Tutup Usia di Oman, Pemulangan Jenazah TKI Yuyun Terkendala Biaya

ilustrasi

Keluarga Yuyun Bin Aa Halid (35), TKI yang tutup usia di Oman mengharapkan bantuan untuk memulangkan jenazah warga Kampung Mekarmulya RT 04/01, Desa Neglasari, Kecamatan Bojongpicung itu. Bukan tanpa alasan, setelah ditemukan meninggal dunia pada Jumat 10 November 2017 lalu, belum ada kepastian kapan jenazah dapat dipulangkan.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Hal itu disebabkan, majikan maupun keluarga sama-sama tidak mampu memulangkan jenazah Yuyun yang meninggal usai meminum obat sakit gigi, karena alasan biaya. Padahal, keluarga besar Yuyun sangat mengharapkan, dapat memakamkan wanita tersebut di kampung halamannya.

”Saya pikir, (jenazah) bisa cepat dipulangkan. Tapi, karena Yuyun sudah tidak terakomodasi asuransi, maka kepulangannya terhambat,” kata orangtua Yuyun, Yati (50).

Meninggalnya Yuyun, diakui membuat keluarga kaget dan tidak percaya. Terlebih sehari sebelumnya Yuyun sempat melakukan panggilan video dengan keluarganya. Berdasarkan informasi, putrinya diketahui mengalami sakit gigi dan hendak pergi ke dokter untuk berobat.

Namun, majikannya segera memberikan obat sebelum Yuyun sempat berobat. Tak lama berselang, Yuyun pun meninggal dunia usai meminum obat sakit gigi pemberian majikannya itu. Setelah mendapatkan kabar tersebut, belum ada solusi untuk memulangkan jenazah Yuyun.

”Saya sangat berharap, supaya anak saya bisa segera dikembalikan kepada keluarga. Bahkan, anak saya yang ada di Arab Saudi juga sampaisampai meminta sumbangan untuk dapat memulangkan jenazah Yuyun,” ucapnya.

Hingga saat ini, keluarga pun menunggu bantuan dari pihak terkait untuk mengurus kepulangan Yuyun. Terlebih, kabarnya Yuyun pun belum menerima gaji selama dua tahun bekerja.

Kasus yang menimpa Yuyun pun membuat Kepala Desa Neglasari Andriana berkomentar. Menurut dia keberangkatan warganya itu tidak terdata. Ia mengatakan, pihak desa seringkali tidak mengetahui keberangkatan TKI dan baru mengetahui keberadaan para buruh migran usai terjadinya kasus.

”Kami sering tidak tahu perihal keberangkatannya. Ketika sudah ada masalah begini, kami pun kebingungan karena tidak punya data apa-apa,” ujarnya.

Oleh karena itu Andriana mengimbau, agar warga yang hendak berangkat ke luar negeri sebagai TKI dapat melaporkan diri ke pihak desa. Sejauh ini, pihak desa hanya mencatat 120 TKW yang mendaftarkan diri sebelum berangkat ke luar negeri.
TKI legal

Sementara itu, Ketua DPC Asosiasi Tenaga kerja Indonesia Pembaharuan (Astakira) Cianjur, Hendri Prayoga mengatakan Yuyun adalah TKI legal. Dia diberangkatkan atas rekomendasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Cianjur pada 2013 lalu.

”Kami mendatangi Kementerian Luar Negeri untuk meminta bantuan memulangkan jenazah Yuyun. Apalagi, sekarang diketahui kalau Yuyun merupakan TKI legal yang artinya menjadi tanggung jawab pemerintah,” kata Hendri.

Ia menjelaskan, Astakira meminta bantuan langsung ke Kemenlu karena masa kontrak Yuyun sudah habis dan perusahaan yang memberangkatkannya pun sudah tutup. Oleh karena itu, keluarga jelas membutuhkan bantuan pemerintah secara langsung untuk melancarkan proses pemulangan.

Hendri sebagai pihak kuasa hukum Yuyun pun mengaku, akan terus mendesak pemerintah dan majikan Yuyun untuk memudahkan kepulangan TKI tersebut. Menurut dia, apapun alasannya keluarga bersikeras untuk memakamkan Yuyun di tanah kelahirannya meskipun prosesnya panjang.

”Kami terus berdialog dengan pihak majikan yang sama-sama belum bisa memulangkan jenazah ke Indonesia. Intinya, kami akan terus perjuangkan hak TKI dan keluarganya,” kata Hendri.

Sejauh ini, Astakira pun sudah mengabarkan kasus tersebut kepada dinas terkait dan mengharapkan adanya bantuan yang maksimal, sesuai dengan tanggung jawab instansi terkait.

Sumber:pikiran-rakyat

No comments

Powered by Blogger.