Tiba di Tanah Air, TKW Kedawung Langsung Dilarikan ke RSUD Sragen

sumber photo:solopos

Seorang perempuan tergeletak lemas di ranjang besi. Kedua matanya terpejam. Kakinya tak bisa diluruskan. Ia hanya terdiam saat wartawan dan petugas keamanan berkunjung.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Perempuan berkaus abu-abu dan bercelana panjang warna hitam itu tidak lain adalah Hartini, 42, seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Dukuh Sidowayah RT 001, Desa Jenggrik, Kecamatan Kedawung, Sragen.

Lusiyana Sri Hartini, 49, kakak kandung Hartini, duduk di samping ranjang tidurnya di Bangsal Melati No. VII-A RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Perempuan berhijab itu sibuk menerima telepon lewat ponsel pribadinya.

“Ya, kakinya kalau diluruskan sakit. Kalau bicara pelan sekali. Saya tidak tahu penyakitnya. Katanya saraf. Di bagian kepalanya ada bekas luka karena pernah menjalani operasi di Hongkong,” ujar Lusiyana saat berbincang dengan wartawan di RSUD Sragen, Rabu (11/10/2017) siang.

Hartini tiba di Tanah Air pada Selasa (10/10/2017) pukul 18.15 WIB. Kedatangan Hartini di Bandara Adi Soemarmo Solo dijemput dua orang pejabat Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sragen.

Hartini tiba di Solo diantar pejabat konsulat Indonesia di Hongkong. Setibanya di Indonesia, Hartini langsung diserahkan kepada perwakilan keluarga, yakni Lusiyana didampinggi anggota keluarga lainnya dan disaksikan para perangkat Desa Jenggrik dan para pejabat dari Disnaker, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), dan petugas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Setelah diterima keluarga, Hartini langsung dirujuk ke RSUD Sragen karena kondisinya yang lemah. “Adik saya itu sakit di Hongkong selama enam tahun. Selama 10 tahun tidak ada kabar sejak berangkat ke Hongkong. Tidak ada komunikasi dengan keluarga di rumah. Kami baru mengetahui dirinya sakit setelah ada informasi di WA [Whatsapp]. Waktu berangkat ke Hongkong, anaknya masih kecil dan belum sekolah. Kini anaknya sudah kelas III [IX] SMP,” ujar Lusiyana.

Direktur RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen, dr. Didik Haryanto, sempat menerima kedatangan Hartini pada Selasa malam. Hartini diobservasi terlebih dulu di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebelum dipindahkan ke Bangsal Melati.

“Hasil pemeriksaan sementara, penyakit Ibu itu mengarah ke saraf. Ada tim dokter yang menangani pasien itu,” imbuhnya.

Berdasarkan berita dari Konsulat Jenderal RI di Hongkong, Hartini menderita haemorrhage. Surat tersebut juga menjelaskan status Hartini sebelumnya yang menjadi TKI lewat Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) PT MPD dengan perpanjangan kontrak terakhir pada 2011.

Camat Kedawung Sragen Hiladawati Aziroh juga menerima salinan surat tersebut. “Indikasi penyakitnya mengarah ke gejala stroke. TKI itu tidak bisa dimintai keterangan karena tidak bisa bicara,” katanya.

Kepala Disnaker Sragen Pudjiatmoko menangani TKW asal Jenggrik itu sesuai standard operating procedure (SOP) dan dikoordinasikan dengan para stakeholders terkait, terutama dengan RSUD Sragen. Mantan Camat Gemolong itu menyampaikan kepulangan Hartini difasilitasi Kementerian Luar Negeri.

“Hartini dirujuk ke RSUD itu dengan pembiayaan dari BPJS. Perempuan itu termasuk keluarga miskin sehingga beban biaya di RSUD gratis. Hartini ini statusnya sebenarnya bukanlah TKI karena putus kontraknya sudah berakhir pada 2011. Selama delapan tahun, ia tinggal bersama temannya di Hongkong. Kemudian enam tahun di antaranya mengalami sakit hingga sekarang,” tuturnya saat ditemui wartawan.

Sumber:solopos

No comments

Powered by Blogger.