Dari Ayam Menjadi Raja Bebek Hibrida

sumber photo:kontan
Jika tak ada aral melintang, pekan depan Ang Hendra bakal menerima hak paten atas bebek gunsi 888 dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Bagi pria asal Bogor, Jawa Barat, varietas gunsi yang merupakan singkatan dari Gunung Sindur menjadi kebanggaan sekaligus puncak perjalanan  panjang nan berliku dalam menekuni bisnis perunggasan sejak 30 tahun silam.
 
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Betapa tidak, dalam lima tahun terakhir, Hendra bergelut dengan penelitian demi menciptakan generasi baru bebek hibrida yang bisa tumbuh cepat dengan berat badan ideal. Bebek gunsi adalah hasil persilangan antara itik lokal mojosari dengan bebek khaki campbell asal Inggris. Selain menyita waktu yang lumayan lama, untuk melahirkan bebek gunsi, Henda harus merogoh dana tak sedikit. “Sudah habis lebih dari Rp 2 miliar untuk penelitian dan penyilangan selama lima tahun,” ungkap peternak kelahiran 5 Januari 1967 ini.

Hendra mengatakan, bisa menemukan bebek hibrida memang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, tak hanya menguras kantong. Namun semua itu terbayar dengan keunggulan varietas bebek gunsi yang bisa dipanen hanya dalam waktu 35 hari dengan berat berkisar 1,2 kg sampai 1,4 kg per ekor. Adapun harga bebek hibrida
Rp 35.000 per ekor.

Ia optimistis modal investasi yang sudah dikeluarkan akan  kembali dengan mendulang untung gede. Dalam waktu yang tidak lama lagi, ia yakin akan memanen hasil karyanya itu. Soalnya, permintaan semakin meningkat seiring berkembangnya bisnis kuliner berbahan dasar bebek yang mulai digemari masyarakat. “Saat ini sudah waktunya saya dagang, masa investasi terus?” kelakarnya.

Lewat bendera Putra Perkasa Genetika, Hendra bakal memproduksi satu juta day old duck (DOD) per bulan pada kuartal pertama 2017. Rencananya,  total produksi meningkat menjadi 2 juta DOD pada 2018. Tak ayal, Putra Perkasa menjadi raja bebek hibridra di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. “Belum lama ini ada kunjungan  peternak bebek dari Malaysia, mereka sangat terkesan,” ucap Hendra bangga.

Soal omzet penjualan DOD, Hendra tak menyebut angka. Hanya saja, harga DOD bebek  gunsi dibanderol Rp 8.000 per ekor. Saat ini, produksinya sudah mencapai 550.000 DOD per bulan, yang dihasilkan dari 60.000 parent stock (PS) bebek di Peternakan Prumpung, Gunung Sindur, Bogor.
Bibit bebek  ini habis terserap oleh peternak mandiri yang tersebar di Jabodetabek, Tasik, Sukabumi, sampai Bandung. Bahkan permintaan dari peternak di luar daerah Jawa juga mulai berdatangan.

Untuk memproduksi DOD secara massal, Hendra menjelaskan, Putra Perkasa sudah memiliki infrastruktur peternakan modern, yakni 24 kandang kering di lima lokasi dengan jumlah pekerja sebanyak 300 orang. Kemudian, delapan unit mesin penetas impor yang masing-masing berkapasitas 70.000 butir telur. Untuk satu mesin penetas, Hendra harus mengeluarkan Rp 1,2 miliar. 

Selain menghasilkan bibit bebek potong, Putra Perkasa sedang mengembangkan dan memperbaiki genetika parent stock bebek petelur, bebek pedaging jenis peking-mojosari-putih (PMP), setelah mendapatkan pra-lisensi dari Balai Penelitian Ternak (BPT) Kementerian Pertanian (Kemtan).

Putra Perkasa menjadi mitra pertama dari BPT Kemtan yang memperoleh lisensi untuk perbaikan genetika dan peningkatan kualitas produksi bebek petelur. Kelak, Hendra bilang, Putra Perkasa Genetika akan fokus pada usaha pembibitan (breeding farm) beberapa komoditas unggas. “Kalau budidaya pembesaran mudah, semua bisa. Tapi untuk breeding tidak sembarang, butuh skill, modal besar, dan teknologi,” ujarnya beralasan. 

Sejatinya sebelum diversifikasi usaha pembibitan bebek hibrida, Hendra mengawali bisnis unggas dengan budidaya ayam layer atau petelur sekitar 1986 silam. Hendra yang lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) di Bogor ini memutuskan mencari peruntungan dengan beternak 3.000 ekor ayam layer. “Bermodal Rp 15 juta dari orangtua,” ceritanya. Awal usaha berjalan mulus. Selang tujuh bulan, usaha  ayam petelur sudah memberikan keuntungan. Nah, dari hasil keuntungan tersebut, volume produksi terus meningkat. Singkat kata, hingga 2010, kapasitas produksi mencapai 3,5 ton telur sehari dengan populasi ayam petelur 100.000 ekor.

