Jangan Abaikan Sakit Kepala dan 3 Gejala Stres Lainnya

ilustrasi
Setiap orang rentan mengalami stres saat mengalami tekanan, terutama ketika menghadapi masalah keuangan atau hubungan percintaan.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Jika didiamkan, stres bisa bertambah parah dan berpengaruh pada kesehatan dan memicu munculnya berbagai penyakit. Sebelum stres bertambah parah, kenali gejala-gejalanya dan jangan abaikan.

Berikut ini beberapa gejala yang dialami seseorang saat stres, seperti dikutip dari laman Step to Health, Rabu (11/10/2017).

1. Sakit kepala

Kebanyakan penyebab sakit kepala yang dialami oleh dewasa saat ini adalah akibat stres. Keadaan emosional seseorang menyebabkan pembuluh darah berkontraksi, menurunkan aliran darah ke otak dan meningkatkan ketegangan secara keseluruhan.

Sebenarnya, bila ini terjadi terus meneurs, hal itu dapat menimbulkan kepekaan terhadap cahaya, mudah tersinggung dan masalah dengan penglihatan.

2. Gangguan pencernaan
Kebanyakan orang berpikir bahwa gangguan pencernaan selalu berkaitan dengan masalah perut atau kebiasaan makan yang buruk. Padahal, gangguan pencernaan juga berkaitan dengan neurotransmitter otak.

Saat mengalami stres, produksi hormon stres kortisol yang berlebihan meningkatkan produksi sekresi asam dan menyebabkan masalah seperti tukak lambung dan gangguan pencernaan. Hal ini juga dapat memicu rasa sakit perut berulang, menyebabkan mual dan muntah.

3. Rontoknya rambut secara drastis
Memang normal kehilangan sejumlah rambut setiap hari. Namun saat mengalami stres, Anda mungkin mengalami rambut rontok yang berlebihan dan mengalami kesulitan menumbuhkannya kembali.

Perubahan hormonal yang dipicu oleh stres dapat mempengaruhi sirkulasi di dalam kulit kepala Anda. Hal ini membuat oksigen tidak sampai ke sel dan membawa nutrisi ke rambut.

Kerontokan rambut terkait stres dapat mempengaruhi seluruh bagian kepala atau mungkin menargetkan area tertentu.

4. Gangguan nafsu makan
Meskipun ada beberapa orang yang kehilangan nafsu makan saat mengalami stres, namun sebagian orang lainnya justru merasakan keinginan untuk mengkonsumsi makanan berkalori tinggi.

Hal ini disebabkan ketidakseimbangan dalam sistem saraf, yang menyebabkan otak merespons dengan nafsu makan.

Jika mengalami hal ini, Anda harus mengatasinya karena dapat menyebabkan kekurangan gizi atau sebaliknya, kelebihan berat badan dan obesitas.

Sumber: liputan6


No comments

Powered by Blogger.