Video 'Potongan Kanker' Jauhi Bawang, Dokter Sebut Tidak Masuk Akal


Berita potongan kanker yang menjauhi bawang putih adalah hoax
        Netizen kembali dihebohkan dengan video yang menampilan benda dengan wujud lembek yang bergerak-gerak ketika didekatkan dengan satu siung bawang putih dan sebuah emas. Untuk mencari tahu kebenaran broadcast tersebut, detikHealth meminta komentar para ahli kanker.



Dihubungi oleh detikHealth, Dr Fielda Djuita SpRad(K) Onk Rad, menyebut hal tersebut sebagai hal yang tidak masuk akal. Pasalnya setiap kanker memiliki sifatnya tersendiri sehingga obat antara satu kanker dengan kanker yang lain tidak bisa sama.

"Misalnya kanker untuk payudara dengan prostat, itu saja sudah berbeda (obatnya)," jelasnya.

Dr Fielda juga mempertanyakan mengenai benda yang disebut-sebut sebagai potongan kanker dalam video tersebut.

"Itu jaringan apa kan kita enggak tahu, perlu diuji lebih lanjut. Tapi saya rasa tidak masuk akal, satu jenis kanker dengan kanker lainnya sudah beda-beda sifatnya. Kalau gitu, taruh saja bawang putih banyak-banyak di badan kita," pungkasnya.

Sementara itu, Dr Sonar Soni Panegoro, SpB(K) Onk dari RS Kanker Dharmais juga memberikan pernyataan bahwa video tersebut adalah hoax. Sebab, sel apa saja yang keluar dari tubuh akan mati kecuali dikultur atau dibiakkan dalam media tertentu. 

"Dan kalau pun tumbuh akan terlihat 2-3 hari, jadi lambat sekali pergerakannya. Sehingga tidak mungkin bisa bergerak seperti itu. Kemudian sel kanker hidup itu warnanya putih kelabu kadang merah. Yang kehitaman kanker kulit melanoma," jabarnya.

Dalam broadcast tersebut disebutkan sebagai berikut:


Potongan hasil operasi kanker, kanker itu hidup. Didekatkan bawang putih menjauh, didekatkan emas mendekat. Simak dengan baik. Itu artinya kalau emas bisa memicu kanker apalagi klu sudah menopause jangan terlalu sering pakai emas bisa memicu timbulnya alzheimer makanya laki2 diusahakan jgn pakai emas karena laki2 kan tidak haid kalau perempuan yang haid zat besinya keluar bersamaan haidnya.


Sumber : detikhealth

No comments

Powered by Blogger.