Pernah berharap orang yang kamu cintai mati? Semua orang pernah, kok


Ilustrasi

        Pernah terlintas di pikiranmu ingin melihat orang yang paling kamu cintai menghilang atau mati? Kemudian kamu merasa bersalah karena sempat memiliki keinginan sejahat itu.



Ternyata pemikiran seperti itu cukup normal, kok. Bukan berarti kamu memiliki kecenderungan psikopat atau kelainan jiwa. Menurut para psikolog, inilah yang disebut ambivalensi. Dalam video School of Life, dijelaskan bahwa ini adalah perpaduan antara pikiran positif dan negatif yang bisa terjadi justru karena kita merasakan kedekatan emosional luar biasa dengan seseorang.

Karena orang itu memiliki pengaruh emosional yang besar terhadap diri kita, rasa cinta yang mendalam kadang juga disertai dengan kebencian yang mendalam. Dalam sebagian besar waktu, kita merasakan cinta dan sayang kepada mereka. Tetapi akan ada beberapa momen yang membuat kita merasakan kebencian jauh lebih besar daripada yang kita rasakan terhadap orang lain. Momen di mana rasa sakit yang mereka sebabkan membuat kita ingin mereka hilang saja dari muka bumi.

Dalam hal ini, cinta dan benci merupakan dua emosi yang selalu berdampingan meskipun seringnya tak dirasakan pada waktu yang bersamaan. Jika kita bisa merasakan kelembutan dan ikatan dengan seseorang, kita juga bisa merasakan amarah dan muak kepada sosok yang sama.

Penting untuk diingat, pikiran-pikiran gelap itu hanya sekadar fantasi sesaat. Ini hanya pelarian temporer dari emosi menyesakkan yang sedang kita rasakan. Karena semakin intens cinta yang kita miliki, semakin rumit pula emosi yang kita rasakan. Semua itu hanya ada di dalam kepala kita, bukan berarti kita sedang merencanakan untuk membeli racun atau berniat mendorong mereka dari jembatan pada suatu sore.

Satu atau dua kali membayangkan orang yang kita cintai mati tidak mencerminkan nilai moral dan niat kita yang sesungguhnya terhadap dirinya.

Sumber : Merdeka

No comments

Powered by Blogger.