Waspada Kepulangan Militan ISIS, RI Koordinasi dengan Turki

ilustrasi
Indonesia memperkuat koordinasi dan kerja sama intelijen dengan Turki dan Mesir untuk mengantisipasi kemungkinan gelombang kepulangan eks militan teroris asing (FTF) ke negara asal setelah kekalahan ISIS di Raqqa, Suriah.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal


“Salah satu perhatian pemerintah setahun terakhir adalah kekhawatiran mengenai regionalisasi organisasi terorisme di kawasan lain dan RI sudah cukup aktif mengantisipasi hal ini,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (18/10).

“Contohnya, RI terus lakukan kerja sama seperti sharing intelijen dengan Mesir dan Turki terkait hal ini,” tuturnya menambahkan.

Arrmanatha mengatakan Indonesia berharap kejatuhan ISIS di Suriah dan Irak beberapa waktu lalu tak memicu kemunculan basis teroris baru di kawasan lain, terutama di Asia Tenggara.

Sebab, ada kekhawatiran para FTF yang selama ini hijrah ke Timur Tengah akan kembali dan menyebarkan propaganda ISIS di negara asal mereka.

Arrmanatha menekankan bahwa pemerintah akan terus bersiaga menghadapi kemungkinan kembalinya gelombang FTF asal Indonesia. Dia memastikan pemerintah akan bertindak jika ada FTF yang pulang ke Indonesia.

“Tentu akan ada proses yang dilakukan polisi dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terhadap para FTF yang pulang ke Indonesia. Dalam hal ini BNPT dan Polri terus kerja sama dengan pihak dan negara-negara lain yang terlibat dan mengetahui adanya kemungkinan FTF asal Indonesia di Timur Tengah,” ucap Arrmanatha.

Sejauh ini, Arrmanatha menyebutkan kementeriannya belum mendapatkan laporan detail mengenai kemungkinan militan ISIS asal Indonesia kembali dari Timur Tengah.

Berdasarkan data Polri, sepanjang 2016 lalu, sebanyak 600 WNI terbang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS dan sempalan kelompok teroris Al Qaidah, Front al-Nusra.

Sekitar 500 WNI lainnya, yang juga masuk ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok teroris, dilaporkan dideportasi.

“Kami akan terus update ini. Sejauh ini kami tidak punya data yang pasti mengenai berapa jumlah FTF asal Indonesia di Timur Tengah, ini kan sulit. Mungkin BNPT punya data, tapi itu pun secara global. Soal mereka [BNPT] punya daftar FTF asal Indonesia, kami belum tahu,” ujar Arrmanatha.

Sumber:

No comments

Powered by Blogger.