Beredar Video Pengeroyokan Murid SD di Sumsel, Ini Penjelasan Sekolah


Pengeroyokan siswa SD viral di media sosial


       Video pengeroyokan siswa SD viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut terlihat seorang bocah laki-laki berseragam SD dikeroyok oleh sejumlah temannya di dalam kelas.



Lokasi pengeroyokan berada di SDN 1 Lebung Gajah, Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Dalam video berdurasi 3 menit 27 detik itu terlihat korban dipukul, ditendang, diinjak dan diduduki oleh teman-temannya.
Korban menangis, tetapi teman-temannya tidak berhenti memukul. 
Mereka terus mengeroyok korban sambil disaksikan oleh teman-temannya di dalam kelas.

Video ini mendapat komentar dari netizen. Mereka mengecam tindakan para siswa SD tersebut. Seperti yang disampaikan Yuli di kolom komentar.

"Tolong laporkan kepada yang berwajib perlindungan anak. Ya Allah bagaimana nasib dia terjadi begini, masyarakat menjadi resah dari video ini," tulis Yuli.

kumparan (kumparan.com) mengonfirmasi hal ini kepada Kepala Sekolah SDN 1 Lebung Gajah, Bakri. Dia membenarkan adanya peristiwa tersebut.

"Benar itu di SDN 1 Lebung Gajah, kejadiannya tanggal 27 November saat jam istirahat," ucap Bakri, Rabu (13/12).

Bakri mengatakan saat kejadian tidak ada guru yang tahu, karena pintu kelas ditutup. Selain itu tidak ada siswa yang melapor kepada guru.

Kabar ini baru diketahui guru setelah video pengeroyokan itu viral di media sosial. Menurut Bakri, pihak sekolah sudah memanggil korban dan para pelaku. Para siswa mengatakan pengeroyokan itu hanya main-main.

"Fakta yang sebenarnya dari pengakuan anak-anak itu bukan berkelahi, itu main-main, anak kelas 1 SD. Kedua pihak sudah ditemukan, sudah kami damaikan," jelas Bakrie.

Berdasarkan pengakuan para pelaku, pengeroyokan itu dilakukan atas suruhan siswa kelas 5 SD. Siswa itu juga yang merekam adegan kekerasan tersebut.

"Katanya dipaksa sama anak kelas 5 SD, satu orang. Orang tua dia juga sudah kami panggil karena mencemarkan nama baik sekolah," ucap Bakri.

Selain memanggil orang tua, sekolah juga meminta bantuan polisi untuk menangani masalah ini. Menurut sekolah, tindakan tersebut sudah membuat nama sekolah tercoreng.

"Kami serahkan kasus ini ke polisi tapi kami belum tahu hasilnya gimana. Kami tidak senang nama sekolah kami tercemar," ucapnya.

Bakri mengatakan kejadian ini akan menjadi pelajaran untuk ke depannya. Dia berjanji akan melakukan pengawasan lebih ketat lagi.

"Dengan adanya kejadian itu kami terus tingkatkan keamanan," tutupnya.

Sumber :Kumparan

No comments

Powered by Blogger.