Kirim TKW Ilegal, Inem Ditangkap di Tanjungbalai

sumber photo:analisadaily

Seorang perempuan inisial B alias Inem (41), warga Dusun VII, Bukit Besilam, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat, ditangkap polisi di Pelabuhan Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai, sesaat sebelum berangkat ke Malaysia.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Inem diduga sebagai agen perekrut dan pengirim tenaga kerja wanita (TKW) secara ilegal. Dia juga disinyalir memiliki jaringan dengan agen-agen TKI ilegal di Malaysia.

"Modusnya korban diberangkatkan sebagai TKI ke Malaysia menggunakan visa wisata, bukan visa untuk bekerja," beber Kepala Subdit IV Bidang Remaja, Anak-anak dan Wanita (Renakta) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumut, AKBP Hari Sandy Sinurat, di Mapolda Sumut, Kamis (27/7).

Kasus ini terbongkar saat Sandy Sinurat melakukan investigasi ke Malaysia. Dari sejumlah penuturan para TKI ilegal di Malaysia yang berhasil ditemui, dia mendapatkan informasi bahwa perekrut dan pengirim mereka ke Malaysia adalah seorang perempuan inisial B alias Inem.

"Salah satu saksi bahkan menunjukkan foto profil FB Inem. Lalu dari situ kami telusuri. Nah, ada dua korban yang membuat laporan aduan ke polisi. Kami lacak ke rumahnya, Inem tidak ada. Ia ternyata ada di Pelabuhan Teluk Nibung, Tanjungbalai, Sumut. Lalu kami tangkap," terang Sandy Sinurat.

Sandy Sinurat menjelaskan, penangkapan terhadap seorang sindikat penjualan manusia tersebut dilakukan pada Selasa (18/7) lalu. Malam itu juga, tersangka diboyong ke Mapoldasu untuk diperiksa.

Dari hasil pemeriksaan penyidik, ungkap Sandy, ternyata pelaku merekrut calon TKI dengan cara mendatangi para korban dan dijanjikan bekerja di Malaysia sebagai cleaning service atau pembantu rumah tangga dengan gaji sekitar 1000 Ringgit dan disediakan tempat tinggal.

Ada lima orang yang menjadi korban, yakni Nora Simanjuntak (48), warga Langkat, Maharani Ilda Sahara Siregar (19), warga Langkat, Ubay (42) warga Langkat, Ana (52), warga Tanjung Brahe dan Ade Elvina Piliang (35) warga Binjai Utara.

"Para korban ini sudah sempat dipekerjakan di Malaysia selama 1 sampai 2 tahun tapi tidak mendapat gaji dan diperlakukan tidak layak oleh majikanya," sambung Sandy.

Dalam kasus ini, tersangka dijerat pasal 4 dan pasal 10 UU No 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Penjualan Orang (TPPO) dengan ancaman hukuman 15 tahun dan pasal 102 UU No 35 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri.

Sementara Inem membantah segala tuduhan yang dialamatkan padanya. Ia mengaku tidak ada menjual orang. Dia beralasan justru berusaha membantu rekan sebangsanya yang pengangguran agar mendapat pekerjaan halal di luar negeri.

"Saya bukan memperdagangkan orang. Bukan. Malah dia (Nora-red) yang datang dan minta tolong ke saya untuk dicarikan kerja. Saya bilang kamu mau kerja apa? Yang ada hanya kerjaan cleaning servis dan pembantu rumah tangga. Oke. Dia tanya, macam mana soal biayanya? Saya bilang bisa saya dahulukan. Lalu saya pinjamkan uang sekitar 6 atau 7 juta lebih," kata Inem.

Namun Inem mengakui kesalahannya mencari, merekrut dan mengirimkan TKI secara pribadi. Seharusnya, pengiriman TKI harus melalui lembaga resmi.

"Walaupun dia membantah menjual orang, namun perbuatannya masuk kategori itu. Merekrut TKI secara Ilegal, mengirimkannya secara tidak sah, kemudian orang menjadi tereksploitasi di sana dan terjerat utang di luar negeri karena mereka harus bekerja untuk melunasi utang itu. Sebenarnya, dia tahu itu salah. Di Malaysia juga pasti dia sembunyi-sembunyi. Visanya juga visa kunjungan, bukan visa kerja," tandas Sandy.

Sumber:analisadaily

No comments

Powered by Blogger.