Kisah 3 Pekerja Kristen Diselamatkan Bos Muslim dari ISIS di Marawi



Tiga pekerja Kristen di Marawi, Filipina, mengaku meringkuk di ruang bawah tanah di rumah bos Muslim-nya selama berminggu-minggu ketika kelompok sayap ISIS memburu warga non-Muslim dari pintu ke pintu. Ketiganya berhasil melarikan diri dari kota tersebut, Selasa fajar lalu, dan menceritakan jasa majikan mereka.

”Kami mendengar mereka (militan) meneriakkan 'Allahu Akbar' dan bertanya kepada tetangga tentang agama,” kata buruh pengecat rumah Ian Torres, 25, yang telah datang ke Marawi untuk mencari pekerjaan.

”Kami hanya bisa mendengarnya. Jika mereka tidak dapat menjawab pertanyaan tentang ayat-ayat Alquran, tembakan segera menyusul,” ujar Torres.

Torres dan teman-temannya menganggap majikannya, seorang Muslim lokal, bertindak heroik ketika menghadapi para militan bersenjata itu.

Militan sayap ISIS yang semula adalah kelompok Maute itu mulai menginvasi Marawi sejak 23 Mei 2017. Mereka datang dengan mengumumkan niat menciptakan “kekhalifahan” di kota berpenduduk mayoritas Muslim di Filipina itu. Sejak saat itu, menurut militer Filipina, lebih dari 300 orang telah terbunuh.

Militer mengatakan, 26 warga sipil telah terbunuh, namun kelompok militan masih menguasai sekitar seperlima dari kota tersebut. Bahkan, para militan diduga telah menyebar ke wilayah lain di luar jangkauan militer.

Tiga pekerja Kristen yang berhasil melarikan diri itu adalah bagian dari lima kelompok pekerja asal  Iligan, sekitar 40km sebelah utara Marawi. Mereka datang ke Marawi dan dipekerjakan untuk merenovasi rumah seorang pedagang Muslim terkemuka di kota tersebut.

Tapi pekerjaan rutin yang semestinya mereka jalani berubah menjadi mimpi buruk saat mereka terjebak di wilayah yang tidak bersahabat.

Nick Andilig, 26, pekerja Kristen lainnya, mengatakan puluhan militan tiba-tiba muncul di lingkungan tempat mereka bekerja, meneriakkan "Allahu Akbar" dan menampilkan bendera hitam.
”Mereka mengaku ISIS yang muncul dalam misi untuk membersihkan kota,” katanya. Dia mengatakan bahwa mereka akan membunuh semua non-Muslim di daerah tersebut.

Menurut Andilig, para militan berusia 20-an tahun, mengenakan masker wajah dan membawa senjata api laras panjang. Dia mengatakan, majikannya telah menyembunyikan para pekerja di ruang bawah tanah. Ketika gerilyawan mencapai pintu rumahnya, para pekerja tersebut mendengarnya berdebat dengan sang majikan.

”Dia mengatakan kepada orang-orang bersenjata bahwa tidak ada orang Kristen di rumah ini,” kata Andilig. Militan akhirnya pindah ke rumah berikutnya. Lalu terdengar tembakan.

Ketika Andilig dan kelompoknya akhirnya muncul dari persembunyian, mereka melihat beberapa mayat dengan bekas luka tembak.

”Majikan kami lolos lebih dulu dengan staf rumah tangga lain,” katanya. ”Dia bilang dia akan kembali untuk kami tapi tidak pernah berhasil. Dia adalah seorang Muslim yang baik,” lanjut Andilig, seperti dikutip dari New York Times, Minggu (18/6/2017).

Bos Muslim itu meninggalkan lima pekerja, empat pria dan seorang wanita hamil di rumah tersebut.

Selama berhari-hari mereka membeli makanan yang ditinggalkan pemiliknya, kebanyakan barang kaleng dan nasi, tapi akhirnya habis. ”Kami semua memutuskan untuk melarikan diri,” kata Andilig. ”Tapi teman kami, yang hamil tujuh bulan, tidak bisa lari bersama kami, dia dan suaminya memutuskan untuk tinggal."

Saat fajar menyingsing pada hari Selasa lalu, Andilig, Torres dan Arman Langilan, 22, melarikan diri.

”Kami saling menceritakan, apapun yang terjadi,” kata Torres. ”Jika kita terkena dan mati, itu takdir kita, tapi kita harus melarikan diri atau setidaknya mati untuk mencoba (selamat).”

Mereka berganti-ganti antara berlari dan bersembunyi di semak-semak tebal hingga akhirnya sampai ke Sungai Agos, sungai yang membagi antara kota yang dikuasai militan dengan wilayah yang dikuasai militer Filipina.

Mereka ditemukan oleh polisi dalam kondisi lelah dan lapar, di sekitar bangunan kota.


sumber  : sindonews

No comments

Powered by Blogger.