“WNI Dijual Hingga Rp 100 Juta Perorang oleh Sekelompok Sindikat, Harganya Melonjak di Daerah Konflik” Ketahui Mengapa


Ilustrasi

     Sejumlah instansi negara dari Kepolisian, Imigrasi, Kemenlu, Kementerian Tenaga Kerja dan BNP2TKI bersama-sama memerangi maraknya praktek perdagangan orang.



Mereka yang diperdagangkan umumnya sebagai pekerja di luar negeri. Hal ini dikarenkan besarnya keuntungan yang diperoleh oleh para sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Sekretaris Utama Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Hernomo mengatakan sebenarnya bekerja secara resmi di luar negeri tak sulit. Namun demikian, banyak TKI tergoda untuk berangkat ke luar negeri apalagi ke Timur Tengah.

Bahkan, kata Hernomo, biaya merekrut untuk pemberangkatan TKI oleh para sindikat ini mengeluarkan Rp 15 hingga Rp 20 juta per orang. Uang yang dikeluarkan para kelompk ini termasuk memberikan uang saku kepada pihak keluarga. Namun demikian pada akhirnya mereka yang diberangkatkan justru dijual dengan harga tinggi di luar negeri.

“Mereka bisa menjual ke Timur Tengah antara Rp 70 juta sampai 100 juta per orang, jadi keuntungan memang sangat luar biasa,” ungkap Hernomo dalam jumpa pers di Gedung Direktorat Jenderal Imigrasi, Kemenkumham, Jakarta Selatan, Minggu (4/6/2017).

Dikarenakan adanya keuntungan yang besar atas tindak kejahatan ini, lanjut Hernomo, para sindikat ini akhirnya tak sungkan untuk menyuap dan melakukan berbagai macam upaya untuk memperdagangkan orang. Bahkan ditaksir keuntungan yang mereka peroleh hanya untuk seorang TKI bisa mencapai Rp 50 Juta orang.

Modus penyeludupan orang yang dilakukan diantaranya pemberangkat melalui pelabuhan tak resmi. Oleh karena itu, aparat negara berkomitmen untuk melawan praktek kejahatan ini. Termasuk melakukan upaya dini seperti pencegahan pemberangkatan ke luar negeri.

Faktor yang menjadi pendorong adalah tingginya demand apalagi telah terjadi moratorium.  Akan tetapi persoalannya tenaga kerja Indonesia masih disukai karena kesamaan budaya dan agama, oleh karena itu diperlukan solusi untuk mengatasinya.

Menurut Hernomo, para TKI ini bahkan adanya yang dibelokkan ke negara konflik dikarenakan tingginya permintaan untuk mempekerjakan tenaga kerja domestik. Keberadaan para TKI ini, belum tentu keterlibatan mereka sebagai jaringan kelompok teror .Namun mereka semata-mata hanya dipekerjakan. Walaupun sebenarnya, para TKI ini tak mengetahui mereka akan diberangkatkan seperti ke Suria atau Yaman.

“Maka ini banyak sekali pemulangan TKI dari Suriah tak habis karena masuk terus, karena itu memang permintan tinggi, harganya lebih tinggi dibandingkan negara aman, karena negara konflik itu lebih menguntungkan rupanya bagi pedagang manusia ini, makanya kita bersama-sama memerangi ini untuk melakukan penindakan tehadap pelaku,” jelas Hernomo.

Sumber :Epoch Time

No comments

Powered by Blogger.