Awalnya Sampingan, Kini Jadi Andalan (1)

sumber photo:kontan
Terkenal dengan pesona alamnya, yakni Danau Toba, Sumatra Utara menjadi kawasan wisata potensial. Namun, tak hanya menyuguhkan panorama nan apik, banyak pula sentra usaha yang layak dikunjungi.  

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Salah satunya, Kampung Batu Bakar yang terdapat di Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara. Saat dilansir dari Kontan mengunjungi lokasi  terlihat hampir setiap rumah berjajar tumpukan batu bata basah yang sedang dijemur dihalaman depan.

Lokasi pembakaran terletak di samping atau belakang rumah. Para pekerja terlihat sibuk memindahkan bata yang hendak dibakar menggunakan kereta dorong.

Lokasi sentra ini berjarak Sekedar informasi, lokasi ini berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Medan. Butuh waktu 30 menit sampai 45 menit dari ibukota provinsi Sumut itu menuju sentra ini dengan kendaraan pribadi. 

Sayang, tak ada penanda yang menunjukkan keberadaan sentra batu bakar ini. Tumpukan batu bata di sekitar rumah menjadi petunjuk bagi Anda. Dari hasil penelusuran KONTAN, ada sekitar 50 orang pengusaha batu bata di Kampung Batu Bakar ini.

Rasman, salah satu perajin menceritakan, kampung batu bata ini sudah mulai berdiri sekitar 1980-an. Saat itu, para warga menggeluti usaha ini hanya sebagai sampingan sembari mengurus sawah. Kebanyakan warganya belajar di kampung batu rapa yang tidak jauh dari lokasi. "Dulu, kondisi ekonomi warganya kurang, Jadi ini buat tambah-tambah," katanya pada KONTAN.

Bak gayung bersambut, fokus menekuni usaha ini, sekarang laki-laki berusia 56 tahun ini sudah memiliki 10 orang karyawan. Dalam sehari jumlah produksinya bisa mencapai sekitar 10.000 hingga 12.000 batu bata.

Dia membanderol harga jual batu bata tergantung dari kondisi cuaca. Bila sedang musim kemarau, harganya  Rp 310 per biji, sedangkan saat musim penghujan harganya naik menjadi Rp 350 hingga  Rp 400 per biji. Sebab, saat musim hujan kendalanya lebih banyak, yakni susah sinar matahari dan sulit mendapatkan tanah.

Batu bata produksinya, tak lagi disalurkan secara langsung ke pasar. Rasman  menjalin kerjasama dengan agen yang saban harinya datang untuk mengambil bata siap pakai.

Sekedar informasi, Rasman telah menggeluti usaha ini sejak tahun 1992. Ketertarikannya bermula saat tetangga sebelah rumahnya ada yang sukses menjalankan bisnis tersebut.

Perajin lainnya adalah Poniran. Laki-laki berkulit sawo matang ini baru menggeluti usaha ini belum lama. Yakni, sekitar tahun 2003 lalu, setelah ia belajar dari para tetangga. "Sebelumnya, saya bekerja serabutan. Setelah berkeluarga, saya baru terjun ke usaha ini," jelasnya.

Kini, Poniran sudah punya dua lokasi produksi. Total produksi batu rata-rata sehari mencapai 15.000 biji. Berbeda dengan Rasman, selain menyalurkan produknya lewat agen, dia juga memasarkan sendiri ke kota Medan dan sekitarnya.

Dia pun juga melayani pesanan langsung konsumen untuk membangun satu unit rumah atau lainnya. Kebanyakan konsumen ini merupakan orang-orang dekatnya sehingga dapat memesan lewat telepon.      

(Bersambung)

Sumber:kontan 


No comments

Powered by Blogger.