Sidney Jones: "Ada napi kasus teror pacaran dengan enam perempuan TKI di Hongkong"

Sekumpulan TKI di Victoria Park Hong Kong, yang menunjukkan berbagai haluan yang berbaur.


      Seorang pegiat buruh migran di Hongkong, menyesalkan laporan yang menyebutkan adanya upaya radikalisasi terhadap tenaga kerja Indonesia di Hongkong. Namun direktur IPAC menegaskan jumlah yang teradikalisasi sejauh ini sangat sedikit namun tetap harus ditangani serius.


Ketua Aliansi Buruh Migran Internasional di Hong Kong, Eni Lestari, dalam wawancara dengan BBC Indonesia menjelaskan selama mengorganisir pekerja migran setiap hari Minggu, ia belum pernah menemukan adanya promosi atau perekrutan ISIS.

Eni menegaskan: "Kalau ada, maka tangkap dan hukum saja mereka yang sengaja memanfaatkan kerentanan pekerja migran perempuan untuk dieksploitasi," kata Eni.

Dalam kesempatan terpisah beberapa waktu lalu, sejumlah pegiat TKI kepada wartawan BBC yang mengunjungi Hong Kong juga mengaku berusaha membendung radikalisasi dengan berbagai kegiatan postifi, namun menyatakan tak tahu terjadinya radikalisasi di sekitar mereka.

Direktur Institute for Public Analysis of Conflict (IPAC) , Sidney Jones menegaskan, ia memahami kecemasan Eni Lestari, namun menegaskan bahwa perekrutan oleh kaum ekstrimis itu dilakukan secara rahasia terutama melalui jaringan online, yang diteliti oleh timnya secara teliti.

Berikut percakapan Ging Ginanjar dari BBC Indonesia dengan Sidney Jones.

Beberapa pegiat buruh Indonesia di Hong Kong mencemaskan bahwa penelitian itu membuat mereka terstigma. Bagaimana tanggapan Anda ?

Saya kira pertama harus dimengerti bahwa jumlahnya sangat sedikit. Jadi yang sudah terpengaruh oleh faham ekstrim mungkin atau kira-kira 50 orang dari 150.000 orang Indonesia yang bekerja di Hongkong.

Jadi, bukan bahwa ada kecenderungan untuk semua buruh migran terkena faham ekstrimis.

Tapi ada beberapa faktor yang bisa disebut. Pertama, yang biasanya tertarik (pada ekstremisme) adalah orang yang punya semacam masalah pribadi yang cukup besar yang mendorong mereka mencari komunitas baru. Atau mencari jalur di mana mereka bisa 'memurnikan diri' melalui agama.

Lalu kedua, konflik di Suriah cukup penting sebagai faktor kenapa orang tertarik untuk menolong korban di Suriah. Mereka cari bahan-bahan di internet, akhirnya ketemu dengan kelompok-kelompok antara lain kelompok jihadi.

Kemudian, tidak sedikit jumlah orang yang mulai melakukan e-dating atau mulai berpacaran dengan para pejihad secara online, melalui pertemuan di internet .

Bagaimana polanya: biasanya mereka, para buruh ituyang mencari terlebih dahulu dengan prakarsa sendiri, atau para perekrut itu yang mendekati mereka?

Kedua-duanya. Ada misalnya seorang narapidana kasus teror di dalam penjara di Indonesia yang melalui (aplikasi) Telegram bisa ketemu dengan perempuan di Hong Kong. Dan (sebagian) orang di Jakarta menganggap perempuan TKI di Hong Kong sebagai orang kaya (karena gajinya lebih tinggi).

Dan ada satu kasus, seorang napi kasus teror bisa berpacaran dengan enam perempuan di Hong Kong dan mendapat uang dari mereka semua. Mereka mendapat kiriman uang yang ditransfer ke Indonesia. Jadi itu mmerupakan semacam eksploitasi juga.

Apakah para TKI yang jadi korban atau direkrut pejihad itu, sejauh ini hanya berhubungan dengan jihadis Indonesia atau juga berhubungan dengan para pejihad asing?

Ya, ada beberapa kasus perempuan Indonesia di Hong Kong bisa menikah dengan pejihad asing yang berada di Suriah. Misalnya satu kasus, perempuan Indonesia di Hong Kong menikah dengan orang Afrika di Suriah dan kemudian dia terbang ke Suriah untuk ikut dengan suaminya.


Sumber : BBC

No comments

Powered by Blogger.