Ilmuwan Ungkap Hubungan Lupa dengan Peningkatan Kecerdasan


Ilustrasi


      Kemampuan menghafal secara tepat adalah suatu hal yang sangat membantu di sekolah. Misalnya saja saat kita sedang belajar tentang perkalian. Di dunia kerja, kemampuan itu sangat membantu kita mengingat nama-nama.



Namun demikian, kita bisa saja lupa nama-nama atau hal-hal tertentu. Ketika itu terjadi, kita mungkin merasa bodoh.

Coba bayangkan ketika kita pergi berbelanja tapi kemudian lupa apa yang harus dibeli. Lebih parah lagi kalau kita melupakan hal-hal yang amat penting dalam hidup, misalnya saja ulang tahun seseorang yang spesial.

Ternyata, dikutip dari littlethings.com pada Sabtu (16/9/2017), tidak ada yang salah dengan hal itu.

Faktanya, menurut sebuah penelitian yang dilaporkan dalam Neuron Journal, lupa akan sesuatu sebenarnya merupakan proses alamiah dalam otak yang sebenarnya membuat kita lebih cerdas.

Temuan oleh para peneliti University of Toronto itu menyebutkan, ingatan (memory) yang sempurna tidak ada kaitannya dengan kecerdasan (intelligence).

Secara tradisional, kita menganggap orang yang ingat paling banyak adalah orang yang paling cerdas.

Namun, penelitian mengungkapkan bahwa sesekali lupa hal-hal rinci adalah hal yang normal. Faktanya, mengingat gambaran besar suatu hal -- dan bukannya perincian hal-hal kecil -- lebih baik bagi otak dan keselamatan kita dalam jangka panjang.

Begitulah, otak kita sebenarnya jauh lebih cerdas daripada yang kita duga sehingga hippocampus -- bagian otak penyimpan ingatan -- memilah perincian yang paling penting.

Otak Hanya Mengingat Hal yang Penting

Dilansir oleh CNN, lupa akan membantu kita melakukan optimasi pembuatan keputusan secara cerdas dengan cara berpegang kepada yang penting dan membuang yang tidak penting.

Teori itu dapat diterima nalar kalau kita berpikir bahwa mengingat wajah orang lebih penting daripada mengingat namanya. Ya, hal itu penting untuk kebutuhan sosial.

Otak tidak hanya memutuskan apa yang harus diingat dan apa yang penting, tapi juga mengembangkan ingatan baru dan menimpa (overwrite) ingatan yang lama.

Ketika otak terlalu dijejali ingatan, kemungkinan besar akan muncul konflik yang mengganggu pembuatan keputusan secara efisien.

Menjaga ingatan menjadi 'kurang penting' bagi kita manusia seiring dengan kemajuan teknologi dan akses kepada informasi. Bagi kita, lebih berguna untuk mencari ejaan kata untuk menemukan cara memasang pancuran mandi dengan menggunakan Google dibanding mengingat cara memasangnya.

Tentu saja hal ini bukan berarti kita harus melupakan semuanya, tapi sesekali lupa itu tidak buruk. Jadi, kalau kita lupa sesuatu, mengertilah bahwa otak kita sedang melakukan tugasnya.


Sumber : Liputan 6

No comments

Powered by Blogger.