Bertemu di Bandara, Para TKW Berbagi Kisah Hidup di Negeri Orang

sumber photo:kumparan
Bagaimana rasanya, banting tulang jauh dari keluarga? Tentu rasanya pasti melelahkan dan menyedihkan, dirundung rasa rindu tapi tak kuasa untuk bertemu. Kira-kira begitulah kesan yang aku dapat saat mendengarkan para pahlawan devisa saling mengobrol di dalam Shuttle Bus Bandara Soekarno-Hatta.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Dari Terminal 2D, mereka mulai naik. Memang, terminal ini ditujukan bagi penumpang internasional. Koper-koper besar dengan susah payah mereka naikkan ke atas bus, sesekali sambil mengeluh.

"Dulu nggak kayak gini deh, perasaan. Langsung aja check in tanpa harus capek-capek naik-turunin koper," keluh Yanti, TKW asal Jember yang bekerja di Taiwan sejak 6 tahun lalu. Begitu masuk, ia langsung duduk di sisiku, di bangku paling belakang.

Hal senada juga diiyakan oleh Saidah yang duduk di depanku. Sama-sama bekerja di Taiwan dan sama-sama kesulitan membawa koper, membuat keduanya segera akrab. Obrolan mereka berlanjut saling curhat, sesekali sambil mencongkan tubuh dan mengabaikan keberadaanku yang terjepit keduanya.

sumber photo:kumparan

Seorang ibu-ibu paruh baya, bertubuh kecil dan berkerudung hitam yang duduk di sebelah Yanti, sekali mencoba bergabung dengan obrolan mereka. Walau sudah cukup berumur, justru dialah TKW dengan tempat kerja terjauh di dalam bus itu.

"Saya di Dubai. Terbangnya selama 9 jam tadi," ucap ibu tersebut.

"Waduh, 9 jam? Aku sik 4 jam wae rasane ndredeg sikile, pegel boyoke," kata Yanti merespons dengan kaget. Kira-kira artinya, 'aku yang 4 jam (terbang) saja rasanya gemetar kakinya dan pegal punggungnya'.

"Sangar juga yho. Adoh temen. Jare gahine gedhe banget tapi aku ora wani ah nek tekan Dubai," komentar wanita di depanku yang intinya meski gaji di Dubai lebih besar, tapi dia tidak berani mencoba bekerja di sana.

Untuk kenyamanan membaca, mungkin saya akan menerjemahkan pembicaraan mereka dengan bahasa Indonesia saja.

Pembicaraan pun terus berlangsung dengan seru. Sesekali, TKW lain yang ada di dalam ikut 'nimbrung' dalam obrolan hangat Yanti dan wanita di depanku. Apalagi saat Yanti berbagi kisah mengenai keluarganya.

"Ya, aku sebenarnya pengen pulang. Tapi mau gimana lagi, terlanjur memperpanjang kontrak. Apalagi, anakku sudah jadi perjaka sekarang. Sudah nggak bisa ditungguin terus," kata Yanti bercerita.

Ia mengaku beruntung, majikannya di Taiwan tergolong baik hati. Tidak hanya memberikannya libur reguler setiap weekend untuk bertemu suami yang juga bekerja di Taiwan, Yanti juga diberi kesempatan mudik di Idul Fitri.

"Kalau nggak gini, ilang lah bojoku," ujarnya sambil terkekeh.

Sumber:kumparan

No comments

Powered by Blogger.