Aung San Suu Kyi: Kami Bekerja Melindungi Hak Warga Myanmar

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi berjabat tangan dengan Menlu Myanmar dan State Counsellor Daw, Aung San Suu Kyi seusai melakukan pertemuan di Kantor Kepresidenan, Nay Pyi Taw, ibu kota Naypyidaw

      Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi membuat pernyataan publik pertama terkait krisis Rohingya terbaru yang pecah nyaris dua pekan lalu. Perempuan berusia 72 tahun tersebut mengatakan bahwa pemerintahannya bekerja untuk melindungi seluruh hak warga warga Myanmar.



Hal tersebut disampaikan Suu Kyi dalam pembicaraannya melalui sambungan telepon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

"Kami tahu betul, lebih tahu dari kebanyakan orang, apa artinya pencabutan HAM dan perlindungan demokrasi," ujar Suu Kyi melalui transkrip telepon yang beredar, seperti dikutip dari CNN pada Rabu (6/9/2017).

"Jadi kami memastikan bahwa semua orang di negara kami berhak mendapat perlindungan atas hak-hak mereka, bukan hanya politik, tapi juga sosial dan kemanusiaan," imbuhnya.

Selama ini, Suu Kyi mendapat kecaman karena sosoknya dianggap berdiam diri atas penindasan terhadap warga Rohingya. Padahal, Suu Kyi dikenal sebagai aktivis HAM peraih Nobel Perdamaian.

Dalam pembicaraannya dengan Presiden Erdogan, Suu Kyi juga menyampaikan bahwa banyak informasi keliru yang tersebar dan menguntungkan pihak teroris -- merujuk pada kelompok militan Rohingya.

Putri dari mendiang Jenderal Aung San itu menegaskan bahwa pemerintahannya bekerja keras untuk memastikan bahwa terorisme tidak menyebar ke seluruh Rakhine.

Sementara itu, setidaknya 123 ribu pengungsi Rohingya dikabarkan telah melintasi perbatasan Bangladesh dalam waktu dua pekan terakhir. Kekerasan di Rakhine meningkat setelah terjadinya serangan terkoordinasi terhadap sejumlah pos perbatasan yang diklaim oleh pemerintah dilakukan oleh "teroris".


Sumber : Liputan 6

No comments

Powered by Blogger.