Banjir Akibat Hujan Lebat di Gujarat, 213 Orang Tewas


Banjir parah di India barat telah memakan korban hingga 213 jiwa. Para pejabat juga khawatir bahwa jumlah tersebut akan meningkat.



Hampir 130.000 orang di Gujarat telah dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Hal tersebut dilakukan setelah ratusan kota dan desa hancur akibat hujan lebat yang berlangsung selama berminggu-minggu.

Dikutip dari The Guardian, Selasa (1/8/2017), banjir tersebut telah melumpuhkan Gujarat. Penerbangan dialihkan, lebih dari 150 pabrik tak beroperasi, dan diperkirakan 50.000 ladang kapas terendam.

Menurut laporan media lokal, lebih dari 4.000 hewan diyakini mati akibat insiden tersebut.

Hingga kini sekitar 700 orang di seluruh India tewas dalam hujan lebat yang berlangsung dalam beberapa minggu terakhir. Banjir tersebut merendam jalanan, merusak jaringan listrik, dan memicu badai petir mematikan.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, menjanjikan setidaknya 60 juta pound sterling untuk mendanai bantuan sementara. Dalam pidatonya yang disiarkan di radio, Modi mengatakan akan berupaya maksimal untuk membantu warga yang terdampak banjir hebat.

Sama seperti Gujarat, negara bagian Arunchal Pradesh dan Assam telah dilanda banjir hebat, begitu pun dengan Odisha dan Bihar. Selain banjir, badai petir yang terjadi di Odisha dan Jharkhand telah menewaskan 21 orang.

Seperti dilaporkan pejabat otoritas, sebagian besar korban sedang bekerja di ladang ketika petir menyambar mereka. Ribuan warga India tersambar petir setiap tahunnya, di mana sebagian besar terjadi saat mereka bekerja di ladang pada musim hujan yang terjadi pada Juni hingga Oktober.

Terdapat laporan bahwa 140 orang tewas akibat tersambar petir sejak Mei 2017 di Bihar.

Ahli meteorologi mengatakan, curah hujan di Gujarat tersebut merupakan yang tertinggi dalam 112 tahun. Hal tersebut merupakan hasil dari sistem bertekanan rendah yang terbentuk bersamaan di atas Teluk Benggala dan Laut Arab.

Banjir menewaskan ribuan orang setiap tahunnya di India. Kerusakan diperparah dengan lemahnya standar bangunan, tingginya tingkat kemiskinan, dan permukiman liar bermunculan di daerah berisiko tinggi.

Penelitian 2016 menemukan, banjir merupakan risiko paling signifikan bagi masyarakat dan bisnis di Asia selatan. Sekitar 113 juta di India atau hampir 10 persen populasi, terdampak banjir dengan parah.

Sumber : Liputan6

No comments

Powered by Blogger.