Kisah Pengusaha Sukses Bangkit dari Kerugian Ratusan Juta

sumber photo:wartaekonomi

Memilih untuk menjadi seorang pengusaha tentu harus dibarengi dengan keberanian menghadapi segala risiko yang memungkinkan terjadi di masa yang akan datang. Menjadi pengusaha berarti menjalankan bisnis dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap bisnis. Hasil pun akan dinikmati dengan lebih puas ketimbang menjadi seorang karyawan.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Namun yang perlu dipahami ketika seorang pengusaha menderita kebangkrutan dengan nilai kerugian yang cukup mengejutkan maka putus asa bukanlah jalan terbaik untuk diambil. Mental pengusaha adalah mental siap bangkit dari kegagalan.

Berikut adalah kisah yang mungkin saja bisa menginspirasi Anda para pengusaha yang sedang terpuruk dalam kegagalan. Kisah seorang mantan pengusaha EO yang kini bangkit dan sukses menjadi eksportir furniture sebagaimana dikutip dari Dokterbisnis.net.

Namanya Riza Yuda Prasetya, ia adalah alumnus Universitas Gajah Mada yang kini sukses berbisnis kerajinan. Perkenalan Riza (panggilan akrab beliau) dengan dunia usaha dimulai tahun 2002 sewaktu masih kuliah di UGM. Dia bersama teman-teman kuliah mengelola sebuah event organizer dan secara kebetulan Riza ditunjuk sebagai pemimpin.

Usaha ini hanya berjalan selama kurang lebih satu tahun dikarenakan satu persatu anggota EO tersebut lulus dan bekerja di banyak perusahaan. Walhasil jalannya organisasi milik Riza tersebut menjadi timpang. Walaupun pada waktu itu Riza sempat menjadi manager event organizer di sebuah perusahaan internasional dengan durasi kontrak selama satu tahun, tampaknya usaha tersebut tidak bisa diteruskan.

Akhirnya Riza memutuskan untuk menghentikan usaha event organizer-nya. Beruntung, ia dapat melihat sebuah peluang usaha yang dirasa cukup berprospek tidak lama setelah memutuskan berhenti dari usaha pertama. Peluang usaha tersebut adalah membuat kerajinan dari karton atau kardus ataupun bahan kerajinan dari karton atau kardus ataupun bahan bambu sesuatu yang sama sekali tidak dibayangkan sebelumnya.

Berkat keseriusan, ia mampu menggandeng salah satu eksportir di Yogyakarta yang bernama Out of Asia untuk menangani pemasaran produk. Akhirnya, Riza mendapatkan sebuah proyek besar dari Out of Asia untuk mengerjakan box dari karton yang akan dijual ke luar negeri.

Produk yang ia buat adalah tempat lilin yang dijual ke Amerika Serikat serta tempat coklat dijual ke Jerman. Proyek itu berjalan selama enam bulan dan Riza mengaku banyak mendapatkan keuntungan dari kerja sama itu. Dari keuntungan proyek tersebut, Riza mampu membeli tiga unit mobil dan mulai membuka jasa rental mobil.

Setelah keberhasilannya menangani proyek dari Out of Asia tersebut, ide bisnis Riza mulai bergerak. Ia pun mulai melirik bisnis furniture atau mebel yang saat itu prospeknya sangat menjanjikan. Keuntungan yang ia dapatkan bisa berlipat dibandingkan dengan bisnis kerajinan. Dia juga berpikir bahwa daerah asalnya, Blora, mempunyai sumber kayu jati yang terkenal sehingga diharapkan bisa mendukung produksi yang prima.

Akhirnya, Riza memutuskan untuk bekerja sama dengan beberapa rekan untuk menggarap pesanan furniture dari Italia. Setelah diadakan beberapa pertemuan dengan rekan-rekannya, akhirnya disepakati untuk mengerjakan proyek itu bersama-sama.

Di sinilah prahara bisnis muncul. Riza salah dalam memilih bahan kayu jati. Yang seharusnya kekeringan kayu jati tersebut 19%, ia sudah melakukan proses produksi ketika kekeringan baru mencapai angka 21%.

Setelah furniture tersebut selesai ia produksi dan dimasukkan ke dalam kontainer untuk dikirim ke Italia, masalah demi masalah muncul. Kekeringan yang tidak sesuai membuat furniture yang berada di dalam kontainer dengan suhu yang panas membuat lem yang ia gunakan untuk merekatkan kayu mulai renggang.

Sesampainya di pelabuhan Italia, barang kiriman dari Riza ditolak buyer karena tidak sesuai dengan pesanan. Akibatnya fatal. Untuk kesalahan tersebut, Riza harus menanggung kerugian ratusan juta rupiah. Dan untuk menutupi kerugiannya, ia dengan terpaksa harus menjual seluruh unit mobil yang dia miliki.

Dari situ pria berambut panjang ini mulai menyadari kesalahannya dan belajar bahwa segala sesuatunya harus dilakukan dengan fokus. Tidak berpindah-pindah usaha sebelum benar-benar menguasainya walaupun keuntungan bisnis lain tersebut menggiurkan. Akhirnya Riza memutuskan untuk kembali fokus menekuni bisnis kerajinan yang sempat ia abaikan.

Dan tepat pada tahun 2005, mantan pemimpin aktivis mahasiswa ini mulai mengembangkan bisnisnya untuk merambah ke bisnis kerajinan tas yang ia pelajari dari beberapa pengrajin yang ada di Kulon Progo. Kerajinan tas ini terbuat dari berbagai macam bahan seperti mendong, pandan, enceng gondok, aggel, daur ulang majalah.

Riza juga mulai aktif untuk menghubungi para eksportir yang ada Yogyakarta dan Pulau Bali karena fokus utama dari kerajinan adalah untuk pangsa ekspor. Untuk produksinya, Riza memberdayakan masyarakat sekitar dengan sistem borongan. Misalnya untuk satu tas akan mendapatkan Rp5 ribu dan bergantung dari jenis produk yang bisa diselesaikan.

Dia mengaku bahwa pada saat ramai pesanan, ia bisa memberdayakan sekitar 90 orang. Selain tenaga borongan, Riza juga mempekerjakan delapan orang pegawai tetap. Bahan baku ia datangkan dari Tasikmalaya, Kulon Progo, Semarang, dan Banyuwangi.

Di samping memenuhi pesanan eksportir untuk luar negeri, Riza juga bekerja sama dengan pengusaha lokal untuk memasarkan produknya hingga ke kota Bandung, Surabaya, Jakarta, Makassar, dan kota-kota besar lainnya. Dalam satu minggu, Riza bisa mengirim sebanyak 10-5 kali kiriman.

Harga produknya pun sangat bervariasi, tergantung jenis dan ukuran. la mematok kerajinannya dengan harga Rp8 ribu sampai dengan Rp80 ribu. Di bisnis kerajinan ini, Riza menargetkan keuntungan sebesar 20% dari nilai total produksi. Sedangkan untuk pengiriman, semuanya ditanggung pihak pembeli.

Sumber:wartaekonomi

No comments

Powered by Blogger.