Telur ayam dari Putra Perkasa banyak diserap sejumlah pasar modern di Jabodetabek. Namun usaha ayam petelur mulai dikurangi sejalan ekspansi bisnis breeding farm, terutama bebek hibrida. Meski begitu, bisnis perunggasan Putra Perkasa semakin menanjak, bahkan merambah pada pembibitan pembibitan puyuh. Saat ini, total populasinya mencapai 1,2 juta ekor puyuh dengan melibatkan 5.000 peternak mandiri di Kabupaten Blitar. Lini usaha ini mampu mendatangkan volume produksi 8 ton telur puyuh per hari. Di luar itu, Putra Perkasa memproduksi ayam kampung potong sebanyak 200.000 ekor per bulan.

Hendra mengungkapkan, kesuksesan bisnis yang sudah diraih tidak datang dengan sendirinya. Ia harus melewati masa-masa sulit yang banyak menguras waktu, tenaga,
pikiran, dan keuangan. “Jatuh bangun sudah saya lalui,” ungkapnya. Masih berbekas dalam ingatan Hendra bagaimana usaha yang dirintis dari bawah hancur ketika krisis ekonomi dan moneter melanda Indonesia 1998 lalu. Tak ada yang tersisa. Tapi sebagai pengusaha yang hanya paham soal perunggasan, tidak ada pilihan lain selain harus bangkit dari keterpurukan. Beruntung banyak relasi yang masih percaya, sehingga bisa memulai usaha dari nol lagi. Dari para supplier, Putra Perkasa  mendapat bantuan bibit dan pakan. ”Kepercayaan sangat penting dalam bisnis, jadi harus dijaga,” sarannya.

Rupanya ujian belum selesai sampai di situ. Ketika kasus flu burung merebak, hampir 80% dari jumlah ayam kampung yang sebanyak 80.000 ekor mati mendadak. Meski punya pengalaman dalam beternak, Hendra tidak berdaya menghadapi penyakit flu burung yang obatnya belum ada saat itu. “Semua peternak kena efek flu burung,” sebutnya. Nah, belajar dari pengalaman jatuh bangun tersebut, Hendra menambahkan, benang merahnya adalah dalam berusaha harus fokus, terus mencoba, dan menjaga kepercayaan. Pasti hasilnya akan baik.                       

Membantu peternak kecil

Ada cita-cita besar yang ingin diwujudkan Ang Hendra dengan mengembangkan jenis bebek hibrida. Selain melihat pangsa pasar bebek yang masih terbuka lebar, ia berharap bisa membantu para peternak kecil bisa meningkatkan pendapatannya lewat budidaya bebek. “Harapan saya, upaya kerja keras melahirkan varietas bebek yang cepat tumbuh, berat badan ideal, tidak boros pakan, dan tahan penyakit bisa dinikmati hasilnya oleh peternak kecil,” ungkap Ang Hendra.

Sebab itu, perusahaannya, Putra Perkasa Genetika, tidak akan masuk ke sektor budidaya pembesaran bebek hibrida, melainkan hanya memproduksi day old duck (DOD) plus pakannya. Formula pakan ini dibuat sesuai genetika dari bebek gunsi. Alhasil, kebutuhan nutrisi bebek gunsi tidak bisa menggunakan pakan lain, karena pertumbuhannya tidak akan  memenuhi standar. Dengan demikian, peternak mandiri hanya fokus pada budidaya pembesaran.

Setelah itu, Putra Perkasa akan membeli kembali bebek yang dibudidayakan peternak mandiri. Dengan demikian, peternak mandiri tidak dipusingkan dengan urusan pemasaran. “Kalau cari untung, mudah bagi saya untuk terjun di budidaya pembesaran, kan, punya modal besar. Tapi tujuan awal kemitraan ini adalah cita-cita saya ingin memberdayakan peternak bebek agar pendapatannya naik,” ujarnya.

Dengan tidak masuk di usaha pembesaran bebek, Hendra merasa dirinya juga bisa naik kelas. Dari awalnya pembudidaya, sekarang bisa menjadi pembibit. Lagipula usaha pembibitan tidak semua orang bisa melakukannya. Ia menambahkan, kemampuannya dalam pembibitan unggas juga hasil dari banyak belajar dan mengamati, setelah puluhan tahun bergelut di industri perunggasan. Rezeki memang harus dibagi-bagi.  
 
Sumber:kontan   

No comments

Powered by Blogger.