Warga Kampung Nelayan Cumpat Buat Paving dari Kulit Kerang

sumber photo:tribunnews
Puluhan tahun limbah kulit kerang di RW 2 Cumpat Kelurahan Kedung Cowek Kecamatan Bulak Surabaya menjadi permasalahan kampung nelayan. Produksi limbah kerang sebanyak 25 kwintal per hari membuat kampung mereka kumuh dan bau.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


Ini karena limbah kerang hanya ditimbun atau tak jarang dibuang kembali ke laut. Namun kini, permasalahan limbah itu berhasil dibuat peluang usaha oleh para nelayan.

Kulit kerang yang dulunya tak berdaya jual, diolah menjadi bahan campuran semen untuk membuat paving. Bahkan paving dari kampung Cumpat ini beda dibandingkan paving biasanya. Paving kerang Cumpat memiliki desain yang unik dan cantik.

Kesibukan para nelayan memproduksi paving kerang ini tampak saat Surya.co.id menyambangi kampung Cumpat, Jumat (6/10/2017).

Memanfaatkan hari libur melaut, sekitar 15 nelayan anggota Paguyuban Kelompok Nelayan Bintang Samudra Cumpat serius membuat matras dari kayu yang dipahat untuk desain pencetak motif kerang.

"Kami sedang utak atik membuat desain yang paling pas untuk bagian atas paving khas Cumpat. Bentuknya memang hanya segi enam, tapi toppingnya dikasih kerang macam-macam dari matras ini," ucap Ketua Paguyuban Kelompok Nelayan Bintang Samudra Cumpat, M Ikhsan.

Pria yang juga akrab disapa Simin ini menjelaskan, kini para nelayan sedang membuat paving untuk pesanan dari kecamatan sebanyak seribu paving untuk luasan 10 meter persegi.

Usaha membuat paving ini belum lama dilakukan para nelayan. Alat pembuat paving ini baru tiba sekitar satu bulan lalu. Hasil bantuan penelitian dari PENS Surabaya. Mereka mendapatkan bantuan satu alat untuk pembuat adonan paving, dan satu alat untuk pencetak paving.

"Per hari kami bisa membuat sebanyak 50 paving. Maklum alat pe cetaknya baru satu. Padahal kalau target kami bisa sampai 100 paving sehari," ucap Simin.

Untuk pembuatan paving ini, para nelayan sudah mendapatkan pelatihan dan formula agar menghasilkan paving yang kuat dan tidak keropos.

Mereka menggunakan sistem komposisi perbandingan semen, pasir dan kerang yang dihaluskan. Yaitu satu timba semen, tiga timba pasir, dan ditambahkan dengan empat timba kulit kerang.

"Dari penelitian mahasiswa di Cumpat tentang kandungan kulit kerang, ternyata limbah ini memiliki kandungan silika tinggi, jadi bagus untuk campuran membuat paving," ucap Simin.

Meski baru satu alat pencetak, namun para nelayan sudah membuat cukup banyak desain motif paving. Ada sebanyak 12 motif berbeda yang sudah dibuat. Ada yang menggunakan motif kerang kecil-kecil, ada pula kerang yang bermotif besar. Warna kerangnya juga dipilih beraneka rupa agar menarik dan cantik.

"Alhamdulillah kemarin juga sudah ada dari Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya yang katanya mau pesan paving dari kami, dan sudah dilihat produknya," ucap Simin.

Pihaknya berharap ke depan bisa menambah alat pencetak lagi. Sebab dengan penambahan alat bisa meningkatkan produksi paving dari kampung Cumpat.

Ketua RW 2 kampung nelayan Cumpat, Samiadi Santoso mengatakan, total ada sebanyak 200 nelayan di RW nya. Yang setiap harinya mencari kerang sehingga limbah kerang terus diproduksi.

"Setiap ada mahasiswa KKN yang datang ke sini, saya selalu beri tantangaan untuk mengatasi masalah limbah kerang. Ternyata yang sudah berhasil dari PENS, dan dapat dana penilitian dari Dikti, wujudnya alat yang sekarang dimanfaatkan warga," kata Samiadi.

Menurutnya, potensi usaha dari kerang ini saangat besar. Bahkan jika musim kerang, per hari satu orang bisa dapat 50 kilogram kerang. Namun karena belum tahu pemanfaatnya limbah kerang dibuang begitu saja di laut.

"Sekarang nelayan sudah proses produksi. Kami kini tengah berupaya untuk memasarkan. Mengoptimalkan era digital untuk usaha. Bisa lewat whats app, facebook, dan juga dari mulut-ke mulut," kata Samiadi.

Ia juga berencana memasarkan paving khas Cumpat ini ke Sidoarjo. Targetnya produk paving produksi nelayan ini bisa masuk ke toko-toko bangunan.

"Kami sangat optimis pving kami bisa diterima pasar. Sekarang kami terus lakukan perbaikan desain dan kualitas pavingnya sembarimencari orderan agar usaha terus berjalan," ucap Samiadi.

Bukanhanya menerima pesanan dari pemerintah saja, melainkan juga mengincar pasar komersial yang lain.

"Poinnya, usaha ini membuat kamopung nelayan jadi lebih bersih. Limbah yang biasa menumbuk bisa terolah dan menjadi produk bernilai jual," katanya.

Sumber:tribunnews 


No comments

Powered by Blogger.