Kuli Panggul Jadi Juragan Presto

sumber photo:kontan

Bunyi desis panjang khas panci presto terdengar sayup-sayup dari sebuah bangunan sederhana. Aroma bumbu rempah cukup menyengat menyeruak seisi dapur berukuran sekitar 150 m² yang memproduksi pindang ikan laut dan bandeng presto. Di sudut lain, tiga orang pekerja mengepak pindang tongkol pada keranjang kecil dari bambu.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Pekerja lainnya sibuk mencuci bahan baku ikan yang mereka pilah sesuai ukuran dan menempatkan di keranjang−keranjang plastik, sebelum proses perebusan. Begitulah sekelumit aktivitas rutin di dapur produksi milik Muhtadin, yang berlokasi di Kampung Cipayung RT 05 RW 02, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Jawa Barat, yang dilansir Kontan.

Muhtadin pria asal Tasikmalaya yang akrab disapa Mumu Cuik ini, dikenal warga sekitar sebagai pengusaha ikan laut yang merintis usaha dari nol. Pada awalnya Mumu hanya pedagang ikan cuik yang mangkal di emperan pasar dan stasiun kereta pada akhir 1983, kali pertama dia menginjakkan kakinya di kota belimbing itu. Mumu terpaksa meninggalkan kampung halaman yang luluh lantak diamuk letusan Gunung Galunggung pada 1982.

Bencana gunung meletus membuat ekonomi keluarganya lumpuh. Lahan pertanian tak bisa ditanam. Apalagi orangtua Mumu hanya petani kecil. Usaha sang paman yang banyak membantu keluarga juga terkapar. “Paman saya bandar domba. Usahanya bangkrut saat gunung meletus,” katanya. Tak ada pilihan selain merantau ke kota dengan harapan dapat mengubah nasib. Padahal kala itu, usia Mumu masih sangat belia, baru 13 tahun dan baru saja tamat sekolah dasar.

Di Depok Mumu menumpang saudara yang rutin berjualan ikan cuik. Di samping membantu saudara berdagang, ia mengumpulkan rupiah dengan bekerja serabutan. “Hampir selama setahun saya kerja kuli panggul di pasar,” kenang bapak lima anak ini. Setahun kemudian, Mumu mencoba usaha sendiri dengan mengambil ikan cuik dari pemasok. Lalu, Stasiun Depok Lama, Pasar Depok Jaya, dan Pasar Lenteng Agung Jakarta Selatan, menjadi lapak Mumu memungut rezeki. Ya, tanpa modal sepeser pun karena hanya mengambil barang dan setor hasil penjualan. Dari penjualan, Mumu mengantongi laba Rp 3.000–Rp 4.000 per hari.

Buruh pabrik

Akhir 1984, pria kelahiran 6 Maret 1968 ini berhenti berjualan ikan cuik karena tergiur bekerja di pabrik. Tapi hitung punya hitung, gaji buruh pabrik ternyata banyak tekor ketimbang dagang di pasar. Hanya 10 bulan bertahan menjadi buruh pabrik dengan upah Rp 19.000 per minggu. “Saya berpikir lebih enak dagang daripada menjadi buruh pabrik,” akunya.

Sejak saat itu, Mumu kembali menekuni usaha jualan pindang ikan. Alhasil, dari waktu ke waktu penjualan terus meningkat. Belum puas dengan apa yang sudah diraih, Mumu coba-coba memproduksi sendiri bermodal Rp 4 juta. Uang tersebut digunakan untuk membeli peralatan dan belanja bahan baku ikan sebanyak 100 kg. Produksi mandiri ia lakukan sekitar awal 1990-an. Saat itu  ia berbekal ilmu meramu ikan pindang dari tukang pindang yang dia kenal.

Sejatinya menjadi pembuat pindang dengan keterampilan minim banyak menemui kendala. Beberapa kali hasil produksi gagal. Ikan olahan rasanya tidak enak dan gatal saat dimakan. Misalnya sepintas ikan hasil produksi terlihat utuh, tapi ketika dibuka daging bagian dalamnya hancur. Usut punya usut, bahan baku ikan tersebut hasil tangkapan dengan bom ikan atau dinamit. “Pantas saja pemerintah melarang bom ikan selain merusak juga merugikan pembuat pindang,” terangnya.

Ketika bisnis terus memperlihatkan kemajuan, justru ujian datang secara tiba-tiba. Usaha yang dirintis Mumu dengan susah payah hingga memiliki dapur ikan berkapasitas produksi lebih dari satu ton per hari, sirna ketika datang badai krisis ekonomi 1997. Harga bahan baku ikan melonjak tinggi, sedangkan penjualan terjun bebas. Tak pelak, modal usaha terkikis habis.

