Perselingkuhan Itu Terungkap Saat Hari Pernikahan Makin Dekat

Ilustrasi

   Kisah sahabat Vemale dalam tulisan yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Here Comes the Bridezilla ini bikin kita gregetan dan ikut marah. Tapi kemudian hati kita akan dibuat luluh oleh keputusan yang akhirnya diambil.



Setelah berpacaran selama 6 tahun lebih akhirnya hari yang kutunggu-tunggu itu pun tiba. Wanita mana yang tidak bahagia dan senang bersanding dengan orang yang sangat dicintainya? Setelah proses lamaran awal Desember, kedua orang tua kami sepakat untuk tanggal pernikahan di bulan Februari 1999. 

Persiapan pun kami lakukan. Mulai dari undangan, surat-surat yang harus kami urus untuk persyaratan nikah, tukang rias sampai ke tukang masaknya nanti. Karena akad dan nikahnya dilaksanakan di rumah saya. Benar-benar menguras energi dan pikiran. Karena tinggal di kampung jadi kami mengundang hampir 1000 undangan. Maklumlah keluarga ibu dan ayah saya banyak sekali kerabatnya jadi katanya tidak enak kalau tidak mengundang-undang.

Undangan sudah jadi, ternyata nama calon mertua laki-laki saya yang ada di undangan salah semua. Duh betapa kecewanya saya. Waktunya sudah mepet pakai segala salah lagi. Padahal saya sudah jelas sekali menulis nama-nama orang yang ada di undangan. Akhirnya orang percetakan mau mencetak ulang kembali undangan pernikahan kami berdua. Masalah bukan hanya sampai di situ saja.

Suatu hari saya datang ke rumah calon mertua untuk membereskan kamar calon suami. Karena rencananya setelah menikah saya dan suami ingin hidup mandiri, kami berencana mengontrak rumah sederhana yang nantinya tidak jauh dari suami saya bekerja. Saya bereskan pakaian dan semua buku-buk dia waktu kuliah. 

Calon suami saya lulus kuliah tahun 1997. Iseng-iseng saya buka-buka karena ingin tahu saja tentang kuliahnya dulu. Mungkin Allah ingin menunjukkan bagaimana kesetiaan pacar saya selama dia jauh dari saya. Karena dulu kami pacaran jarak jauh. Saya kuliah di Jakarta, pacar saya kuliah di Bandung. Kami bertemu paling hanya 2 minggu atau sebulan sekali.

Selama pacaran saya percaya saja dia tidak akan mengkhianati saya. Calon suami saya itu bukan laki-laki yang mata keranjang dan orang yang sangat-sangat cuek dan sedikit pendiam. Tapi ternyata saya salah. 

Saya menangis, marah, kecewa, sakit hati rasanya seperti beribu-ribu jarum menusuk hati ini. Saya pulang dengan perasaan hancur atas pengkhianatan yang dia lakukan. Saya tunggu sampai dia pulang kerja karena saya ingin dia menjelaskan apa arti semua itu. Tadinya dia tidak mengakuinya tapi setelah saya tunjukkan semua surat-surat cinta yang saya temukan barulah dia mau jujur sama saya.

Katanya wanita itu adalah tetangga depan rumah kosnya waktu dia kuliah Bandung dulu. Mereka berhubungan hampir 1 tahun lebih, tapi hubungan itu berakhir karena wanita itu dijodohkan oleh keluarganya dengan laki-laki yang sudah mapan. Ya Allah berarti selama ini saya sudah diduakan. Dan bodohnya lagi saya begitu mempercayainya.

Sebagai seorang wanita tentu saya marah-marah padanya. Saya tanya kenapa dia tega mengkhianati saya, padahal selama pacaran saya berusaha setia padanya. Bahkan dia larang-larang saya, membatasi pergaulan saya. saya turuti semua kemauannya. Dan balasannya pengkhianatan yang dia lakukan. Dia hanya minta maaf, katanya karena dulu jauh dari saya dan wanita itu duluan yang mendekatinya. Ah entahlah itu benar atau tidak, yang pasti saya kecewa.

Lalu saya bilang kenapa baru sekarang saya mengetahuinya kenapa tidak dari kemarin-kemarin. Katanya itu kan masa lalu dan kita tidak harus membicarakannya. Ya Tuhan semudah itu dia ngomong seperti itu. Apa dia tidak memikirkan perasaan saya sebagai seorang wanita? Dan mungkin kalau saja saya tidak menemukan surat-surat itu saya tidak akan tahu bahwa pasangan saya ternyata pembohong.

Selama beberapa hari saya tidak mau bertemu dengannya. Saat itu hanya menangis dan menangis yang saya bisa. Saya tidak menceritakan hal ini dengan kedua orang tua saya. Saya sudah tidak semangat lagi mengurusi pernikahan saya. Bahkan saya sempat berpikir untuk membatalkan saja pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi.

Saya jadi bimbang dan ragu dengan keputusan saya. Kalau pernikahan ini tetap dilanjutkan apakah nantinya calon suami saya akan jujur dan mengkhianati saya lagi? Toh dulu juga dia pintar menutupi kebusukannya. Entah dulu di Bandung berapa banyak wanita yang sudah dipacarinya. Kalau diingat-ingat, saya jadi gila rasanya. Saya hanya bisa berdoa memohon pada Yang Kuasa. Saya adukan semua perih yang terasa kepada-Nya.

Akhirnya saya utarakan keinginan saya untuk membatalkan pernikahan kami, tapi calon suami saya tidak mau. Dia ingin kami tetap menikah, karena bagaimana perasaan orang tua kita berdua nanti. Persiapan sudah beres semua, tinggal menyebarkan undangan. Calon suami juga bilang dulu dia khilaf. Dia benar-benar mencintai saya dan ingin menikah dengan saya. Dia juga berjanji tidak akan mengkhianati saya. Dia merasa bersalah sudah mengkhianati saya. Orang yang benar-benar mencintainya dan mau berkorban apapun untuknya. Jujur saya pun masih sangat mencintai calon suami saya. Karena memang hanya dia yang ada di hati saya. Dan saya takut kehilangan dia.

Ya ternyata cinta memang bisa mengalahkan segalanya. saya maafkan dia dan akhirnya kami tetap menikah. Saya percaya setiap orang punya masa lalu, asalkan dia mau benar-benar berubah untuk menjadi lebih baik kenapa kita tidak mendukungnya? Sekarang pernikahan kami sudah menginjak usia 18 tahun dan dikaruniai 3 orang putri. Alhamdulillah suami tidak mengulangi lagi hal yang dulu pernah dia lakukan terhadap saya. Kami berusaha tetap saling percaya, jujur, terbuka tentang segala hal. Semoga saja pernikahan ini tetap SaMaWa hingga ajal yang memisahkan.


Sumber : Vemale

No comments

Powered by Blogger.