Menyakitkan, Korban Perkosaan di Penjara Bareng Pelaku


ilustrasi
Pihak berwenang di Kanada melakukan penyelidikan setelah menerima laporan, seorang korban perkosaan di Alberta, Kanada, malah dipenjara dan ditahan dalam sel yang sama dengan pelaku. Keduanya bahkan dibawa ke pengadilan dalam satu mobil van.

Kasus tersebut terdengar oleh Menteri Kehakiman Kanada, Kathleen Ganley. "Fakta yang terjadi pada kasus ini sangat mengganggu dan tragis. Bahkan ketika Anda melibatkan korban dalam sistem, itu saja sudah tak bisa diterima. Hal paling jelas dalam kasus ini adalah sebuah kegagalan pada polisi dan mereka yang menangani kasus ini," ujar Ganley seperti dikutip dari South China Morning Post, 8 Juni 2017.

Kasus perkosaan itu terjadi pada tahun 2014 di Edmonton. Perempuan yang menjadi korban adalah seorang tuna wisma. Ia sedang tidur di teras sebuah apartemen saat dibangunkan oleh seorang laki-laki yang menempelkan pisau di lehernya. Pria tersebut lalu menyeret korban menggunakan rambutnya dan memaksanya menaiki tangga menuju apartemennya. Korban mengaku tak kuasa melakukan perlawanan karena tubuh kecilnya sedangkan pelaku berbadan besar. Korban juga mengaku berulangkali ditikam. Saat pertama ditemukan, saksi juga mengakui menemukan korban penuh tusukan dan lebam-lebam.

Satu tahun kemudian, korban bertemu dengan pelaku di pengadilan untuk sidang pendahuluan. Catatan pengadilan mengatakan bahwa perempuan tersebut memiliki masalah untuk tetap terjaga dan menjawab pertanyaan. Problem tersebut membuat Jaksa mengajukan permohonan agar saksi diinapkan di penjara. Hakim provinsi setuju, dan menggunakan ketentuan Kode Pidana Federal yang memungkinkan saksi ditahan jika mereka menolak menjawab pertanyaan.

Beberapa hari kemudian, di pengadilan korban memohon agar hakim membebaskannya dari penjara. Ia minta izin agar dibiarkan tinggal bersama ibunya dan berjanji akan kembali ke pengadilan untuk persidangan. "Ini bukan hal yang menyenangkan. Saya adalah korban, tapi lihatlah, Anda malah memenjarakan saya dan memborgol saya. Apa kau layak dipenjara padahal tak melakukan kejahatan?" tanyanya.

Namun hakim menolak permintaan korban dengan alasan akan sangat berisiko jika membiarkan korban terbang sendirian. Sebaliknya, korban malah ditahan dalam satu penjara yang sama dengan pelaku selama lima malam dan setidaknya dalam dua kali kesempatan, berada dalam satu mobil van yang membawanya ke pengadilan bersama pelaku. Seperti pelaku, korban juga dibawa ke pengadilan dengan tangan terborgol.

Lance Blanchard, pelaku pemerkosaan akhirnya dinyatakan bersalah atas serangan seksual, penculikan, dan pengurungan yang tidak sah. Ia dijatuhi hukuman penjara. Malang bagi korban, beberapa bulan setelah putusan pengadilan itu, ia dikabarkan tewas tertembak dalam kasus lain.

Kisah ini dibongkar oleh Canadian Broadcasting Corporation pekan ini. Menteri Kehakiman wilayah Alberta segera meresponnya. Ia mengatakan mereka akan segera melakukan penyelidikan independen dan membentuk komite, yang terdiri dari perwakilan dari sistem peradilan, untuk mengeksplorasi kesenjangan dalam kebijakan yang mungkin telah menyebabkan perlakuan berbeda pada perempuan tersebut.

"Dia korban kejahatan mengerikan. Dan ketika dia sampai di sistem peradilan, kami gagal memperlakukannya dengan rasa hormat dan harga diri yang pantas dia dapatkan,"  kata Kathleen Ganley.
sumber: viva

No comments

Powered by Blogger.