Menjadi Pengasuh pada Usia 18 Tahun, Merawat Orang Tua yang Lumpuh. Tapi Satu Hal yang Dilakukannya Membuatnya Tak Kuasa Menahan Tangis

Ilustrasi


      Saya adalah seorang gadis desa, karena miskin, jadi tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Sejak kecil membantu orangtua kerja di sawah. Setelah menginjak usia 18 tahun, saya pun bilang kepada oranguaku, bahwa saya ingin kerja di kota.



Tapi orangtuaku tidak setuju karena khawatir saya sendirian di luar, namun, karena saya bersikeras, akhirnya mereka pun tak berdaya.

Sebelumnya, saya mendengar si anu bekerja sebagai pengasuh di kota, kerjanya santai dan gajinya juga lumayan besar.

Sekarang sudah membangun rumah beton di kampung, sementara rumahku masih terbuat dari jerami, sehingga membuat saya iri mendengarnya.

Karena itu, saya minta bantuan bibi yang sudah bertahun-tahun kerja di kota, agar mencarikan pekerjaan sebagai pengasuh buat saya.

Tak lama kemudian, bibi mendapatkan pekerjaan itu untukku, merawat seorang kakek lumpuh usia 70-an di sebuah rumah tua, dengan gaji 10 juta sebulan,.

Saya pun akhirnya menjadi perawat kakek sejak itu.

Awalnya saya benar-benar tidak betah merawatnya, harus mengurus makan dan kotorannya, karena perawakan saya kecil dan kurus, tidak begitu kuat, jadi saat yang paling sulit bagi saya adalah ketika harus membalikkan badannya.

Tengah malam, saya juga harus selalu menjaganya, dan saya baru tahu kalau pekerjaan sebagai perawat itu tidak semudah yang dibayangkan.

Tapi sesuatu yang terjadi kemudian, membuatku merasa bersimpati pada kakek itu.

Seperti biasa pada hari itu, saya menyuapi kakek makan siang.

Saat itu, bel pintu berbunyi, saya tidak tahu siapa yang mencari kakek, ketika saya membuka pintu, tampak sepasang suami-isteri muda mengenakan busana yang mentereng.

Dari penampilannya sekilas terlihat orang berada. “Anda mencari siapa ya?” tanyaku.

“Saya adalah anak dari keluarga ini,” jawab si pria. Saya mempersilakan mereka masuk, dan mereka langsung menuju kamar si kakek.

Tak lama kemudian terdengar suara keras dari dalam kamar. Terdengar pria itu berkata, “Aku adalah anakmu satu-satunya, kau sudah hampir mati, tapi tetap bersikeras tidak mau memberikan uang itu padaku!

“Kamu bukan anakku lagi sejak kamu mendorong saya turun tangga saat itu,” cetus si kakek.

Anaknya segera berkata dengan cemas, “Saya tidak sengaja, siapa suruh kenapa ayah tidak mau memberikan uang itu padaku?”

Kemudian, terdengar suara bantingan dari dalam kamar. Tak lama kemudian, pasangan muda itu keluar, dan menatapku dengan tajam, lalu pergi.

Saya segera masuk ke kamar, dan melihat lantai yang berantakan.

Secara garis besar saya pun menyimpulkan adanya dendam dan kebencian antara orang tua itu dengan anaknya, dan tidak bisa tidak saya pun bersimpati pada si kakek.

Sejak itu, saya berupaya merawat kakek dengan sebaik-baiknya.

Namun 2 bulan kemudian, kakek itu akhirnya meninggal dunia.

Saya berencana pulang dulu ke rumah untuk beberapa waktu, melihat-lihat orang tuaku, setelah itu baru mencari pekerjaan lagi.

Saat sedang berkemas, seorang pria yang mengaku pengacara mencariku.

Dia mengatakan bahwa sebelum meninggal, kakek mewariskan Rp. 200 juta untuk saya.

Sisanya sepeser pun tidak diberikan kepada anaknya, tapi menyumbangkannya untuk Anak-anak miskin di pedesaan.

Orang tua yang benar-benar baik dan malang, semoga tidak ada derita lagi di Surga. Selamat jalan kakek yang baik.


Sumber : erabaru

No comments

Powered by Blogger.