Galang Dana TKI Banyuwangi Berwujud Panti dan Sekolahan



Berangkat dari kampung halaman menuju ke tanah seberang atau negeri orang, berbekal keinginan dan niat untuk bekerja. Memberi nafkah keluarga dan menambal kebutuhan yang selama ini jauh untuk diperhitungkan.

Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tak pernah menjadi tujuan selamanya. Hanya lantaran himpitan dan paksaan keadaan sehingga dapat masuk dalam lingkaran buruh migran. Walau sebenarnya, belum ada jaminan kesejahteraan, keberhasilan, kenikmatan lahir atau batin karena jauh dari sanak impian.

Belum lagi, sebagai TKI kadang dianggap tak memiliki peran. Mereka tak ubahnya pekerja atau buruh biasa di tanah kelahirannya. Tapi dibalik itu, mereka memiliki tuah besar karena menjadi salah satu penyumbang devisa pada negara.

Di samping itu, jangan kesampingkan niat sosial mereka di antara kalangannya. Mengambil contoh adalah TKI asal Banyuwangi yang menasbihkan tenaganya di negara Taiwan. Dalam lingkup yang terbatas, jauh dari keluarga mereka kadang menyempatkan ruang untuk saling bersama. Bahkan, kedekatan kultur dan budaya membawa keterbukaan untuk saling berbagi.

Kenyataan itu bahkan diwujudkan dari kelompok mereka yang diberi nama Warga Muslim Indonesia Taiwan (WMIT) Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi). Maklum, Banyuwangi sebagai daerah penyumbang TKI cukup banyak di Jawa Timur bisa menjadi bukti kedekatan itu.

Dalam berbagai kesempatan, atas prakarsa beberapa anggotanya mereka melakukan pertemuan. Dari sentuhan hati ke hati, itulah yang menguatkan jalinan mereka agar tetap bersatu. Terlebih dengan sogokan moral membawa nama daerah mereka ‘Banyuwangi’ menambah kental semangat menjadi ‘Lare Osing’ sejati.

Kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan banyak yang menyentuh nilai sosial. Memberikan bantuan pada sesamanya yang kesusahan atau memberi pendampingan saat mereka yang mendapat  masalah di negera tempat bekerja. Tapi, yang paling menyentuh di antara itu dapat membangun sebuah yayasan panti asuhan sendiri.

Belakangan, yayasan itu menjadi buah bibir di beberapa kesempatan. Karena tak hanya sebuah kata-kata tapi memang wujud nyata itu terbentuk. Bangunan megah itu berdiri di atas tanah seluas 2 Hektar yang berada di Dusun Simbar 2, Desa Tampo, Kecamatan Cluring. Tempat itu diberi nama Yayasan Panti Asuhan WMIT-Ikawangi Baitussalam.

Topan Hadi Sucipto Kepala Yayasan itu mengatakan, seluruh dana pembangunan yayasan itu berasal dari sumbangan para TKI Banyuwangi di Taiwan. Proses pengumpulan dana dilakukan melalaui beberapa proses. Di antaranya, melakukan penggalangan dana secara terbuka maupun melalui rekening bersama.

“Dulu itu ada anggota yang melakukan pengumpulan dana langsung door to door ke TKI. Jadi ada yang melakukannya di taman, ada pula saat di stasiun. Tapi kita juga membuka rekening bersama untuk mengakomodir kesempatan TKI lain yang tersentuh hatinya untuk memberikan sumbangan,” kata Topan, Minggu (4/6/2017).

Pada awal pembangunan yayasan, kata Topan, telah terkumpul dana sekitar Rp 2 Milyar. Dana  itu diperuntukan untuk pembelian tanah dan pembangunan fisik yayasan. Semua biaya pembangunan atau biaya lainnya itu murni dari hasil peras keringat para TKI Banyuwangi.

“Alhamdulillah pada 2012 lalu, bangunan ini resmi berdiri. Yakni berupa bangunan yayasan atau pondokan (asrama), ruang laboratorium, sebuah masjid dan juga terdapat sekolah SMP NU Terpadu,” ungkapnya.

Sejumlah anak asuh khususnya anak yatim-piatu dan keluarga tidak mampu dari berbagai daerah telah diasuh dengan baik oleh para petugas di tempat ini. Mereka dapat menetap dan mengenyang pendidikan secara penuh dan gratis. Selain diberikan pendidikan formal, para siswa juga diberikan pendidikan agama serta beberapa kegiatan lainnya.

 “Awal itu ada 200 anak, yang terbagi dari para yatim piatu, du’afa, dan umum. Untuk yatim piatu gratis, anak-anak duafa kita tidak meminta tapi seikhlasnya saja, sementara untuk umum full dibiayai mereka sendiri,” ungkapnya.

Niat mulia para TKI ini memang perlu diberikan perhatian. Meski kini para pengurus sudah tak berada di negeri Formosa itu, namun kepercayaan para TKI Banyuwangi terhadap yayasan ini tetap tak padam.

“Jadi dana amal dari para TKI selama ini masih mengalir dari kawan kita di Taiwan. Bahkan, merekalah yang selama ini menjadi donatur murni yayasan ini. Mereka langsung mengirimkan sumbangan melalui rekening yayasan,” terangnya.

Kini, jumlah sumbangan tersbeut terus meningkat tiap tahunnya. Bahkan, para pantia di yayasan ini terus berupaya sekuat tenaga untuk menyalurkan niat baik para TKI tersebut. Salah satunya meningkatkan fasilitas maupun sarana dan prasarana lain.

“Saat ini kita lakukan perluasan, dengan membangun asrama putri dan dapur umum. Kita juga akan menambah beberapa fasilitas untuk menunjang pendidikan di yayasan ini. Termasuk memberikan biaya penuh maupun beasiswa bagi anak asuh yang nantinya ingin melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi,” ujarnya.

sumber: beritajatim

No comments

Powered by Blogger.