Jokowi: Tak Benar Biaya TKI Pulang Rp 500 Juta, Rapatnya Rp 2,5 M

ilustrasi
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti kinerja kementerian/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah (pemda) yang masih saja membuang-buang anggaran untuk hal-hal yang tidak penting, seperti rapat dan perjalanan dinas.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Menurut dia, kebiasaan tersebut harus sudah diubah pada belanja anggaran pada 2018. Pimpinan K/L dan kepala daerah seharusnya juga bisa melakukan efisiensi ketimbang menghabiskan anggaran hanya untuk belanja pegawai, perjalanan dinas, honor dan kegiatan, serta  rapat.

"Saya berikan contoh, lama diskusi dengan Menteri Tenaga Kerja. Terutama ini yang harus kita mengerti semuanya, ketahui semuanya, di mana sih letak kita harus teliti itu. Telitilah mulai awal sejak penyusunan RKA (rencana kerja anggaran), yang biasanya ada tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan laporan," ujar dia di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (6/12/2017).

Menurut dia, anggaran yang dibelanjakan oleh K/L dan daerah seharusnya langsung mengena pada kegiatan inti, bukan justru lebih besar dihabiskan pada kegiatan pendukung seperti rapat dan perjalanan dinas.

‎"Tapi yang terjadi adalah, mestinya kita yang hadir di sini 100 persen tahu mengenai ini. Yang terjadi adalah penyusunan RKA di K/L atau dinas malah fokus pada kegiatan pendukungnya bukan kegiatan intinya. Belanja pendukung malah jadi yang dominan, sementara belanja inti malah sedikit. Belanja dukungnya 90 persen, belanja intinya malah hanya 10-20 persen. Kebalik-kebalik. Coba lihat RKA, lihat kalau enggak percaya. Hampir 90 persen kita seperti ini," jelas dia.

‎Jokowi mencontohkan, dalam program pemulangan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang alokasi anggarannya mencapai Rp 3 miliar. Dari alokasi sebesar itu, untuk biaya pemulangannya hanya sebesar Rp 500 juta, sedangkan alokasi untuk rapat dan kegiatan pendukung lainnya justru mencapai Rp 2,5 miliar.

"Contohnya, pemulangan TKI. Anggarannya Rp 3 miliar untuk pemulangan TKI. Biaya pemulangan Rp 500 juta, yang Rp 2,5 miliar ini untuk rapat dalam kantor, rapat luar kantor, rapat koordinasi perjalanan daerah dan lain-lain. Ini tidak bisa lagi seperti ini. Ini hampir semuanya model-model seperti ini, di K/L, di daerah, sama. Coba cek satu per satu," dia menuturkan.

Menurut Jokowi, model-model penyusunan RKA seperti ini tidak boleh lagi diterapkan di 2018. Selain itu, pimpinan di K/L dan daerah juga harus tahu persis detail anggaran yang dibelanjakan bawahannya. Dengan demikian, tidak ada lagi anggaran yang dihambur-hamburkan untuk kegiatan yang tidak jelas.

"Terus bagaimana hasilnya? Artinya ini hanya berapa persen. Rp 500 juta artinya hanya berapa persen? 20 persen enggak ada. Model seperti ini harus dihentikan. Tapi, orang harus ngerti manajemen keuangannya yang namanya RKL, RKA K/L apa harus ngerti. Nanti saya akan buka satu per satu. Tak tunjukin yang gamblang ini tadi. Bagaimana mau ada hasil setiap begitu perencanannya. Kalau rencananya sudah seperti ini bagaimana. Secara umum polanya seperti itu, belanja pendukung justru lebih dominan daripada belanja dan inti kegiatan," tandas dia.

Sumber:liputan6

No comments

Powered by Blogger.