Presiden Taiwan Akan Melawat ke 3 Negara, Ini Peringatan China


Ilustrasi


    Presiden Taiwan Tsai Ing-wen dijadwalkan akan berkunjung ke tiga negara di Pasifik Selatan. Kunjungannya ini dinilai upaya untuk memecahkan isolasi diplomatik yang dilakukan China.



Seperti dilansir The Washington Post yang mengutip Associated Press pada Jumat (27/10/2017), Tsai akan mengunjungi Kepulauan Marshall dan Solomon serta Tuvalu. Lawatannya ini akan dimulai pada Sabtu. Ketiganya adalah bagian dari 20 negara yang mengakui kedaulatan Taiwan.

Seperti halnya sekutu Taiwan lainnya, Marshall, Solomon dan Tuvalu merupakan negara berkembang yang "mendukung" Taiwan demi mendapatkan dukungan ekonomi.

Lawatan Tsai ini terjadi setelah beberapa waktu lalu Panama memutus hubungan diplomatik dengan Taiwan dan memilih merapat ke China. Hal tersebut dianggap mencerminkan kemunduran diplomatik bagi Taiwan.

Sejak lama, China mengklaim kedaulatan atas Taiwan. Tiongkok menggunakan tekanan diplomatik dan ekonomi untuk membatasi hubungan internasional Taiwan dengan dunia luar.

Amerika Serikat tidak secara resmi mengakui Taiwan. Namun, Washington memiliki hubungan ekonomi, diplomatik dan militer yang erat dengan Taipei. Meski secara resmi menggaungkan "penyatuan yang damai", China tidak pernah menanggalkan ancaman penggunaan kekuatan untuk menguasai Taiwan.

Presiden Xi Jinping di hari pertama Kongres Partai Komunis pada 18 Oktober lalu menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengizinkan siapa pun untuk memisahkan wilayah China dari China. Pernyataannya tersebut dinilai turut mengacu pada Taiwan.

Desakan China terhadap AS

Lin Chong-pin, profesor dari Tamkang University, Taiwan menilai, Taipei dan Beijing membutuhkan sebuah "babak baru" dan "metode interaksi baru".

"Kami tahu bahwa Xi Jinping adalah pemimpin yang sangat ambisius dan dia tidak ingin pada 2020 skornya kosong atas Taiwan," ungkap Lin. Ia menambahkan, "Menurut saya Tsai Ing-wen tidak akan melewati garis merah selama perjalanannya, mengacu pada tindakan dan pernyataan yang menekankan independensi formal dan legal Taiwan dari China".

Beijing dinilai membenci pemerintahan Tsai karena Partai Progresif Demokratik yang merupakan tempat Tsai bernaung mendukung kemerdekaan resmi Taiwan. Namun, hal tersebut dibantah Tsai dan ia menyerukan agar dialog dilanjutkan dengan China.

Tahun lalu, Beijing meradang setelah Tsai menegaskan bahwa ia tidak sependapat dengan pandangan Taiwan adalah bagian dari China.

"Di Marshall dan Solomon, Tsai akan menemukan kesempatan untuk lebih memahami kebutuhan pembangunan berkelanjutan kedua negara," demikian pernyataan pemerintah Taiwan.

Lawatan Tsai ke tiga ini membuatnya harus transit di Hawaii dan Guam yang merupakan wilayah AS. Terkait hal ini, Kementerian Luar Negeri China seperti dilansir Reuters meminta AS untuk tidak mengizinkan Tsai transit di wilayahnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengungkapkan bahwa pihaknya telah mendesak AS untuk mematuhi kebijakan "Satu China".


Sumber : Liputan 6

No comments

Powered by Blogger.