Cerita Pilu TKI Resmi Asal Lamtim, Sakit Syaraf Tanpa Dibantu Pemerintah

sumber photo:saibumi
Siang ini cuaca tampak cerah di Kabupaten Lampung Timur. Jalan negara yang kondisinya bergelombang tidak menyurutkan wartawan Saibumi.com untuk menemui keluarga Zainal Arifin yang mengontrak rumah di Desa Bandaragung Kecamatan Bandarsribhawono.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Cerahnya cuaca pada Ahad 1 Oktober 2017 tidak secerah nasib yang menimpa Mariam, isteri Zainal Arifin, tenaga kerja Indonesia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Taiwan. Kini kondisi wanita berumur 32 tahun ini hanya bisa tergolek di kamarnya karena didiagnosa dokter RS Taiwan mengalami sakit syaraf setelah dua tahun bekerja di sana.

Setiba di depan kontrakannya Zainal Arifin, Saibumi.com mengucapkan salam dan dijawab Saroh yang belakangan diketahui merupakan tetangga Zainal Arifin.

"Silahkan masuk Mas," kata Saroh saat menyambut di lansir dari Saibumi.com dengan ramah.

Setelah menyampaikan maksud dan tujuan Saibumi.com, sari ruang tamu terlihat seorang pria yang merupakan suami Saroh ditemani anak bujangnya. Wartawan kaget mendengar suara jeritan dan ucapakan yang tidak bisa dimaknai terdengar di kamar rumah itu.

"Iya, itu suaranya Mbak Mariam yang kerja di Taiwan dan baru sampe rumah jam 2.30 WIB subuh tadi. Beliau lagi ditemani suaminya di kamar," cetus Saroh.

Setelah berbincang setengah jam, Saroh memanggil Zainal Arifin dan anaknya, Arum yang masih sekolah kelas IV SD. Saibumi.com pun bersalaman kepada suami Mariam itu. Dari lelaki berumur 35 tahun itu ceritanya dimulai.

Pria yang bekerja wiraswasta ini menceritakan, bahwa isterinya sudah dua tahun bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Taiwan secara resmi melalui PT Nusa Sinar Perkasa dengan diberangkatkan oleh Wahana Travel. Selama di sana, isterinya kerap menelepon dirinya tanpa ada keluhan. Singkat cerita, dirinya mendapat kabar dari penterjemah agensi bahwa isterinya dirawat di salah satu RS Taiwan.

"Karena itu saya buat paspor 30 hari karena disuruh menemani isteri," ujarnya kepada Saibumi.com pada Minggu 1 Oktober 2017 di kontrakannya.

Dia mengaku, sebelum pemberangkatan ke Taiwan, tidak ada permasalahan kesehatan terhadap isterinya. Itu berdasarkan hasil kesehatan yang sudah dilakukan di rumah sakit. "Isteri saya baik dan sehat," ucapnya.

Setelah membuat paspor, Zainal Arifin pergi ke Taiwan untuk menemani isterinya yang sakit syaraf dalam jangka waktu sebulan.

"Isteriku pertama dirawat di RS Taiwan cuma seminggu lalu koma. Kemudian dilarikan ke RS yang lebih besar," ungkapnya.

Selama di RS, Mariam dibantu biaya pengobatan oleh majikan temannya dan sumbangan rekannya di sana. Memang kata Zainal Afirin ada perwakilan dari Kedubes Indonesia yang datang ke RS, tetapi cuma mantau kesehatan isterinya.

"Perwakilan Dubes itu ngomong mau dicarikan solusi terbaik," ungkapnya.

Selama sebulan Zainal Arifin menemani isterinya di RS terbentur jangka waktu visa 30 hari. Karena simalakama, akhirnya Zainal Arifin membawa pulang isterinya ke kampung halaman.

Setibadi Bandara Soekarno Hatta, BP3TKI Serang Help Desk BNP2TKI setempat mengeluarkan surat pernyataan TKI tidak bersedia dirawat inap di RS Polri Kramatjati Jakarta Timur. Karena itu, akhirnya korban dibawa pulang ke kontrakannya. Itupun dibantu penterjemah agensinya, untuk pemberangkatan dan pemulangan isterinya.

"Isteriku ada asuransi kesehatan tapi tidak terpakai. Maunya saya ya kalau memang benar gaji dua bulan bisa dicairkan, serta pihak agensi dan majikan turut membantu memberikan santunan," harapnya.

Kini, Mariam hanya bisa tergolek lemah di kamarnya. Untuk berbicara pun sulit. Bahkan kedua tangannya sulit digerakkan seperti terkena penyakit stroke. Untuk makan, minum dan buang air kecil terpaksa menggunakan selang. Malangnya pahlawan devisa negara ini.

Sumber:saibumi

No comments

Powered by Blogger.