Dalam situasi terjepit, Mumu mencoba peruntungan lain dengan usaha kredit barang. Tapi ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, usaha coba-coba ini malah membuat ekonomi Mumu kian ambruk. Modal tipis untuk kredit tidak kembali akibat banyak macet. Namun, kejadian ini tak membuatnya patah arang. Ia berusaha bangkit dan merintis usaha pindang dari titik bawah lagi. “Saya mulai ambil barang dari orang, dan berdagang lagi di pasar,” tuturnya.

Setelah melewati jungkir balik kehidupan, titik terang usaha mulai terlihat sekitar 2000-an. Kini, kapasitas produksi stabil di angka satu ton per hari dan bisa mempekerjakan 12 orang. Volume produksi bisa melonjak hingga dua kali lipat saat Ramadan atau menjelang hari raya Idul Fitri, dan Idul Adha. Produknya berupa pindang ikan tongkol, kembung, salem, tuna, layang, dan bandeng presto. Harganya berkisar Rp 22.000 -Rp 24.000 per kg untuk memasok kebutuhan ke pasar-pasar tradisional di Depok antara lain Pasar Agung, Pasar Musi, Pasar Kemiri, dan Pasar Pucung. “Rata-rata omzet penjualan Rp 20 juta per hari,” bebernya.

Berhubung usaha pindang dan bandeng presto cukup menjanjikan, Mumu siap ekspansi dengan mendirikan dapur baru yang menyasar segmen konsumen menengah atas.
Adapun lokasi dapur ikan di daerah Studio Alam, Sukmajaya, hasil investasi patungan. Kelak, kapasitas produksi bisa mencapai 2 ton per hari. Ia berharap produk dari dapur baru  bisa menembus pasar modern.

Rencananya, tahap awal ujicoba produksi mulai Januari 2017. Bersama rekan bisnisnya, Mumu telah berinvestasi lahan dan pengadaan tiga tempat penyimpanan berpendingin dengan kapasitas 1,4 ton, dan peralatan lainnya. Mumu menyadari, standardisasi produk harus terus ditingkatkan menyesuaikan tuntutan pasar. Karena itu, saat ini ia  tengah mengikuti pelbagai pembinaan dan pelatihan dari instansi terkait agar bisa memenuhi standar kualitas. Ia pun memprioritaskan pengurusan kemasan dan label. “Untuk masuk pasar modern, kan, syaratnya pakai kemasan dan ada label.” katanya.

Ingin cetak sarjana

Meski berpendidikan rendah, Mumu bisa membuktikan sukses merintis usaha produksi pindang dan bandeng presto. Bahkan, tamatan sekolah dasar (SD) ini bisa mempekerjakan 12 orang lulusan SMA. Memang, usaha bisa berkembang  sampai sekarang ini tidak lain berkat kegigihannya dalam berusaha yang pantang patah arang. Kesulitan hidup yang telah dilaluinya justru menempa Mumu, sapaan akrabnya menjadi sosok yang bermental baja. “Sejak umur empat tahun, bapak saya sudah meninggal,” ujarnya.

Tinggal pun di rumah kayu yang sempit hanya berpintu satu dan dua jendela, karena kondisi ekonomi keluarga sangat sulit. Terlebih setelah bencana gunung meletus. Akibat tidak punya biaya, ia terpaksa putus sekolah. “Saya bukan tak mau bersekolah, tapi buat makan saja susah,” aku Mumu. Padahal di sekolah dari kelas 1-6 SD dia selalu ranking pertama. Bahkan, kala itu, untuk masuk ke sekolah negeri pun tak perlu tes lagi karena nilainya sudah melebihi. “Guru saya bilang, kamu masuk SMP negeri tak per ujian lagi,” ungkapnya.

Bagi Mumu, pendidikan sangat penting sebagai bekal hidup agar bisa bersaing. Ia dulu tak berpendidikan pun bisa namun berhasil berusaha karena kondisinya beda dengan sekarang. Sebab itu, ia bertekad agar semua anak-anaknya bisa meraih gelar sarjana.  Dari lima anak, satu sudah lulus kuliah dan menikah. Anak kedua, kuliah di Bandung. Sedangkan anak ketiga sampai kelima masih sekolah di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

“Walau saya hanya tamatan SD, anak-anak minimal harus menjadi sarjana. Alhamdulillah, sekarang kami ada rezeki sedikit, jadi pendidikan anak menjadi prioritas utama,”  ujar Mumu.

Sumber: kontan


No comments

Powered by Blogger.