Kelakuan Kids Zaman Now: Kuras Duit Orang Tua Demi Beli Jaket Ala Artis Korea yang Lagi Hits ini


Jacket long padding


          Sepertinya saat ini para orang tua di Korea sedang dibikin pusing tujuh keliling akibat kelakuan anak-anak mereka.




Kids zaman now ini tengah terbuai dengan trend fashion ala artis Korea.

Dilansir Grid.ID dari Koreaboo, masyarakat Korea bahkan menyebut anak-anak ini sebagai spine breakers alias beban tulang punggung keluarga.

Ungkapan spine breakers ditujukan untuk para remaja yang menginginkan sesuatu yang mahal tanpa memikirkan bagaimana kerja keras orang tua saat banting tulang.

Orang Korea memang memiliki budaya yang cukup obsesif dengan trend fashion.

Mereka sangat suka mengikuti trend fashion artis-artis top.



Mengikuti selera fashion artis memang bisa jadi kegiatan yang positif.

Namun kali ini, kelakuan para remaja Korea justru menyusahkan kedua orang tua.

Para kids zaman jigeum ini merasa harus memiliki sebuah jaket long padding yang sering dipakai oleh para artis Korea.

Saat teman sebaya mereka memakai jaket ini ke sekolah, maka anak yang lainnya akan ikut merengek pada orang tua masing-masing.

Padahal, harga jaket long padding ini sangat mahal dan bisa menguras tabungan para orang tua.

Harga jaket long padding ala artis Korea berkisar 300 Dollar - 1.000 Dollar atau sekitar Rp. 3,9 juta sampai Rp 13 juta.

Jaket long padding ini sudah dipakai oleh beberapa artis top seperti G-Dragon, Wanna One, Suzy, dan masih banyak lagi.

Para artis Korea memang sering memakai jaket serupa di tengah cuaca dingin yang hampir memasuki winter.

Di mata para remaja Korea, para artis ini tampak keren saat memakai jaket long padding.

Para artis Korea harus memakai jaket long padding agar tubuh mereka tetap hangat.

Selain itu, jaket long padding juga sangat praktis dan tidak akan merusak outfit yang siap mereka pakai saat manggung atau syuting.

Banyak masyarakat Korea yang berharap fenomena ini segera berakhir.

Menurut mereka fenomena 'latah fashion' ini bisa memberikan dampak negatif di kalangan anak muda.

Para orang tua takut hal ini akan menjadi kompetisi kelas sosial dalam pergaulan anak-anak mereka.


Sumber : Grid

No comments

Powered by Blogger.