Ketagihan, Bos Panti Asuhan ini Gauli 9 Anak Asuhnya, Tempatnya Tak Pandang Bulu dan Bikin Miris



Perilaku AL (34), pengurus panti asuhan sebuah yayasan di Surabaya ini benar-benar bejat. Dia tega berulangkali melakukan pelecehan seksual dan menggauli anak-anak yang tinggal di panti asuhan tersebut.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Hal ini terungkap dari rekonstruksi yang dilakukan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polretabes Surabaya, Jumat (11/8/2017).

Rekonstruksi digelar untuk mendalami kasus pelecehan seksual yang dilakukan AL (34), pengurus panti asuhan sebuah yayasan di Jl Ngagel Tengah I Surabaya terhadap sembilan anak. Penyidik menggelar rekonstruksi di tiga tempat.

Ada sebanyak 49 adegan yang diperankan tersangka saat rekontruksi. Pertama rekonstruksi dilakukan di depot milik yayasan Jl Manyar 65 Surabaya dengan sembilan adegan.

Selanjutnya rekontruksi dilakukan di Yayasan Panti Asuhan Jl Ngagel Jaya Tengah I dengan 32 adegan dan terakhir dilakukan di mobil dengan rekonstruksi sebanyak 8 adegan.

Kanit PPA Satreskrim Polretabes Surabaya, AKP Ruth Yeni mengatakan, pihaknya mengetahui lebih utuh cerita kejadian pelecehan seksual yang dilakukan pelaku terhadap korban setelah dilakukan rekunstruksi.

"Selama ini ceritanya dari keterangan pelaku dan korban, sekarang sudah dilakukan rekonstruksi. Kami jadi tahu lebih lengkap dan jadi bahan tambahan dalam BAP (berita acara pemeriksaan)," ujarnya, saat ditemui usai rekonstruksi, Jumat (11/8/2017).

Dalam rekonstruksi, korban ternyata melakukan pelecehan seksual terhadap 9 anak yang merupakan penghuni panti asuhan di beberapa tempat. Seperti di depot milik yayasan, kemudian di kamar mandi dan kamar tidur.

"Ternyata pelaku sering mengajak hubungan badan terhadap dua korban di kamar mandi dan kamar tidur," terang Ruth.

Setelah rekonstruksi ini, BAP kasus ini segera dilengkapi dan diselesikan guna dilimpahkan ke kejaksaan.

Penyidik mengancam pelaku dengan ancaman hukuman berat, yakni maksimal 15 tahun penjara. Ini sesuai pasal 81 dan 82 Undang-undang RI No.35 tahun 2014, tentaang perlindungan anak.

"Pelaku harus dihukum berat, yakni hukuman maksimal. Karena kejadian ini sangat tragis dan miris dengan korban sebanyak 9 anak," terang Ruth.

Dampak dari kejadian pelecehan seksual ini, membuat korban butuh perhatian dan pendampingan. Sehingga 9 korban akan ditempatkan di tempat khusus atau safe house.

Polretabes Surabaya akan bekerja sama dengan Pemkot Surabaya guna melakukan pendampingan korban.

"Korban harus mendapat pendampingan. Jangan sampai kembali ke tempat asal (panti asuhan) supaya bisa melupakan kejadian, demi masa depannya," ucapnya.

Kasat Reskrim Polretabes Surabaya, AKBP Leonard M Sinambela menambahkan, pelaku AL sudah dilakukan tes psikologis di RS Bhayangkara Polda Jatim. Kini tim penyidik masih menunggu hasil dari tes psikologi pelaku.

"Tes psikologi sudah dilakukan dan hasilnya masih menungu. Kami masih terus mendalami kasus ini," kata Leonard.

Seperti diketahui, pelaku AL melakukan pelecehan terhadap 9 anak penghuni panti asuhan di salah satu yayasan di Jl Ngagel Jaya Tengah, Surabaya.

Selain di tempat itu, pelaku juga melakukan pelecehan seksual di yayasan cabang yang berlokasi di Batu.

Kejahatan seksual tersebut dilakukan pelaku AL, sejak 2015 atau selama dua tahun.

Modus pelaku yakni melakukan bujuk rayu dan memberikan perhatian lebih kepada para korban.

Dari sembilan korban, dua anak berusia 17 dan 16 tahun diajak hubungan badan berulang kali dan korban lainnya dilecehkan.

sumber : tribunnews

No comments

Powered by Blogger.