TKI Ponorogo Tertipu Jual Beli Tanah Murah, Begini Ceritanya

ilustrasi
Niat hati ingin menginvestasikan uang yang didapatkan dari bekerja di Malaysia, seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Ponorogo, Par, 39, malah menjadi korban penipuan jual beli tanah di wilayah Pacitan.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Uang senilai Rp18,5 juta hasil jerih payah Par selama bekerja di Malaysia ditilap Pujud Joko Pirnomo, 31, warga Desa Sepontan, Kecamatan Bandar Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah. Saat ini Pujud meringkuk di tahanan Polres Ponorogo.

Ditemui Madiunpos.com di rumahnya di Desa Bandaralim, Kecamatan Badegan, Ponorogo, Jumat (25/8/2017), Par menceritakan ia memiliki teman bernama Marjiah, warga Pacitan, yang sering mengobrol dengannya via aplikasi WhatsApp. Dalam percakapan itu, Marjiah sempat meminjam uang senilai Rp2 juta kepada Par karena anaknya sakit, Rabu (2/8/2017).

“Karena saya telah berteman lama dengan Marjiah, saya pun memberikan uang tersebut,” kata dia.

Beberapa hari kemudian, Marjiah kembali menghubungi Par melalui WA dan memberikan informasi ada tanah di Pacitan yang dijual dengan harga murah yaitu senilai Rp10 juta. Marjiah menyampaikan pembayaran bisa dilakukan dua kali, namun untuk pembayaran pertama harus Rp5 juta.

Setelah berpikir, Par menyanggupi tawaran tersebut dan mentransfer uang senilai Rp3 juta kepada Marjiah. Ditambah Rp2 juta yang dia berikan kepada Marjiah sebelumnya, uang itu jadi genap Rp5 juta. Untuk kelanjutan informasi penjualan tanah itu, Marjiah meminta Par berkomunikasi dengan kakaknya.

“Saya saat itu ya percaya saja karena itu yang menawarkan kan teman akrab. Selain itu, saya memang berkeinginan membeli tanah sebagai investasi. Saya tidak tahu saat itu berkomunikasi dengan Pujud. Saya pikir sedang berkomunikasi dengan kakaknya Marjiah,” terang dia.

Selang beberapa hari setelah penawaran itu, Pujud yang mengaku sebagai kakak Marjiah kembali menelepon Par dan menawarkan tanah seluas setengah hektare dengan harga Rp13,5 juta. Par pun menyetujui pembelian tanah dan membayar uang DP Rp7 juta melalui transfer bank.

Setelah pembayaran pertama selesai dikirim, Pujud kembali menghubungi Par untuk meminta pelunasan. Saat itu, dia mulai curiga dan meminta Pujud mengambil uang di rumahnya yang telah dititipkan istrinya.

“Pujud pun mengambil uang tersebut di rumah. Dia bertemu dengan istri saya,” jelas dia.

Par yang bekerja sebagai buruh di perkebunan sawit di Malaysia semakin tidak tenang dan langsung mengambil libur untuk kembali ke kampung halaman, Sabtu (19/8/2017). Setibanya di Tanah Air, Par langsung mengecek ke Pacitan.

Kecurigaan Par ternyata benar, selama ini bukan Marjiah yang berkomunikasi dengan Par. Saat ditemui, Marjiah kaget karena tidak mengetahui persoalan jual beli tanah yang dibicarakan Par.

Setelah ditelisik, ternyata yang berkomunikasi dengan Par hingga meminta uang senilai Rp18,5 juta adalah Pujud yang merupakan mantan kekasih Marjiah. “Jadi, Pujud mengambil nomor WA saya dari HP Marjiah, kemudian dia menghubungi saya dengan nomor baru,” jelas Par.

Setelah sadar menjadi korban penipuan, Par kemudian melapor ke Polsek Badegan. Par dibantu polisi menjebak Pujud saat meminta uang lagi di Terminal Seloaji, Rabu (23/8/2017).

Setelah tertangkap, Pujud mengakui perbuatannya dan mengaku telah menghabiskan uang tersebut untuk berfoya-foya, berpesta seks dan minuman keras. Di dompet Pujud hanya tersisa uang Rp45.000.

“Saya berharap keadilan. Semoga pelaku bisa dihukum berat, karena saya harus kehilangan banyak uang,” ujar Par.

Kasubbag Humas Polres Ponorogo, AKP Sudarmanto, mengatakan Pujud itu telah ditahan dan dimasukkan ruang tahanan Polres Ponorogo. “Kami mengamankan sejumlah barang bukti berupa dua lembar surat perjanjian jual beli tanah, tiga lembar kuitansi sebagai bukti pengiriman uang, dan uang tunai Rp45.000,” ujar dia.

Sumber:solopos

No comments

Powered by Blogger.