Kesepian Membuat TKI Lebih Mudah Terpapar Terorisme

ilustrasi
Tingginya tekanan emosi yang dialami oleh para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) diduga menjadi salah satu faktor mudahnya mereka terjerumus ke dalam aksi kriminal seperti perdagangan narkoba, perempuan bahkan aksi terorisme.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Hal ini diungkapkan Ketua International Migrant Alliance Eni Lestari dalam acara Investigatalk bertemakan “Buruh Migran dalam Pusaran Terorisme”.

Eni menjelaskan, berbeda dengan pekerja Indonesia yang bekerja di negeri sendiri, pekerja Indonesia yang bekerja di luar negeri memiliki tekanan emosional yang lebih tinggi.

“Umumnya mereka kesepian, bekerja 6 hari selama seminggu dan terkurung dalam rumah, mereka merindukan komunikasi,” kata Eni dalam sambungan video call pada Selasa (19/12).

Hal inilah, lanjut Eni, yang membuat para TKI mudah mempercayai sesuatu, tidak terkecuali dengan pemahaman radikal yang mereka dapat melalui media sosial ataupun perkumpulan kelompok TKI.

Apalagi, kata Eni, sejak menguatnya perang di Timur Tengah isu-isu terorisme pun semakin meningkat di kalangan TKI. Biasanya isu-isu ini memang umum di kelompok-kelompok TKI yang bersegmentasi agama. “Tapi biasanya mereka memang hanya sebatas menggalang dana atas kemanusiaan,” kata Eni menambahkan.

Organisasi-organisasi TKI yang bersegmentasi agama pun kata Eni jumlahnya saat ini semakin bertambah di Hongkong. Bahkan mulai banyak beberapa TKI yang memilih menggunakan cadar. “Tapi kita belum bisa memastikan jika mereka terpapar radikalisme,” imbuhnya.

Tapi yang disayangkan, kata Eni, kelompok-kelompok ini banyak yang cenderung menutup diri. Hal ini tentunya membuat International Migrant Allience sulit untuk menjangkau TKI-TKI yang memiliki masalah personal dan pekerjaan yang bersinggungan dengan hukum.

“Dan sedihnya ketika ada satu yang punya problem tidak tertarik untuk selesaikan secara hukum,” jelasnya.

Perlu Pendampingan BNP2TKI

Maka dari itu, kata Eni, terpenting bagi BNP2TKI saat ini ialah bukan saja memberikan informasi ketika mereka masih menjadi calon TKI. Namun, BNP2TKI juga harus bisa hadir ketika mereka justru sudah mulai bekerja di luar negeri.

“Informasi bahaya-bahaya yang akan mereka hadapi ketika di luar negeri itu penting memang, tapi upaya pendampingan setelah mereka di luar negeri jauh lebih menentukan, karena disitu pengalaman mereka muncul, dimana mereka mulai merasa kesepian, tersiksa, hal itu yang membuat mereka mencari-cari ruang hiburan lain,” papar Eni.

Sumber:infonawacita

No comments

Powered by Blogger.