Kontrak Hampir Selesai, TKI Kendal Ditahan

Lusi menceritakan pengalaman di Malaysia keada media didampingi ibunya.sumber photo:krjogja

Dua Gadis asal Kabupaten Kendal ini tidak menyangka sama sekali kalau kepergianya ke Malaysia untuk bekerja harus merasakan pengapnya hotel prodeo. Jalur resmi yang diikuti melali PT SSS justru membuat mereka bersama ratusan TKI lainya merasakan ditahan di negeri orang. Lucia Oktavia (21) warga Desa Lanji Kecamatan Patebon meneteskan air mata saat menceritakan dirinya ditahan 2 bulan.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

"Yang saya sesalkan masa kontrak saya hampir selesai kok ya ada yang melapor ke polisi kalau pekerjaan yang saat ini ditekuni salah penempatan, meski kami mengetahui sejal awal kontrak tidak sesuai namun karena menurut kami satu pemilik maka kami jalani," ujar Lusi saat dilansir dari KRJOGJA di rumahnya, Senin (25/12/2017).

Diakuinya saat awal mencari kerja lulusan SMKN 1 Kendal tersebut ingin bekerja di perusahaan elektronik namun karena tidak ada lowongan oleh PT SSS ditawarkan di perusahaan sarang walet. Sedianya Lusi akan dipekerjakan di  Grand Asia namun akhirnya ditempatkan di Maxim Birdnest Sdn Bhd, perusahaan bergerak dalam bidang yang sama dan masih satu grup.

Kewajiban perusahaan sudah diberikan sesuai dengan ketentuan dan tidak ada yang melanggar. Lusi terus terang geram dengan pelapor yang juga ikut ditahan, pasalnya dirinya dan para senior yang sudah lama bekerja serta hampir selesai masa kontrak harus menghuni rumah tahanan.

Sama dengan Lusi, Hepy Pujiati (19) warga Kalieungu juga bingung dengan keberadaanya selama dua bulan menghuni hotel prodeo. Dirinya hanya menceritakan penggerebekan oleh kepolisian raja Malaysia pada tempat ia berkerja pada Februari 2017 menjadi awal cerita pahitnya.

Baik Hepy maupun Lusi keduanya sudah dipulangkan ke Indonesi bersama 149 TKI bulan Mei 2017 lalu. "Saya itu ke malaysia itu untuk kerja, tidak mencuri, tidak melakukan kejahatan, kenapa saya ditahan dan dimasukkan sel," ujar Hepy.

Hepy saat mencari kerja tertarik dengan perusahaan kosmetik, namun karena sudah niat bekerja dan ditawari perusahaan sarang burung walet maka ia pun tidak menolak. Meski hal yang dijanjikan tidak sesuai dengan harapan, dirinya tidak mempermasalahkan hal itu.

Saat itu ia merasa nyaman bekerja di pabrik sarang walet dan tetap bekerja sampai 7 bulan lamanya. "Makan dijamin, yaitu 3 kali sehari. Kerja hanya 8 jam ditambah 2 jam lembur dan liburnya tiap hari Minggu, gajinya setelah bekerja enam bulan naik jadi 1.000 Ringgit (Rp 3 juta rupiah) dan tidak ada sama sekali penyiksaan ataupun paksaan" jelas Hepy. 

Sumber:krjogja

No comments

Powered by Blogger.