Dapat Pisau Cukur dari Sipir, Tahanan Potong Penis di Dalam Sel



Seruan untuk dilakukan penyelidikan muncul mengikuti upaya bunuh diri yang dilakukan seorang tahanan di penjara Manchester, Inggris. Tahanan bernama Peter Smith ditemukan terkapar berlumuran darah, dengan penis yang terpotong, akibat sayatan pisau cukur.


https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Ahli bedah harus berjuang selama 26 jam untuk menyelamatkan nyawa lelaki 55 tahun tersebut.

Desakan investigasi muncul karena diketahui Smith mendapatkan pisau cukur tersebut dari salah satu sipir penjara. Mendapati fakta itu, pihak keluarga menuntut jawaban, mengapa seseorang tahanan yang memiliki riwayat menyakiti diri sendiri bisa diberi pisau semacam itu.

Seminggu sebelum kejadian ini, Smith pun sempat mencoba menyayat pergelangan tangan kirinya. Dia menggunakan potongan plastik untuk melukai diri di dalam tahanan polisi.

Keluarga Peter Smith mengatakan kepada Mirror, tentang bagaimana kejadian yang menimpa Smith.

Dia diketahui menggunakan pisau cukur sekali pakai sebagai alat pemotong.  Ayah dari lima anak yang mantan tentara itu lalu ke rumah sakit dalam kondisi sekarat. Tim dokter berupaya menyelamatkan nyawa Smith, dan menyambung penis yang terputus.

Nyawa Smith dapat diselamatkan, dan kini dia telah dikembalikan ke penjara dan menjalani pengawasan serta perawatan medis.

Tuntutan keluarga

Salah satu anak Smith, William (27) menilai, seharusnya sang ayah tak ditahan di penjara umum, melainkan di unit psikiatri.

William mempertanyakan bagaimana mungkin ayahnya bisa menyakiti diri sendiri, saat mendekam di penjara yang juga dikenal dengan sebutan Strangeways itu.

"Ini menjijikkan. Penjara tidak menjalankan tugasnya," kata dia. "Ayahku seharusnya tidak diijinkan menggunakan pisau cukur," sambung dia.

William bercerita, ayahnya ditangkap pada 7 Juli lalu, karena dicurigai memiliki senjata api dan pelanggaran obat-obatan terlarang.

Keesokan harinya, Smith berusaha menyayat pergelangan tangannya di kantor polisi.

Lalu, pada 10 Juli 2017 dia muncul ke pengadilan. Dalam persidangan itu diputuskan, Smith ditahan dalam tahanan.

Hanya berselang lima hari, dia pun kembali melukai dirinya sendiri di selnya.

"Anda diperbolehkan menggunakan pisau cukur, tapi mereka melihat Anda bercukur dan Anda mengembalikan pisau cukurnya."

"Tapi yang terjadi, petugas meninggalkan ayah saya sendiri dengan pisau cukur itu," ungkap William.

"Sejauh yang saya tahu mereka telah mendengarnya berteriak dan berlari ke pintu," sambungnya.

Setelah menghabiskan satu minggu di rumah sakit, Smith dikembalikan ke penjara dalam pengawasan dan perawatan medis.

"Ayah saya bilang dia sangat kesakitan. Dia menangis dan aku belum pernah melihatnya menangis dalam hidupku."

"Ayah saya benar-benar tidak sehat. Saya belum pernah mendengar hal seperti ini dalam hidup saya. Dia seharusnya tidak dipenjara."

"Dia harus berada di bawah penanganan kesehatan mental," kata dia.

William mengaku telah keluhan resmi kepada HMP Manchester atas insiden tersebut, dan telah meminta penjelasan dari otoritas yang berwenang.

Dalam sebuah surat terbuka Andrea Albutt, Presiden Prison Governors' Association (PGA), mengakui adanya masalah yang mengakibatkan kemunduran dalam layanan di penjara.

"Kami tahu banyak penjara dalam krisis, dan saya sengaja menggunakan istilah itu, karena tidak dapat diatasi dengan cara lain," kata dia.

"Kami tahu bahwa penjara kami menghadapi sejumlah tantangan lama, oleh karena itu kami telah mengambil tindakan segera untuk meningkatkan jumlah petugas penjara."

"Ini akan membantu menciptakan layanan yang berbeda dan profesional," ungkap Albutt.


sumber : kompas

No comments

Powered by Blogger.