TKI Asal Nogosari Tewas dengan Dua Bacokan

HISTERIS: Fiqi, anak korban menangis sesenggukan begitu jenazah Holili sampai di rumah duka, di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji kemarin sore. Holili adalah TKI asal Jember yang dibunuh di Malaysia, Sabtu (15/7) lalu.

Setelah beberapa hari dikabarkan tewas dibunuh di Malaysia Sabtu (15/7), akhirnya jenazah Holili, seorang TKI asal Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, akhirnya tiba di kampung halamannya, Selasa (18/7) kemarin. Kedatangan pria berumur 40 tahun itu, mengundang tangis keluarga, kerabat dan tetangganya.



Tangisan paling keras terdengar dari kedua anak Holili, yakni Fiqi dan Fita. Bahkan Fiqi, yang baru saja diterima kuliah di perguruan tinggi yang ada di salah satu ponpes di Situbondo, sampai tak sadarkan diri saat melihat ayahnya dibungkus peti mati. Sedangkan adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 5, terus memanggil nama ayahnya dan meminta supaya tidak meninggalkannya.

Fiqi, harus pulang ke rumahnya setelah mendengar ayahnya tewas dibunuh Sabtu (15/7) malam. Sejak hari itu, dia tampak shock, tidur tak nyenyak, makan pun tak nyaman. Maklum saja, meski ayahnya perantauan, namun dia cukup dekat dengan ayahnya. Bahkan meski dari pondok pesantrennya di Situbondo, dia tetap menjaga komunikasi dengan ayahnya yang di Malaysia

Sebelum jenazah Holili tiba di rumah duka, Jawa Pos Radar Jember sempat berbincang dengan Fiqi. Dia mengaku, ayahnya tidak pernah cerita tentang permasalahan dengan orang lain. Dia juga tidak pernah mendapat firasat apa pun sebelum ayahnya terbunuh. “Saya tidak tahu apa penyebabnya,” katanya.

Sementara kakak korban yang mengaku bernama Holil, sempat komunikasi dengan teman kerja adiknya di Malaysia. Kata teman adiknya, motif sementara pembunuhan adiknya karena persoalan kerja. Kemungkinan besar, pembunuh adiknya merasa iri karena korban jadi kepala pekerja di sebuah proyek pembangunan gedung pencakar langit di Malaysia.

Kata Holil, ada salah seorang saksi yang mengetahui peristiwa pembunuhan adiknya, mengaku bahwa Holili dihabisi saat salat Isya. Korban dibacok dari belakang. Bagian leher bagian belakang dan perutnya, sobek karena sabetan senjata tajam. “Saat itu adik salat di lantai dasar bangunan proyek. Sedangkan teman-temannya, sedang makan bersama di lantai dua,” katanya.

Teman-temannya tahu korban dihabisi, setelah mendengar teriakan takbir dari korban. Karena keras dan tidak wajar, teman-temannya pun mendekati korban. Benar saja, korban sudah berlumuran darah karena bacokan hebat. “Tapi teman-temannya mengaku tidak ada yang tahu, saat adik saya dibacok,” imbuhnya.

Namun menurut Holil, teman-temannya sempat melihat ada tiga orang di lokasi pembunuhan korban. Bahkan, mereka menjamin bahwa pelaku pembunuhan tersebut bukan orang Malaysia melainkan warga negara Indonesia yang juga berstatus TKI.

Holil, tak berharap banyak pelaku bisa diamankan pihak kepolisian Malaysia. Sebab yang dia tahu, kepolisian setempat tidak begitu serius mengejar pembunuh jika bukan warga negaranya sendiri. “Saya dan keluarga tinggal meminta keadilan,” tuturnya.

Masih kata Holil, korban anak kedua dari empat bersaudara. Sejak tiga tahun silam, adiknya itu memilih merantau ke Malaysia. Pernah pulang setelah dua tahun di Malaysia. Setahun lalu, kembali lagi karena sudah telanjur dipercaya bosnya. “Bosnya orang Malaysia. Adik jadi kepala pekerja, karena sudah telanjur dipercaya,” katanya.

Selama jadi kepala pekerja di proyek tempatnya bekerja, korban suka mengajak tetangganya termasuk keponakannya dari anak Holil. Sementara Entatik (istrinya di kampung) membuka usaha semacam salon di rumahnya.

Perlu diketahui, jenazah korban disemayamkan sampai dua kali. Awalnya, ambulans yang membawa jenazah dari Bandara Juanda Surabaya, sempat berhenti di rumah istri korban. Setelah sekitar sejam disemayamkan di sana, kemudian diantar ke rumah keluarganya yang satu desa. Setelah itu, langsung dikubur di pemakaman umum di Dusun Gumuk Gebang, Desa Nogosari, Rambipuji. 


Sumber : Jawa Pos

No comments

Powered by Blogger.