Bisnis Tas Rotan, Pria Ini Kantongi Omzet Rp 50 Juta/Bulan

sumber photo:detik

Rotan biasanya digunakan untuk membuat alat rumah tangga seperti kursi, meja hingga bale-bale. Tapi di Kalimantan Utara rotan disulap menjadi tas yang biasanya dari kanvas, kulit atau kain.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Pemilik Ethnic Belanyat Wai, Abdul Haris mengatakan rotan dipilih menjadi kerajinan tas karena di tempat tinggalnya hasil rotan melimpah.


"Jadi masyarakat, di sana adalah petani. Kemudian sambil menunggu panen mereka menjadi pengrajin rotan dan dikirim ke kami," kata Haris saat dilansir dari detikFinance di stan Karya Kreatif Indonesia, Sabtu (19/8/2017).

Dia mengatakan pemilihan rotan juga menjadi salah satu cara untuk mengangkat kerajinan khas Kalimantan Utara.

Haris mengatakan, rata-rata per bulan omzet yang didapatkannya sekitar Rp 30 juta, itu jika sedang sepi.

"Jika sedang ramai dan banyak tamu datang ke Kalimantan Utara, bisa sampai Rp 50 juta. Karena mereka biasanya borong oleh-oleh khas daerah," kata dia.

Dia mengatakan, setiap satu jenis atau motif hanya dibuat maksimal 6 buah. Jadi produk tas atau dompet rotan ini adalah edisi terbatas.


Harga tas dibanderol paling murah Rp 500.000 sampai Rp 1,5 juta. Ini di sesuaikan dengan motif dan tingkat kesulitan tas rotan itu sendiri.

Namun, jika ada pelanggan yang ingin memesan secara custom maka dia bersedia untuk membuatkannya kembali.

"Kami juga selalu memperhatikan tren yang sedang berlangsung, kami ingin mengikuti pasar maunya seperti apa supaya kami tidak terjebak di motif dan model jadul jadi bisa juga digunakan oleh anak muda," tambahnya.

Menurut dia, kebanyakan anak muda di wilayahnya atau di Indonesia. Tidak mau menggunakan tas berbahan dasar rotan. Dengan alasan model yang kurang cantik dan terkesan tua.

"Anak muda biasanya tidak mau pakai tas rotan, alasannya tidak modis. Tapi saya berusaha membuat tas-tas ini se-modis mungkin supaya ABG mau pakai," tambah dia.

Haris menjelaskan, dia memulai bisnis tas rotan ini sejak 2014 dan sudah ada sekitar 3.000 tas yang diproduksinya. Sebelum menekuni kerajinan ini, dia bekerja di percetakan.

Namun karena kondisi ekonomi yang tidak menentu maka perusahaannya tutup dan akhirnya dia memilih rotan menjadi usaha barunya.

Di pameran Karya Kreatif Indonesia 2017 ini Haris menceritakan dia bangga karena salah satu tas karyanya dibeli oleh istri Wakil Presiden RI Mufidah Jusuf Kalla dan istri Gubernur BI Nies Martowardojo.

"Saya bangga sekali tasnya dibeli oleh ibu Mufidah dan ibu Agus. Mudah-mudahan bisa menjadi sarana promosi ya dan tas rotan ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat," ujar dia.

Haris menceritakan, Mufidah Kalla membeli tas rotan seharga Rp 680.000 dan Nies Martowardojo membeli tas seharga Rp 630.000.

Dia menceritakan kepala daerah di Kalimantan Utara sangat mendukung usaha kerajinan rotan. Haris mencontohkan seluruh pegawai negeri sipil (PNS) diwajibkan menggunakan tas rotan dan batik khas Malinau.

"Jadi harus khas Malinau tidak boleh dari luar. Ini jadi salah satu bentuk dukungan untuk pengrajin seperti kami," ujarnya.

Sumber:detik

No comments

Powered by Blogger.