Anak 10 tahun dipaksa nikah, minta cerai suami menolak, rumah orang tua dibakar




Rumah keluarga Hasna (14) di Kampung Bossolo, Kelurahan Tonrokassi, Kecamatan Tamalate, Kabupaten Jeneponto, Sulsel dibakar, Kamis sore lalu, (28/12) pukul 15.00 wita. Pelakunya, tidak lain adalah Mardi, mantan suaminya berikut Passima, kakek Mardi dan kerabatnya yang lain.

Aksi ini dipicu oleh perceraian antara Mardi dan Hasna yang baru saja usai ketuk palu di Pengadilan Agama, Jeneponto dan tuntutan pengembalian uang mahar yang tidak mampu dikembalikan oleh Hasna dan keluarganya. Nyaris saja enam anggota keluarga di atas rumah yang dibakar itu tewas terpanggang seandainya petugas kepolisian dan petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian yang jaraknya sekira 20 kilometer dari Kota Jeneponto.
Kapolres Pangkep, AKBP Hery Susanto melalui Kapolsek Tamalatea, AKP Azis yang dikonfirmasi, Minggu, (31/1) membenarkan kejadian naas itu. Selain berakhir dengan aksi pembakaran juga diwarnai aksi saling tebas ini.
Kata AKP Azis, Mardi bersama Passima kakeknya dan keluarga besarnya yang lain tidak terima perceraian hasil sidang terakhir di Pengadilan Agama itu. Mereka kemudian mendatangi rumah Hasna dan orang tuanya di Kampung Bossolo, minta kembali uang mahar atau yang dikenal dengan istilah uang panaik di budaya BugisMakassar ini ke keluarga Hasna sebesar Rp 10 juta.
Tuntutan uang panaik yang digunakan di pernikahan Mardi dan Hasna 4 tahun silam itu tidak mampu dikembalikan oleh Masyiri, orang tua Hasna dan kerabatnya yang lain, cekcok pun terjadi.
Saat keributan terjadi, datanglah Kahar kerabat Hasna mencoba menengahi keributan itu namun yang terjadi justru sebaliknya. Kahar malah ditebas parang di bagian punggungnya oleh Samsir, anak dari Passima, kakeknya Mardi. Dalam kondisi terluka, Kahar berlari ke rumahnya ambil parang dan kembali lagi kemudian menebas Passima.
Cacci, adik dari Samsir berusaha selamatkan Passima, tapi Cacci juga kena tebasan parang Kahar. Akhirnya di antara kerabat Mardi itu membakar rumah keluarga Hasna setelah Mardi dan kerabatnya turun dari rumah itu. Sementara di atas rumah, ada Hasna dan keluarganya berjumlah 6 orang, dua di antaranya anak kecil tidak bisa turun dari rumah panggung itu karena akses keluar sudah dibakar.
"Setelah mendapat laporan, kita langsung berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran. Petugas pemadam kebakaran sempat terlambat memadamkan api karena Passima yang terluka itu, kakek dari Mardi menghalangi-halangi petugas. Petugas kemudian mengarahkan semprotan air ke Passima dan keluarganya agar mundur kemudian mengarahkan lagi semprotan ke arah rumah yang terbakar. Kita juga ambil tindakan tegas, keluarkan tembakan peringatan ke udara dan barulah Passima dan keluarganya berlarian sehingga keluarga Hasna berhasil diselamatkan," kata AKP Azis.
Saat ini, tambah AKP Azis, pengambilan keterangan dari para pelaku dan saksi belum tuntas sehingga belum ada penetapan tersangka. Termasuk ke Kahar dan Passima karena saat ini keduanya masih dirawat di Rumah Sakit.
Dari informasi yang dihimpun, imbuh Kapolsek Tamalatea ini, empat tahun pernikahan antara Mardi dan Hasna yang saat itu masih usia 10 tahun tidak berjalan dengan baik. Karena pada dasarnya memang, di pernikahan itu ada unsur paksaan. Hasna hanya sebagai pengantin pengganti 4 tahun silam itu karena kakaknya yang dilamar, kabur meninggalkan rumah sesaat sebelum pernikahan.
Akhirnya Hasna lah yang disodorkan oleh orang tuanya untuk menutup malu. Dan dalam perjalanan bahtera rumah tangga itu, Mardi tidak pernah mendapat pelayanan lahir batin dari istrinya sehingga selalu ribut dan berakhir di Pengadilan Agama.

Sumber :Merdeka

No comments

Powered by Blogger.