Sulap Limbah Pertanian Jadi Suvenir Desa Wisata

sumber photo:kontan

Bagi sebagian besar masyarakat pedesaan, limbah pertanian mungkin tak lagi berharga. Kalaupun dimanfaatkan, maksimal hanya untuk pupuk organik. Tak banyak masyarakat sekitar pedesaan mau memanfaatkan limbah pertanian menjadi produk seni yang punya nilai jual.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Kreativitas Muhammad Nur Khusaini, pemuda asal Kecamatan Gunung Pati, kota Semarang ini patut diacungi jempol. Ia bersama adiknya membuat kerajinan miniatur dari limbah pertanian, yang kemudian menjadi suvenir khas Desa Wisata Kandri, Gunungpati, Semarang. Suvenir miniatur besutan Muhammad Nur Khusaini tersebut dibranding dengan nama Kandri Ethnic sejak tahun 2013.

"Ide awal datang dari warga sekitar sini yang sering ke ladang atau sawah, tapi sampah pertaniannya ditumpuk saja, paling nanti dibakar. Nah, dari situ saya kepikiran untuk bikin miniatur tentang kegiatan di desa ini dari sampah di ladang, sekalian untuk oleh-oleh khas desa Kandri ini," tutur Saddam, sapaan akrab Muhammad Nur Khusaini dilansir dari KONTAN.

Saddam memanfaatkan limbah kayu, ranting,kulit kayu, daun kering, pelepah pohon pisang dan kulit jagung yang tergeletak tak berguna di ladang, sawah, sungai dan hutan. Limbah kayu dan ranting yang digunakan kadang sudah ada aksen ukiran alami karena proses erosi di sungai. Ukiran alam itulah yang makin mempercantik produk seni Kandri Ethnic.

"Ukiran alaminya itu macam-macam, ada yang karena air sungai, ada yang dimakan rayap. Semua bahan saya kumpulkan, kemudian saya potong-potong dan direkatkan sesua pola miniatur yang mau dibentuk. Merekatkannya bisa dengan lem atau serbuk sisa potongan ranting dan kayu tadi. Setelah selesai, saya semprot bersih, lalu divernis agar mengkilap, " terang Saddam.

Aneka miniatur unik berbahan dasar limbah pertanian tersebut biasanya berupa karakter orang-orangan di atas kayu, orang menumbuk padi, petani mencangkul, hingga orang mencari kayu bakar. Ukurannya pun beragam, yang terkecil tingginya sekitar 10 centimeter (cm) hingga tertinggi 30 - 40 cm. Ada juga miniatur yang hanya satu karakter dan ada yang berbentuk diorama dengan lebih dari satu karakter.

Saddam membanderol hasil karyanya mulai Rp 50.000 sampai Rp 3 juta per item, tergantung ukuran, jumlah dan tingkat kerumitannya. "Kalau yang Rp 50.000 biasanya satu karakter kecil-kecil yang ukuran 10 centimeter. Kalau yang sampai Rp 3 juta itu bentuknya diorama, ada ceritanya dari miniatur itu, misal miniatur ibu-ibu menumbuk padi," jelasnya. Adapula desain diorama pertunjukan jathilan lengkap dengan peralatan musik dan penarinya yang dibanderol sampai Rp 2 juta.

Berkat ketelatenan Saddam dan adiknya, pesanan pun mengalir dari dalam negeri hingga mancanegara. Dari dalam negeri, pesanan kebanyakan datang dari Jogja, Jakarta, Bandung dan Bali. Sedangkan dari mancanegara, pesanan mengalir dari Jepang, Norwegia, Rusia, Amerika Serikat dan India. Pria asli Semarang ini mengaku pembelinya kebanyakan para kolektor dan pecinta seni.

"Kalau orang awam mungkin kurang tertarik dengan karya kami. Mungkin pikirnya, hanya pajangan saja, tapi kok harganya cukup mahal," ujar Saddam. Meski tak banyak peminat dari masyarakat awam, dalam sebulan, Kandri Ethnic bisa mengantongi omzet rata-rata Rp 15 juta - Rp 20 juta.

Saddam mengatakan dalam satu hari, Ia bisa menghasilkan 10 karakter orang. Bersama adiknya, mereka bisa menghasilkan 20 karakter orang. "Tetapi kalau berupa rangkaian diorama yang menggambarkan aktivitas bisa selesai seharian atau maksimal dua hari," ungkapnya. Tidak hanya aktivitas keseharian warga Kandri, Kandri Ethnic juga menerima pesanan khusus sesuai keinginan pelanggan, misal sebagai suvenir pernikahan.

Sementara itu, untuk pemasaran, Kandri Ethnic tidak hanya mengandalkan dari kunjungan wisatawan, tetapi juga memasarkan melalui online. "Lewat online pesanan selain dari Jepang dan Rusia, juga dari Jerman. Kami butuh bantuan pemasaran dari pemerintah agar kerajinan ini bisa berkembang dan berkelanjutan," pungkas Saddam.

Sumber:kontan

No comments

Powered by Blogger.