<-->

Dari Emperan Kios, Hiasan Kulkas Warga Klaten ke Malaysia

sumber photo:harianjogja

Purwanto, 45, menempelkan potongan kertas serta kain batik pada pensil dengan salah satu ujung sudah dihias menggunakan biji pohon nyamplung.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Tak perlu butuh waktu satu jam, puluhan pensil sudah ia hias menjadi boneka. Pensil-pensil itu selanjutnya disetor ke sejumlah pedagang di Malioboro, Jogja sebagai suvenir.

Aktivitas itu dilakukan Purwanto di emperan salah satu kios yang berada di Pasar Hewan Prambanan, Klaten. Warga asal Dukuh Koplak, Desa Kebondalem Kidul, Prambanan tersebut dikenal sebagai pembuat suvenir.

Ia memanfaatkan emperan kios Pasar Hewan Prambanan sejak 10 tahun terakhir. Tak hanya mengubah pensil menjadi suvenir berbentuk boneka. Purwanto kerap melayani berbagai bentuk suvenir lainnya seperti gantungan kunci, tempelan kulkas, hingga miniatur candi dengan bahan fiber glass.

Purwanto menuturkan sejak kecil sudah menyukai beragam bentuk suvenir. Ia pun mulai belajar membuat suvenir. Hingga ketika lulus SMA pada 1990 silam, ia mulai menjadikan kesukannya tersebut sebagai sumber pendapatan.

“Awalnya ya hanya melihat-lihat saja prosesnya. Kemudian, lulus SMA itu saya putuskan untuk memproduksi suvenir,” kata pria lulusan SMAN 1 Wedi tersebut saat ditemui.

Kemampuan Purwanto semakin terasah. Tak hanya membuat suvenir, ia mulai mendapat beragam pesanan untuk membuat relief atau patung berukuran besar.

“Relief atau patung itu dibuat menggunakan fiber glass. Jika dibuat dari batu, untuk membuat ukirannya tentu sulit. Tetapi, kalau menggunakan fiber glass tinggal mencetak saja,” ungkapnya.

Pesanan pun mengalir. Tak hanya dari dalam negeri, pesanan yang datang berasal dari luar negeri seperti Amerika, Italia, serta Perancis. Ia kerap mendapat pesanan patung atau relief berukuran besar dengan tinggi minimal 50 sentimeter dengan bahan fiber glass. Semua ia kerjakan seorang diri.

Namun, lambat laun Purwanto mulai enggan melayani pembuatan patung atau relief tersebut. “Ada beban ketika mendapat pesanan membuat patung-patung terutama yang menyangkut keyakinan. Akhirnya saya berhenti membuat patung atau relief berukuran besar,” urai dia.

Purwanto memilih fokus membuat suvenir seperti gantungan kunci atau tempelen kulkas. Meski membuat beragam benda berukuran kecil, Purwanto masih banjir pesanan terutama dari pedagang suvenir di kompleks Candi Prambanan atau kawasan Malioboro.

Kebanjiran Pesanan
Tak hanya itu, belakangan ia juga kebanjiran pesanan suvenir berupa tempelan kulkas dari pembelinya asal Malaysia. “Sudah setahun ini sering mendapat pesanan dari pedagang suvenir asal Malaysia yang memasarkan di wilayah Malaysia serta Singapura. Itu awalnya dikenalkan orang bank yang punya kenalan penjual suvenir di Malaysia. Kemudian saya diminta membikin tempelan kulkas,” ungkapnya.

Tempelen kulkas yang dimaksud dibikin menggunakan fiber glass dengan bagian belakang dilengkapi magnet yang bisa ditempelkan pada kulkas sebagai hiasan. Sementara, suvenir yang dibikin memiliki bentuk bangunan Candi Prambanan, Candi Borobudur, serta Tugu Jogja menjadi satu dengan bagian bawah bertuliskan Yogyakarta. “Kalau satu kali pemesanan itu bisa sampai 10.000 biji. Dalam sehari, saya bisa membuat sampai 200 biji,” ungkapnya.

Soal harga, hiasan kulkas yang dibikin beragam. Untuk pesanan pedagang di wilayah Jogja dan Klaten, per kodi atau 20 biji seharga Rp60.000. Sementara, untuk harga pesanan dari Malaysia ia hargai Rp160.000./kodi.

Meski sering banyak pesanan, Purwanto masih mengerjakannya seorang diri di emperan kios yang berada di Pasar Hewan Prambanan. Tak hanya memproduksi, ia juga sendirian memasarkan produk tersebut. Dalam sebulan, rata-rata omzet yang ia peroleh sekitar Rp5 juta.

Lebih lanjut, Purwanto berencana mengembangkan usaha dengan membuat suvenir dengan bahan kayu serta perca dari usaha batik. Ia juga berencana menularkan ilmunya melalui sejumlah komunitas.

Sumber:harianjogja

No comments

Powered by Blogger.