Gunung Agung Masuki Fase Kritis, Pengungsi Capai 57 Ribu

Gunung Agung
Aktivitas vulkanik Gunung Agung di Karangasem, Bali semakin meningkat. Hal itu ditandai dengan jumlah gempa di sekitar Gunung Agung yang semakin meningkat.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Dari pantuan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBMG) setidaknya terjadi 564 gempa vulkanik dangkal, 547 gempa vuknaik dangkal, dan 89 gempa tektonik lokal.

"Jumlah kejadian gempa ini lebih besar daripada sebelumnya. Gunung Agung saat ini memasuki fase kritis," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis, Selasa (26/9).

Meski demikian, kata Sutopo, fase kritis tak bisa dijadikan sebagai dasar untuk memastikan bahwa Gunung Agung pasti meletus, karena bergantung pada kekuatan dorongan magma ke permukaan.

"Jika kekuatan dorongan besar dan mampu menjebol sumbat lava maka akan terjadi letusan. Peluang terjadi letusan cukup besar, namun tidak dipastikan kapan meletus," ujar Sutopo.

Memasuki hari kelima setelah kenaikan status Gunung Agung ke level awas, jumlah pengungsi semakin bertambah. Sampai pagi ini, total jumlah pengungsi sebanyak 57.428 jiwa yang tersebar di 357 posko pengungsian.

Pengungsi tersebut berasal dari desa-desa yang masuk ke radius wilayah berbahaya yang berjarak 9-12 kilometer dari puncak gunung.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika juga telah menetapkan penanganan darutat dan pengungsi menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Bali. Sementara bupati dan wali kota bertanggung jawab untuk penanganan bencana di daerahnya.

Sementara itu, BNPB berperan untuk mengkoordinasikan potensi nasional dari TNI, Polri, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian PU Pera, Basarnas, Kementerian ESDM, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan  dan lainnya untuk mendampingi pemerintah daerah.

Bantuan untuk para pengungsi juga masih terus berdatangan hingga saat ini, tak hanya dari pemerintah pusat tetapi juga dari sumbangan masyarakat Bali sendiri.

Bahkan, masyarakat secara spontan juga membuka posko mandiri di banjar maupun di rumah-rumah.

"Masyarakat secara spontan memberikan bantuan kepada pengungsi. Banyak pihak yang menyediakan rumahnya menjadi tempat pengungsi," ucap Sutopo.

Tak hanya memberikan tempat tinggal untuk pengungsi, masyarakat Bali pun juga menyediakan tempat penampungan hewan ternak bagi para pengungsi.

"Konsep 'sister village' atau desa kembar langsung dipraktekkan saat ribuan masyarakat mengungsi dimana desa-desa yang aman menerima pengungsi dari desa-desa yang berbahaya," tutur Sutopo.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga memastikan logistik untuk para pengungsi Gunung Agung, Bali, tercukupi sampai 30 hari ke depan.

"Kami siap untuk 30 hari," kata Kepala BNPB Willem Rampangilei kepada CNNIndonesia.com di Pos Komando Penanggulangan Darurat Bencana Gunung Agung, Manggis, Karangasem, Bali, Senin (25/9). 

Sumber:cnnindonesia

No comments

Powered by Blogger.