Berkunjung ke SMK di Tegal yang Wajibkan Siswinya Bercadar


Siswi Bercadar


     Sebuah SMK di Bumijawa Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, mewajibkan siswi-siswinya yang berasal dari pondok pesantren untuk mengenakan cadar selama mengikuti kegiatan belajar. Kebijakan ini diberlakukan untuk mencegah agar anak didiknya terjerumus dalam kemaksiatan.



Sejak awal tahun ajaran baru 2017/2018, SMK Attholibiyah di Desa Muncanglarang, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal menerapkan aturan itu. Cadar ini berupa selembar kain hitam yang menutupi bagian wajah siswi sekolah ini. 

Meski siswinya memakai cadar, para guru wanita tidak mendapat kewajiban yang sama. Mereka mengenakan jilbab seperti biasa. Kebijakan sekolah yang berada 60 km dari Ibu Kota Kabupaten Tegal ini sempat ramai diperbincangkan di mesia sosial.

Pemberlakuan aturan memakai cadar itu merupakan inisiatif dari pengelola. Peraturan ini sebagai bentuk antisipasi agar siswa siswi tidak terjerumus dalam kemaksiatan. 

"Ini demi menjaga anak-anak yang sudah dititipkan orang tua mereka. Jangan sampai mereka itu berpacaran, maksiat dan sebagainya," kata Kustanto Widyamoko, Kepala SMK Attholibiyah, Selasa (31/10/2017).

Kustanto Widyamoko menilai pergaulan anak muda zaman era digital sangat rentan terhadap hal-hal yang berbau maksiat. Tidak jarang anak-anak sekolah yang masih belia terjerumus dalam pergaulan bebas. 

Hal ini terjadi, kata Kustanto karena tidak adanya aturan yang membatasi kebebasan mereka. Termasuk kebebasan bertemu antara pelajar pria dan wanita saat sekolah.

"Amanat dari wali murid akan kami jaga. Mereka sudah mempercayakan anaknya kepada kami untuk belajar, bukan yang lain. Dengan aturan ini, paling tidak bisa menghindari interaksi antara dua orang bukan muhrim yang berlainan jenis," katanya.

Selain pemakaian cadar, ruang kelas antara murid laki-laki dan perempuam juga dipisah. Jumlah siswa siswi SMK tersebut sekitar 90 anak dan dibagi menjadi tiga kelas.

Pemberlakukan memakai cadar ini, kata Kepala SMK Attholibiyah, hanya berlaku bagi siswi yang juga santriwati dari pondok pesantren di sekitar sekolah tersebut. Kebijakan yang sama juga diterapkan di MTs Attholibiyah. Sedangkan siswi yang bukan dari santriwati pondok pesantren, diperbolehkan tidak memakai cadar.

"Mereka yang sekolah ini ada dari pondok. Mereka dititipkan orang tuanya untuk menjadi santri dan belajar di SMK maupun MTS (Attholibiyah). Tidak hanya dari Tegal, santriwati ini ada yang berasal dari Kalimantan, Bali, Jakarta dan kota lain," terangnya.

Sejauh ini, kata Kepala Sekolah, belum ada siswa atau orang tua yang merasa keberatan dengan kebijakan tersebut. Saat peraturan sekolah ini akan diberlakukan, semua sepakat menyanggupi untuk mengikuti peraturan sekolah. Pihak orang tua juga tidak ada yang menyampaikan keberatannya.

"Semua menyadari, siswa maupun orang tua. Bahwa menutup wajah ini tidak hanya aturan sekolah, namun juga aturan agama Islam," terangnya.

Kebijakan SMK Attholibiyah ini pun menuai reaksi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tegal. Menurut Kustanto, pihak dinas meminta agar sekolah mengevaluasi kebijakan tersebut. 

"Sejak tadi siang memang peraturannya dirubah. kewajiban mengenakan cadar berlaku saat siswi berangkat dan pulang dari sekolah. Selama di kelas siswi boleh membuka penutup wajahnya," papar Kustanto. 


Sumber : Detik

No comments

Powered by Blogger.