Belajar dari Medsos, Kerajinan Perca Wanita Ponorogo Laku Keras

Ilustrasi

    Siapa sangka, kain perca sisa dari bahan jahit ternyata bisa dimanfaatkan menjadi berbagai aksesori. Inilah yang dimanfaatkan oleh Varida Widayanti (29 tahun) warga Kauman, Ponorogo, Jawa Timur, memulai usahanya.



Ia pun terampil membuat bros, headpiece, headband, flowercrown, bando dan aneka souvenir handmade. Usaha yang ditekuninya sejak tahun 2012 lalu ini ternyata diminati pasar.

"Awalnya saya belajar dari teman membuat bros simpel, kemudian saya belajar dari (media sosial) YouTube membuat varian lainnya, alhamdulilah laku juga di pasaran," tutur Varida kepada Liputan6.com, Sabtu, 5 Agustus 2017.

Bahkan, Varida membuat bros unik yang identik dengan Ponorogo, yakni bros bulu merak. Bros ini dibanderol dengan harga Rp 30 ribu. "Bros bulu merak ini yang paling laris," ucapnya.

Tidak hanya Varida, di Ponorogo juga ada komunitas Ponorogo Crafter Community (PCC) yang terbentuk sejak tahun 2016 lalu beranggotakan warga Ponorogo yang menggeluti usaha crafting.

Pelanggan Varida datang dari Ponorogo, Madiun, Kediri, Ngawi, Kalimantan, bahkan juga Hong Kong. "Beberapa kali para TKI membawa dagangan saya dan dipasarkan di Hong Kong," katanya.

Varida berharap dengan adanya bisnis ini, ia semakin membuktikan bahwa membuka usaha harus disertai dengan kemampuan dan bahan yang ada. Omzet usaha ini mencapai jutaan.

Seringkali pesanan suvenir pernikahan bisa mencapai Rp 1 juta. Untuk harga bros dijual dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 35 ribu dan headpiece harga Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu.

"Kita harus pintar memanfaatkan barang bekas sehingga menghasilkan barang yang berkualitas dan contohnya perca bisa menjadi nilai yang istimewa," ujarnya.


Sumber : Liputan 6

No comments

Powered by Blogger.