Perusahaan Perikanan Dituntut Dengan Eksploitasi Tenaga Kerja Asing


Jaksa Penuntut Umum Taipei, 18 September (CNA) pada hari Senin secara resmi menugaskan 19 karyawan dari perusahaan perikanan yang berbasis di Kaohsiung dengan eksploitasi 81 nelayan asing karena mereka bekerja berjam-jam dengan upah rendah dan menahan mereka.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Dalam sebuah dakwaan yang diajukan oleh Kantor Jaksa Distrik Kaohsiung, 19 orang termasuk seorang manajer bermarga Lin telah dituduh melakukan eksploitasi perdagangan manusia dan pelanggaran terhadap kebebasan pribadi.

Tuduhan tersebut berasal dari perusahaan yang membayar pekerja asing kurang dari upah minimum, membuat mereka bekerja lembur secara berlebihan dan membiarkan mereka terbatas pada kamar kecil tanpa jendela tanpa kebebasan untuk pergi, kata jaksa dalam surat dakwaan.

Kantor kejaksaan mengatakan, nelayan tersebut bekerja 10 jam sehari dan dalam beberapa kasus sampai 48 jam berturut-turut sementara dibayar dengan gaji bulanan sebesar US $ 300 sampai US $ 500.

Selain tuduhan diajukan terhadap individu kantor kejaksaan juga telah menyita total NT $ 3,68 juta dari perusahaan yang merupakan pembayaran kembali hutang pekerja, kata jaksa.

Otoritas Kaohsiung pertama kali menyadari situasi tersebut dengan sebuah surat yang ditulis oleh seorang pekerja sosial atas nama para nelayan.

Surat tersebut mencatat bahwa nelayan ditahan dan ditahan setelah memasuki Taiwan melalui pelabuhan Kaohsiung.

Jaksa Kaohsiung kemudian menyelidiki tip tersebut dan menemukan bukti bahwa perusahaan perikanan tersebut melakukan eksploitasi terhadap pekerja mereka mulai Januari 2014.

Pada bulan Mei tahun lalu, mereka memimpin sebuah tim ke distrik Cianjhen dan Siaogang di kota tersebut dan menyelamatkan 81 nelayan dari Vietnam, Filipina, Indonesia, dan Tanzania yang semuanya ditahan bersama.

Sumber:focustaiwan

No comments

Powered by Blogger.