Video Penyiksaan Baby J Dimanfaatkan untuk Pemerasan


Ibu kandung Baby J, Mariana Dangu yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

     Kasus kekerasan terhadap Baby J yang dilakukan oleh ibu kandungnya Mariana Dangu, 30, memasuki babak baru ketika ibu korban ditetapkan sebagai tersangka dan kini ditahan di Mapolda Bali. Mariana dijemput pada Jumat malam (28/7) dan ditahan di Mapolda Bali. Bahkan kondisi kejiwaan pelaku yang sebelumnya disebut dengan menderita kelainan jiwa atau bipolar disorder saat penganiayaan tersebut terjadi telah terbantahkan.


Hal tersebut dijelaskan oleh Direktur Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Bali Kombespol Sang Made Mahendra Jaya bahwa dalam pemeriksaan terhadap pelaku, penyidik sama sekali tidak melihat adanya kelainan kejiwaan yang diderita pelaku. Seluruh pertanyaan penyidik dijawab dengan baik dan benar.

"Penyidik sama sekali tidak melihat kalau pelaku menderita kelainan psikologi atau gangguan kejiwaan lainnya, karena semua pertanyaan dijawab dengan sangat baik," ujarnya Senin siang (31/7).

Sekalipun demikian, penyidik akan melakukan tes kejiwaan terhadap pelaku dan bagaimanapun hasilnya, pelaku tetap akan ditahan untuk penyidikan lebih lanjut. Hasil investigasi sementara menunjukkan, pelaku sengaja menganiaya anaknya yang saat itu masih berusia 8 bulan. Aksi penganiayaan tersebut kemudian direkam. Hasil rekaman tersebut dikirim ke ayah biologis Baby J yang merupakan WNA Austria Otmar Daniel Adelsbeger, 55, dengan tujuan untuk mendapatkan sejumlah uang.

"Jadi tujuannya penganiayaan terhadap anak kandungnya sendiri itu untuk dikirim ke ayah biologisnya agar bisa mendapatkan sejumlah uang dan barang lainnya. Bagaimana mungkin seorang ibu kandung menganiaya seorang anak yang adalah darah dagingnya sendiri untuk mendapatkan sejumlah uang," ujarnya.

Lanjut Mahendra, terhadap kasus tersebut, polisi harus hadir dalam kapasitasnya sebagai kehadiran negara yang melakukan penegakan hukum untuk melindungi hak asasi seorang bayi. Seorang bayi berhak mendapatkan kehidupan layak, termasuk dari ibu kandungnya sendiri dan bukannya menjadikan bayi sebagai alat untuk melakukan pemerasan terhadap orang lain sekalipun itu ayah kandungnya sendiri.

Mahendra memaparkan, polisi juga telah melakukan profiling terhadap tempat tinggal pelaku yang tinggal di Jalan Drupadi II Seminyak Kuta. Di lokasi tersebut pelaku melakukan penganiayaan terhadap anak kandungnya sendiri pada Maret 2017 lalu. Penyidik juga sudah bertanya kepada pemilik kos tentang kehidupan pelaku selama berada bersama Otmar dan juga sejumlah harta benda yang pernah dikasih Otmar.

Karena seperti diketahui bahwa pelaku dan ayah korban tidak ada ikatan perkawinan. Bahkan, antara pelaku dan ayah korban hanya bertemu dalam waktu singkat karena ayah biologis korban itu ke Bali hanya untuk berlibur. "Ini sudah risiko serorang ibu untuk bertanggungjawab terhadap anaknya, karena memang hubungan tersebut adalah hubungan di luar nikah," ujarnya.

Polisi ingin mengecek TKP sesuai dengan rekaman video yang sempat viral tentang kekerasan terhadap bayi tersebut. Dari hasil olah TKP tersebut, polisi menyita beberapa barang bukti berupa ember, gayung, baju yang digunakan oleh korban dan pelaku, bantal guling bayi yang digunakan untuk memukul, copy surat-surat terkait hasil konseling dan rekam medis pemeriksaan kejiwaan tersangka. Sementara jumlah saksi yang sudah diperiksa ada lima orang dan kemungkinan akan tambah lagi saksinya. "Barang bukti, saksi pelapor, pelaku sudah diperiksa semuanya," ujar Mahendra.

Tersangka sudah diamankan pada tanggal 28 Juli 2017 lalu. Ibu kandungnya sudah menjadi tersangka karena seorang anak punya hak untuk kelangsungan hidupnya. Peristiwanya sekitar Maret 2017 di Jalan Drupadi II Seminyak ini baru diketahui polisi setelah viral di media sosial pada Kamis (27/7). Polisi melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi Bali dan P2TP2A Bali yang sempat menggelar rapat dan memutuskan agar menyerahkan hak asuh kepada orang tuanya, tetapi ditolak karena kondisi ibunya.

Saran hukum kepada Dinas Sosial untuk menunda penyerahan Baby J tersebut kepada ibu kandungnya. Surat juga ditujukan kepada P2TP2A Provinsi Bali agar perlu ada jaminan dari kedua instansi tersebut bahwa tidak akan ada lagi kekerasan terhadap Baby J. Mereka akhirnya mengecek kondisi ibunya, membuat laporan polisi.

Pelaku akan dikenakan pasal 44 ayat 1 UU RI No 23 tahun 2004, tentang KDRT dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun, dan pasal 76 huruf C, juncto pasal 80 ayat 1 dan 4 UU RI No 35 tentang perubahan UU NO 23 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 3,6 tahun. Sementara ayah biologis Baby J dikabarkan akan memenuhi panggilan Polda Bali pada bulan September 2017 mendatang. 


Sumber : JPNN

No comments

Powered by Blogger.