seorang konselor sekolah merekomendasikan, agar pihak sekolah untuk memeriksa kembali kebijakan mereka soal kesejahteraan siswa. Sementara itu, akibat aksi di Tabuk yang terjadi pada Jumat lalu, 13 Mei 2017, Menteri Pendidikan Ahmed Al-Elissa memecat Direktur Sekolah yang bersangkutan. Pemecatan dilakukan sebagai upaya menjaga reputasi pendidikan di Arab Saudi.
"Perilaku siswa ini adalah wujud kemarahan mereka, yang mereka tampakkan dengan menghancurkan apa yang selama ini menjadi sumber stres mereka," ujar Maha Al Hariri, seorang psikolog yang juga konsultan pendidikan.
Ia menganjurkan, agar siswa diajak untuk melihat pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka, dan sarana untuk mencapai cita-cita mereka.
Di Arab, siswa sekolah dasar biasanya membawa tas besar dengan isi penuh buku pelajaran, yang biasanya justru tak semuanya digunakan setiap hari. "Itu sebabnya, kita perlu mereformasi aturan pendidikan," ujar Hariri menambahkan.
Mohammad Al-Ezzy, 16 tahun, mengaku menghancurkan buku pelajaran kimia. "Saya punya pengalaman buruk dengan pelajaran kimia. Sebelum ujian akhir, saya belajar keras dan yakin akan mendapat nilai A. Tapi saat ujian, saya terkejut dengan tes-tes yang saya tak mengerti. Itu yang membuat saya akhirnya membakar buku kimia segera setelah ujian selesai. Karena saya yakin, saya tak akan melihat buku itu lagi," ujarnya.
Murid lain, Sara Adel, yang baru berusia 13 tahun mengatakan sangat benci matematika. "Saya menikmati momen saat saya menghancurkan dan merusak buku matematika saya. Sangat menyenangkan, dan saya tak perlu bertanggungjawab pada buku itu lagi," ujarnya, bersemangat.
Konsultan pendidikan yang lain, Samira Al-Ghamdi mengatakan, perilaku siswa yang destruktif di hari terakhir ujian bukanlah hal yang baru. "Sejujurnya, perilaku ini sudah terjadi selama beberapa dekade terakhir, ini menunjukkan sinyal kemarahan pada siswa remaja, dan mereka tak cukup bijak untuk berhati-hati atas tindakan mereka," ujar Al Ghamdi. "Bagaimana-pun tak ada yang perlu disalahkan, tapi ada yang perlu dilakukan atas perilaku psikologis mereka," ujarnya menambahkan.
Al Ghamdi menyarankan, agar pihak sekolah mulai mengajak anak untuk mengutarakan perasaan mereka tentang sekolah, kelas, bahkan jumlah buku dan berat buku yang harus mereka bawa setiap hari.
Menurutnya, perilaku yang ditunjukkan anak-anak itu adalah sebuah reaksi apa yang terjadi di dalam diri mereka dan apa saja yang membuat mereka marah. "Sektor pendidikan perlu merevisi kebijakan mereka agar anak-anak itu tahu bagaimana mengarahkan komplain, dan mencegah perilaku vandalis," ujarnya menambahkan.



Sumber : Viva
Powered by Blogger.