Perwakilan Pemerintah di Luar Negeri Harus Rangkul TKI


Seluruh orang Indonesia di mana pun berada harus bangga sebagai rakyat Indonesia. Salah satu bentuk kebanggaan sebagai rakyat Indonesia dimana pun berada atau ke mana pergi adalah harus membawa atau mengkampanyekan citra Indonesia sebagai negara demokrasi yang berlandaskan Pancasila, Indonesia yang plural dan cinta damai.



Namun hal seperti ini realitasnya hanya sebagai sebuah harapan. Pasalnya, tidak semua orang Indonesia mengkampanyekan Indonesia sebagai negara yang plural, yang cinta damai. Seperti masih banyaknya orang Indonesia baik yang berada di dalam negeri maupun yang bekerja di luar negeri. Contohnya tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Hong Kong disinyalir bergabung dalam kelompok kejahatan transnasional seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Direktur Eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo mengatakan, TKI di Hong Kong atau di negara lainnya bergabung dalam ISIS, sedikitnya disebabkan tiga hal. Pertama, mereka berasal dari keluarga dan lingkungan masyarakat yang radikal di Indonesia. “Sikap radikal yang melihat kelompok lain tidak benar, seperti mencap kelompok lain kafir dan sebagainya terus terbawa sampai di luar negeri,” kata dia.

Kedua, perwakilan pemerintah Indonesia seperti Kedutaan Besar RI (KBRI) atau Konjen RI (KJRI) di luar negeri tidak merangkul TKI (di luar negeri) sebagai sesama warga negara Indonesia yang mempunyai kewajiban terus mengkampanyekan Indonesia yang damai, Indonesia yang demokratis, cinta damai yang berdasarkan Pancasila.

Menurut Wahyu, banyak KBRI dan KJRI di sejumlah negara terutama Hong Kong menganggap TKI sebagai warga negara Indonesia kelas dua. “TKI tidak pernah diajak berkumpul, bersilaturahmi, mengajak diskusi yang posetif tentang Indonesia,” kata dia. Karena itulah TKI, kata dia, membuat paguyupan sendiri yang anggotanya mereka semua (TKI) yang berlatar belakarang kurang berpendidikan serta pemahaman agama yang keliru.

Ketiga, menyebarnya agen ISIS di banyak negara, dimana mereka mencari anggota. “Agen ISIS atau kejahatan transnasional ini tahu TKI mudah dirayu maka mereka rekrut,” kata dia.

Oleh karena itu, kata Wahyu, semua perwakilan pemerintah di negara mana pun harus merangkul TKI dan terus mengkampanyekan Indonesia anti terorisme. “Indonesia cinta damai, Indonesia negara demokrasi berdasarkan Pancasila,” kata dia.

Sebagaimana diberitakan, puluhan TKI di Hong Kong menjadi korban radikalisasi simpatisan ISIS. Kini kepolisian setempat mulai aktif mengawasi kegiatan keagamaan TKI lantaran mengkhawatirkan gerakan militan.

Kesimpulan tersebut dipublikasikan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) di Jakarta, Rabu, 26 Juli 2017. Saat ini sekitar 150.000 TKI bekerja di bekas koloni Inggris itu.

Menurut laporan IPAC, sekelompok kecil tenaga kerja perempuan yang terdiri atas 45 orang telah terjerat radikalisasi "dalam upaya mereka mencari rasa kebersamaan di lingkungan yang asing." Perempuan-perempuan itu terutama "dibujuk oleh pacarnya lewat internet," kata analis IPAC Nava Nuraniyah.

Tapi sebagian bergabung dengan ISIS karena keyakinan agamanya. Perang di Suriah dijadikan alat propaganda untuk membangun simpati terhadap gerakan ISIS.

Sebelumnya media-media Hong Kong melaporkan bagaimana simpatisan ISIS membagi-bagikan selebaran berisi propaganda kepada TKI ketika mereka berkumpul di pusat kota setiap hari Sabtu, ketika mereka libur. Salah seorang TKW yang menghilang tahun 2015 silam dilaporkan memberitahu seorang temannya bahwa ia mengikuti ajakan suami ke Suriah.

Sumber : Berita Satu

No comments

Powered by Blogger.